Hasil Pertemuan: Trump “Kemakan” Omongan Netanyahu, Kini Pusing Sendiri di Perang Iran
Trump ‘Kemakan’ Omongan Netanyahu, Kini Pusing Sendiri di Perang Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menurut analisis, terpengaruh oleh narasi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait kemungkinan perang cepat melawan Iran. Konflik yang dimulai pada 7 Oktober 2023 ini justru semakin rumit dan berlangsung lebih lama dari diperkirakan. Pertemuan Trump dan Netanyahu di Mar-a-Lago pada 29 Desember lalu menjadi momen kunci, di mana Netanyahu memberikan argumen kuat agar AS terlibat dalam perang dengan Teheran.
Dalam sesi konferensi pers bersama Netanyahu, Trump menyatakan bahwa Iran sedang memulihkan kekuatannya, sehingga perlu dihancurkan. Namun ia juga menegaskan harapan agar konflik tidak meletus. “Sekarang saya mendengar bahwa Iran mencoba untuk membangun kembali kekuatannya. Maka kita harus menjatuhkan mereka. Kita akan menghancurkan mereka. Tapi mudah-mudahan, itu tidak terjadi,” kata Trump dalam pernyataan tersebut.
“Sekarang saya mendengar bahwa Iran mencoba untuk membangun kembali kekuatannya. Maka kita harus menjatuhkan mereka. Kita akan menghancurkan mereka. Tapi mudah-mudahan, itu tidak terjadi,”
Netanyahu disebut menggunakan pendekatan pribadi untuk memengaruhi Trump, seperti menawarkan penghargaan besar dan proyek strategis. Ia berargumen bahwa kemenangan atas Iran dapat mengurangi ketergantungan Israel terhadap bantuan militer AS. Komunikasi intensif terus berlangsung, dengan Israel berupaya memastikan keterlibatan penuh AS dalam pertarungan besar melawan Iran.
Menurut intelijen Israel, rezim Teheran dianggap rapuh dan rentan terhadap tekanan internal. Namun fakta di lapangan menunjukkan kebalikannya. Perang dianggap belum mencapai titik balik, dengan Israel terlalu optimistis mengenai durasi dan dampak konflik. Diperkirakan ancaman Iran bisa dihentikan dalam beberapa hari, sementara militer AS bersiap skenario pertempuran maksimal tiga minggu. Kini, perang memasuki bulan kedua tanpa tanda-tanda mereda.
Konflik ini juga menjadi bagian dari eskalasi regional yang melibatkan Gaza, Lebanon, serta Iran dan Hezbollah. Meski sejumlah tokoh Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, dilaporkan gugur, strategi “decapitation” belum menghasilkan perubahan sistematis seperti yang dijanjikan Netanyahu. Sebaliknya, kekuatan Iran justru terkonsolidasi, terutama melalui Garda Revolusi.
Dalam internal AS, muncul keraguan terhadap klaim Netanyahu. Seorang pejabat AS menyatakan bahwa Netanyahu, yang dikenal sebagai “Bibi,” terlalu meyakinkan Trump bahwa perang akan mudah dan peluang pergantian rezim tinggi. “Bibi benar-benar meyakinkan presiden bahwa itu mudah, bahwa perubahan rezim jauh lebih mungkin terjadi daripada kenyataannya,” ungkap sumber tersebut.
Mantan diplomat AS Daniel C. Kurtzer dan Aaron David Miller menilai bahwa Trump bukan hanya terpengaruh, tetapi juga menjadi “mitra aktif” dalam perang tersebut. Konsekuensi dari perang kini menyentuh perekonomian global, dengan penutupan Selat Hormuz mengganggu pasokan energi dan perdagangan internasional. Analis menyebut konflik ini telah menelan biaya miliaran dolar dan menekan persediaan senjata canggih AS.



