AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Menag Ungkap Faktor-faktor yang Bisa Picu Perceraian Rumah Tangga

Published September 10, 2026 · Updated September 10, 2026 · By Rizki Pratama - amalzakat.com

Beragam Perbedaan dalam Rumah Tangga Dapat Berujung pada Perceraian

Amalzakat.com – Ketahanan sebuah perkawinan dapat terganggu oleh persoalan yang jauh lebih luas daripada kesulitan keuangan atau perselingkuhan. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti sedikitnya delapan kondisi yang berpotensi memicu keretakan hubungan suami istri, mulai dari perbedaan usia, latar pendidikan, kesehatan, hingga pilihan politik.

Hal itu disampaikan Nasaruddin ketika membuka National Symposium of Penghulu and Ulama (Nasuha) 2026 di Pondok Buntet Pesantren, Cirebon, Rabu (9/9/2026). Ia menekankan bahwa perceraian bukan semata persoalan pribadi dua orang, karena dampaknya dapat meluas ke kehidupan sosial.

“Ada banyak penyebab perceraian berarti sekian banyak orang menjadi janda itu problem sosial di Indonesia, Bapak-Ibu sekalian,” ujar Nasaruddin.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa konflik keluarga kerap terbentuk dari sejumlah persoalan yang saling berkaitan. Karena itu, penguatan kesiapan pasangan sebelum menikah menjadi bagian penting dalam upaya mencegah konflik berkembang menjadi perceraian.

Ekonomi dan Perselingkuhan Tetap Menjadi Perhatian

Faktor ekonomi masih masuk dalam daftar persoalan yang sering menguji hubungan keluarga. Tanggung jawab nafkah yang tidak berjalan baik dapat menimbulkan tekanan, kesalahpahaman, serta pertengkaran antara pasangan. Dalam situasi seperti itu, kemampuan berdialog dan membagi peran menjadi penting untuk menjaga hubungan tetap sehat.

Perselingkuhan juga disebut sebagai persoalan serius dalam rumah tangga. Nasaruddin menyatakan bahwa fenomena tersebut kini tidak hanya kerap dilekatkan kepada laki-laki.

“Perselingkuhan dahulu didominasi laki-laki, sekarang data menunjukkan perempuan juga banyak yang berselingkuh,” katanya.

Ia turut menyinggung survei yang pernah dimuat Majalah Gatra mengenai perselingkuhan di kalangan perempuan eksekutif muda. Persoalan ini dapat merusak kepercayaan, yang merupakan salah satu fondasi utama dalam kehidupan perkawinan.

Kesenjangan Usia, Pendidikan, dan Kondisi Kesehatan

Selain masalah ekonomi dan kesetiaan, jarak usia yang terlalu lebar dapat memengaruhi kelangsungan rumah tangga. Perbedaan pengalaman hidup, kebutuhan, serta cara memandang masa depan dapat menjadi tantangan apabila pasangan tidak membangun pemahaman bersama.

Perbedaan jenjang pendidikan juga perlu dikelola dengan matang. Nasaruddin memberi gambaran mengenai pasangan dengan latar pendidikan yang sangat berbeda, seperti istri berprofesi sebagai dokter sementara suami belum menyelesaikan pendidikan sarjana, atau keadaan sebaliknya.

“Perbedaan jenjang pendidikan, misalnya istri seorang dokter sementara suami tidak tamat S-1, atau sebaliknya,” tuturnya.

Perbedaan pendidikan tidak otomatis menyebabkan perceraian. Namun, kondisi itu dapat memicu persoalan apabila berkembang menjadi rasa rendah diri, dominasi dalam pengambilan keputusan, atau ketidakmampuan menghargai kapasitas pasangan.

Nasaruddin juga memasukkan kondisi fisik dan penyakit tertentu sebagai faktor yang dapat menguji ketahanan perkawinan. Ia menyebut dampak kecelakaan yang menyebabkan gangguan fungsi organ, serta penyakit yang muncul pada usia muda, termasuk impotensi.

“Cacat tubuh dan penyakit, termasuk akibat kecelakaan yang menyebabkan disfungsi organ, serta penyakit seperti impotensi di usia muda,” ujarnya.

Situasi kesehatan seperti ini membutuhkan dukungan emosional, keterbukaan, dan kesiapan pasangan untuk menghadapi perubahan dalam kehidupan bersama. Konflik dapat membesar ketika persoalan tersebut dipendam atau tidak ditangani secara dewasa.

Hukuman Penjara dan Perbedaan Politik

Masa hukuman penjara yang panjang turut disebut sebagai kondisi yang berisiko mengganggu keutuhan keluarga. Pasangan dari seseorang yang menjalani pidana lebih dari tiga tahun, kata Nasaruddin, tidak sedikit yang akhirnya mengajukan perceraian. Keadaan serupa dapat muncul dalam keluarga narapidana kasus terorisme yang harus menjalani hukuman dalam waktu lama.

Faktor lain yang menarik perhatian adalah perbedaan pilihan politik antara suami dan istri. Perbedaan pandangan politik seharusnya dapat menjadi bagian wajar dalam kehidupan demokratis. Namun, apabila dibawa ke konflik personal dan tidak disikapi dengan saling menghormati, masalah tersebut dapat mengganggu relasi keluarga.

“Perbedaan pilihan politik, pernah terjadi sekitar 500 kasus perceraian di satu provinsi akibat suami-istri berbeda pilihan calon kepala daerah, sampai ke tingkat pengadilan dengan anak sebagai saksi,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa momentum pemilihan presiden, pemilihan eksekutif, maupun legislatif dapat menyumbang ketegangan di dalam rumah tangga ketika pasangan tidak mampu mengelola perbedaan pilihan secara bijak.

“Hati-hati kalau ada pemilihan presiden, pemilihan eksekutif, legislatif itu ternyata juga menyumbang perceraian,” kata Nasaruddin. “Begitu rapuhnya sebuah perkawinan,” lanjutnya.

Penguatan Keluarga Sejak Sebelum Pernikahan

Ragam persoalan itu memperlihatkan bahwa pencegahan perceraian tidak cukup dimulai saat konflik telah terjadi. Calon pasangan perlu memiliki bekal untuk mengenali tantangan yang mungkin muncul setelah menikah, termasuk cara berkomunikasi, mengelola perbedaan, dan mencari bantuan ketika menghadapi masalah.

Nasuha 2026 menjadi salah satu ruang pembahasan untuk memperkuat tujuan tersebut. Forum yang mempertemukan penghulu dan ulama itu membicarakan strategi membangun keluarga sakinah dan maslahah, sekaligus membuka kesempatan untuk bertukar pengalaman serta praktik baik dalam layanan keluarga.

Isu ketahanan perkawinan, konseling keluarga, dan perlindungan perempuan menjadi bagian dari perhatian dalam forum tersebut. Penguatan layanan dan pendampingan keluarga diharapkan dapat membantu pasangan menghadapi persoalan sebelum konflik berkembang menjadi perpisahan yang berdampak luas bagi keluarga, terutama anak-anak.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Menag Ungkap Faktor faktor yang Bisa?

Menag Ungkap Faktor faktor yang Bisa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menag Ungkap Faktor faktor yang Bisa matter?

Menag Ungkap Faktor faktor yang Bisa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.