AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Nasdem Usul Parliamentary Threshold 7 Persen demi Efektivitas Parlemen

Published September 20, 2026 · Updated September 20, 2026 · By Joko Wibowo - amalzakat.com

Foto : Joko Wibowo - amalzakat.com

NasDem Dorong Ambang Batas Parlemen Naik Menjadi 7 Persen

Amalzakat.com – Usulan kenaikan ambang batas parlemen kembali mengemuka dalam pembahasan revisi Undang-Undang Pemilihan Umum (UU Pemilu). Ketua Umum DPP Partai NasDem Surya Paloh mengajukan angka 7 persen sebagai batas minimal perolehan suara nasional bagi partai politik untuk mendapatkan kursi di DPR.

Gagasan tersebut disampaikan Paloh setelah menerima kunjungan Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi di NasDem Tower, Jakarta, Sabtu (19/9/2026). NasDem melihat peningkatan parliamentary threshold sebagai salah satu jalan untuk membuat komposisi partai di parlemen lebih sederhana dan kerja demokrasi lebih efektif.

Bagi kami, penyederhanaan partai itu jelas lebih efektif untuk jalan demokrasi kita dibandingkan dengan sistem multipartai.

Ambang batas parlemen merupakan ketentuan yang menentukan apakah suara sebuah partai dapat dikonversi menjadi kursi DPR. Partai yang perolehan suaranya berada di bawah angka batas nasional tidak ikut dalam pembagian kursi DPR, meskipun tetap dapat memperoleh suara di berbagai daerah. Karena itu, perubahan angka threshold selalu menjadi isu penting dalam desain sistem pemilu.

Siap Menanggung Risiko Politik

Paloh menegaskan bahwa angka 7 persen tetap menjadi pilihan NasDem, meski sejumlah survei menempatkan elektabilitas partainya di kisaran 4 persen. Ia menyatakan kepentingan sistem politik nasional harus ditempatkan di atas pertimbangan keuntungan langsung bagi partai.

Dengan sikap tersebut, Paloh mengakui adanya risiko bagi NasDem apabila aturan baru nantinya diterapkan dan partai tidak memenuhi batas suara untuk masuk Senayan. Namun, ia menilai keputusan akhir tetap harus dibentuk melalui mekanisme politik dan suara mayoritas dalam pembahasan undang-undang.

Sejujurnya saya katakan itulah keinginan saya sebagai ketua umum Partai Nasdem. Namun, apa pun hasilnya nanti, suara terbanyak yang menentukan.

Wacana penyederhanaan partai di parlemen memiliki dampak langsung terhadap pembentukan koalisi, proses legislasi, serta hubungan antara DPR dan pemerintah. Jumlah fraksi yang lebih sedikit dapat membuat proses pengambilan keputusan lebih terarah. Di sisi lain, kenaikan ambang batas juga menjadi perhatian karena berpotensi mengurangi peluang partai dengan basis dukungan lebih kecil untuk memperoleh representasi di tingkat nasional.

Revisi UU Pemilu Dinilai Mendesak

Paloh meminta revisi UU Pemilu ditempatkan sebagai salah satu prioritas pembentukan undang-undang yang perlu dituntaskan pada 2026. Baginya, aturan pemilu bukan sekadar persoalan teknis penyelenggaraan, melainkan bagian dari penentuan arah strategis bangsa.

Pembahasan Rancangan Undang-Undang Pemilihan Umum (RUU Pemilu) akan menjadi ruang bagi partai-partai untuk memperdebatkan angka yang paling tepat. NasDem tetap membuka peluang dialog dengan kekuatan politik lain guna mencari titik temu. Artinya, angka 7 persen yang diajukan Paloh merupakan posisi awal yang masih dapat dibicarakan dalam proses legislasi.

Perdebatan mengenai threshold juga berkaitan dengan keseimbangan antara efektivitas pemerintahan dan keterwakilan pemilih. Sistem dengan banyak partai di parlemen dapat menghadirkan lebih banyak pilihan politik, tetapi pembentukan kesepakatan bisa menjadi lebih rumit. Sebaliknya, batas yang lebih tinggi dapat mendorong konsolidasi partai, namun suara pemilih kepada partai yang tidak lolos ambang batas tidak akan menghasilkan kursi DPR.

Respons Beragam dari Partai Politik

Usulan NasDem belum menjadi pandangan bersama di antara partai politik. Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra Sugiono menyampaikan persetujuan partainya terhadap parliamentary threshold sebesar 5 persen. Angka tersebut berada di bawah usulan NasDem, tetapi tetap menunjukkan dorongan untuk menaikkan batas dari 4 persen.

Ketua Bidang Kehormatan DPP PDI Perjuangan Komarudin Watubun juga memandang 5 persen sebagai angka yang ideal untuk menyederhanakan jumlah partai di parlemen. Kesamaan posisi Gerindra dan PDI Perjuangan pada angka tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan revisi UU Pemilu akan berfokus pada pilihan antara mempertahankan batas saat ini, menaikkannya secara moderat, atau mengambil langkah lebih jauh hingga 7 persen.

Sikap berbeda datang dari Wakil Ketua Umum DPP PAN Viva Yoga Mauladi. PAN menyatakan keberatan apabila ambang batas dinaikkan melampaui 4 persen. Keberatan itu dikaitkan dengan potensi persoalan terhadap putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

Perbedaan pandangan ini menandakan belum adanya konsensus mengenai formula pemilu yang akan dipilih. Selain besaran threshold, pembahasan RUU Pemilu juga penting karena akan menentukan kepastian aturan bagi partai politik, penyelenggara pemilu, dan pemilih sebelum tahapan pemilu berikutnya dimulai.

Makna Angka 7 Persen bagi Sistem Politik

Jika ambang batas 7 persen disepakati, partai politik perlu mengumpulkan dukungan nasional yang lebih besar untuk dapat mengirim wakil ke DPR. Kondisi itu dapat mendorong partai membangun organisasi, program, dan basis pemilih yang lebih luas. Kemungkinan lain adalah menguatnya kerja sama atau penggabungan kekuatan politik sebelum pemilu.

Namun, penetapan angka tersebut membutuhkan pertimbangan yang cermat. Aturan pemilu harus mampu menjaga legitimasi perwakilan rakyat sekaligus membantu parlemen bekerja secara efektif. Karena itu, pembahasan di DPR nantinya tidak hanya menyangkut kepentingan partai peserta pemilu, tetapi juga pilihan publik tentang bentuk demokrasi representatif yang diinginkan.

Usulan Surya Paloh menambah opsi dalam perdebatan yang sedang berjalan: NasDem menawarkan 7 persen, Gerindra dan PDI Perjuangan mengarah pada 5 persen, sedangkan PAN mempertahankan keberatan terhadap kenaikan di atas 4 persen. Hasil pembahasan RUU Pemilu akan menentukan angka akhir yang digunakan, termasuk dampaknya terhadap peta partai dan representasi politik di Senayan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Nasdem Usul Parliamentary Threshold 7 Persen?

Nasdem Usul Parliamentary Threshold 7 Persen is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Nasdem Usul Parliamentary Threshold 7 Persen matter?

Nasdem Usul Parliamentary Threshold 7 Persen matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.