AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: PDIP Soroti Anjloknya Rupiah pada Peringatan Hari Pancasila

Published Juni 1, 2026 · Updated Juni 1, 2026 · By Rizki Maulana

PDIP Soroti Anjloknya Rupiah pada Peringatan Hari Pancasila

New Policy - Dalam acara perayaan hari lahir Pancasila yang diadakan di kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026), PDIP menyoroti isu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Isu ini menjadi sorotan utama dalam momentum peringatan ke-72 Pancasila, yang sekaligus menjadi ajang diskusi mengenai kebijakan ekonomi nasional.

Kondisi Ekonomi yang Mengkhawatirkan

Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menyoroti dampak negatif dari pelemahan rupiah yang terus berlangsung. Menurutnya, situasi ini telah memicu berbagai tantangan ekonomi yang terasa langsung oleh masyarakat. “Kenaikan harga kebutuhan pokok, meningkatnya angka kemiskinan, kesulitan mencari pekerjaan, dan PHK menjadi fenomena yang mengkhawatirkan,” ujar Hasto.

Kondisi ini tidak hanya mengganggu kehidupan sehari-hari rakyat, tetapi juga memperberat beban utang pemerintah, sehingga muncul kecenderungan ‘gali lubang tutup lubang’ dalam pengelolaan keuangan negara.

Hasto menegaskan bahwa pelemahan rupiah berdampak pada kemampuan masyarakat menikmati hasil pembangunan. Dia menyoroti bahwa kebijakan fiskal saat ini dinilai belum sepenuhnya berpihak pada rakyat kecil. “Kita perlu memastikan bahwa kebijakan ekonomi selalu berlandaskan prinsip keadilan dan kesejahteraan,” tambahnya.

Konsepfiscal Resilience untuk Masa Depan

Dalam kesempatan tersebut, PDIP mengusulkan konsep fiscal resilience atau ketahanan fiskal sebagai upaya memperkuat daya tahan perekonomian nasional. Hasto mengungkapkan bahwa konsep ini perlu diimplementasikan melalui kebijakan belanja negara yang lebih terarah pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Ketahanan fiskal ini bukan sekadar tentang anggaran, tetapi juga tentang keberpihakan terhadap kebutuhan rakyat. Kebijakan yang ada saat ini, menurut Hasto, masih terasa kurang responsif terhadap permasalahan masyarakat yang kian mengguncang.

Hasto berharap konsep tersebut dapat menjadi jalan untuk mengurangi risiko krisis ekonomi di masa depan. “Dengan fokus pada kebutuhan pokok, kita bisa mencegah keluhan masyarakat memburuk,” ujarnya. Ia menekankan bahwa Pancasila seharusnya menjadi landasan utama dalam merumuskan kebijakan yang mengutamakan kesejahteraan rakyat.

Sorotan pada Lagu Sejarah PDIP

Di samping isu ekonomi, Hasto juga menyampaikan pandangan terkait lagu berjudul "Bung Karno Bapak Marhaenisme" yang kini diwajibkan diputar dalam berbagai agenda internal PDIP. Lagu ini dianggap sebagai upaya memperkuat narasi sejarah partai, khususnya dalam konteks memperjelas peran Bung Karno dalam membentuk ideologi marhaenisme.

Lagu tersebut, menurut Hasto, menjadi pengingat bahwa PDIP harus konsisten membela rakyat kecil dari belenggu kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Dengan spirit lagu ini, kita bisa mengembalikan semangat perjuangan partai yang sejak awal bertujuan mensejahterakan masyarakat.

Hasto menilai bahwa perayaan Hari Pancasila tahun ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali prinsip-prinsip dasar bangsa. “PDIP tidak hanya berbicara tentang kekuasaan, tetapi juga tentang keberpihakan terhadap rakyat. Lagu ini adalah simbol dari semangat perjuangan yang tetap hidup,” jelasnya.

Konteks Internasional dan Nasional

Dalam diskusi, Hasto juga menyinggung kondisi ekonomi global yang berdampak pada perekonomian Indonesia. Ia mengkritik kemerosotan kualitas pendidikan nasional, yang menurutnya menyebabkan ketertinggalan dibandingkan negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. “Kita harus mencegah kondisi ini berlanjut, karena pendidikan berkualitas adalah salah satu kunci pembangunan,” tegas Hasto.

PDIP juga mengingatkan bahwa kebijakan ekonomi harus dibangun dengan perspektif nasional. Hasto menekankan bahwa penguasaan ekonomi oleh pemerintah harus diimbangi dengan keadilan sosial. “Jika kita tidak mengimbangi pendapatan dengan pengeluaran yang tepat, maka rakyat akan terus merasa tertekan,” ujarnya.

Sebagai bagian dari perayaan, PDIP mengharapkan bahwa isu-isu yang disoroti dalam acara ini bisa menjadi bahan refleksi bagi seluruh elemen masyarakat. Ia menilai bahwa Pancasila, sebagai fondasi negara, harus diimplementasikan secara konsisten dalam kebijakan maupun tindakan-tindakan politik.

Gerakan Perubahan yang Membawa Harapan

Menurut Hasto, perayaan Hari Pancasila menjadi ajang untuk menegaskan komitmen PDIP dalam mengangkat suara rakyat. Ia menambahkan bahwa isu pelemahan rupiah dan krisis ekonomi harus menjadi perhatian utama dalam agenda pemerintah. “Kita harus bersiap menghadapi berbagai tantangan, dan itu bisa dimulai dengan kebijakan yang lebih inklusif,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, PDIP juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat dalam mengatasi krisis ekonomi. Hasto mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak bisa tercapai tanpa partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat.

Di samping itu, PDIP menyoroti perluasan isu-isu ekonomi ke berbagai aspek kehidupan. Dari kenaikan harga kebutuhan pokok hingga permasalahan pendidikan, PDIP berharap perhatian pemerintah dan masyarakat bisa lebih terarah. “Kita harus mengubah paradigma, agar kebijakan tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Dalam rangkaian acara tersebut, PDIP juga menunjukkan komitmen untuk memperkuat keberpihakan pada rakyat. Hasto berharap, melalui konsep fiscal resilience dan sorotan pada lagu sejar