Agenda Utama: Perang Iran Dorong Teluk Cari Sekutu Baru, Apa Kabar “NATO Muslim”?
Perang Iran Dorong Teluk Cari Sekutu Baru, Apa Kabar “NATO Muslim”?
Setelah perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mengguncang keseimbangan keamanan kawasan dan merusak perekonomian, negara-negara Teluk mulai mengevaluasi ulang kebijakan pertahanan mereka. Stabilitas wilayah dan kerusakan ekonomi menjadi faktor yang mendorong perubahan strategi. Para pemimpin kawasan mengakui bahwa ancaman dari Iran masih terasa mengkhawatirkan, terutama mengingat sisa arsenal rudal yang dimiliki negara tersebut.
Pangkalan militer AS di wilayah Teluk bahkan membuat negara-negara itu menjadi sasaran serangan balasan Iran setelah operasi gabungan Washington dan Tel Aviv. Namun, keberadaan fasilitas perairan vital seperti Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama, karena negara-negara Teluk menolak Iran mempertahankan kendali atas jalur tersebut.
Dalam kesepakatan gencatan senjata pekan ini, Iran bersikeras mempertahankan posisi yang diambil selama perang, yang berpotensi mengizinkan Teheran menekan negara-negara Teluk sewaktu-waktu. Masa depan Selat Hormuz menjadi sengketa utama dalam perundingan antara AS dan Iran di Islamabad, yang akan dimulai segera pada Jumat. Negara-negara Teluk menegaskan keberhasilan mereka dalam mencegah sebagian besar serangan rudal dan drone Iran selama lima pekan konflik, sebagai bukti kemampuan mereka untuk bertahan.
Beberapa ahli menilai bahwa negara-negara Teluk terpecah dalam menentukan arah hubungan ke depan dengan Iran. Kelompok yang lebih keras berada di bawah Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain, sementara negara lain mengharapkan penyelesaian ketegangan melalui hubungan yang diperbarui dengan Teheran. Media Iran pada Rabu menuduh UEA mungkin berada di balik serangan terhadap fasilitas minyak di Pulau Lavan, beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata, dan Iran disebut melakukan pembalasan. Jika benar, ini menjadi satu-satunya tindakan ofensif yang diketahui dari negara Teluk selama konflik.
Pertemuan Arab Saudi dan Iran
Arab Saudi dan Iran melakukan kontak resmi pertama sejak awal konflik pada Kamis melalui percakapan telepon antara menteri luar negeri kedua negara. Mereka membahas langkah-langkah untuk mengurangi ketegangan dan memulihkan kondisi keamanan serta stabilitas daerah. Profesor di Kuwait University, Bader Mousa Al-Saif, menyarankan bahwa negara-negara Teluk perlu meninjau ulang arsitektur keamanan mereka dengan menjalin kemitraan dengan negara-negara seperti Turki dan kekuatan menengah lainnya, bukan hanya bergantung pada AS.
“Ini menjadi kewajiban semua negara di kawasan untuk memikirkan ulang modelnya,” kata Al-Saif, dilansir The Guardian, Jumat (10/4/2026). “Pertanyaannya adalah bagaimana melindungi kawasan secara keseluruhan dari terjerumus ke dalam perang tanpa akhir.”
Langkah menuju kemitraan baru dengan Turki dan Pakistan sebenarnya sudah terlihat sebelum perang. Selama beberapa bulan terakhir, Arab Saudi meneken pakta pertahanan dengan Pakistan, sementara UEA mengumumkan kemitraan dengan India. Negara-negara seperti Arab Saudi, UEA, dan Qatar juga menandatangani perjanjian pertahanan dengan Ukraina untuk menghadapi ancaman drone Iran.
Gagasan membentuk “NATO Muslim” sempat muncul, tetapi dianggap sulit terwujud. Penyelarasan baru yang terbentuk pada Maret melibatkan Arab Saudi, Turki, Mesir, dan Pakistan dalam format yang disebut “Step”. Namun, rivalitas antar-negara serta ketidakjelasan apakah fokus utamanya menghadapi Iran atau Israel membuat hubungan ini rumit. Turki dan Pakistan juga berbatasan langsung dengan Iran dan tidak ingin konfrontasi dengan Teheran.
Inggris, yang membantu mempertahankan keamanan Teluk selama perang, juga bisa terlibat lebih dalam. Saat tiba di Jeddah pada Rabu, Perdana Menteri Keir Starmer membahas dengan putra mahkota Arab Saudi tentang kemungkinan meningkatkan kerja sama industri pertahanan untuk memperkuat kemampuan keamanan bersama. Profesor ilmu politik di Uni Emirat Arab, Abdulkhaleq Abdulla, memperkirakan hubungan keamanan dengan AS akan makin dalam, sekaligus lebih banyak negara mengikuti langkah UEA dalam menjalin hubungan dengan Israel, termasuk kerja sama militer dan intelijen.
UEA disebut paling terdampak oleh serangan Iran, dengan menjadi target 2.256 drone selama perang. Namun, penyesuaian strategi dan penjalinan kemitraan baru diharapkan mampu mengurangi risiko terus-menerus dari ancaman Teheran.


