Kebijakan Baru: AS-Israel Kompak “Gebuki” Iran, Teheran Ternyata Simpan Kejutan

Ads
RumahBerkat - Post

AS-Israel Kompak “Gebuki” Iran, Teheran Ternyata Simpan Kejutan

Perang antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran disebut berhasil menghancurkan kapasitas militer Teheran, terutama dalam penggunaan rudal dan drone. Namun, analisis dari para ahli menunjukkan bahwa Iran masih mampu mengganggu wilayah Timur Tengah secara signifikan. Gedung Putih mengklaim bahwa kemampuan rudal balistik Iran telah terganggu, sementara angkatan laut mereka dianggap tidak efektif dalam pertempuran. Dominasi udara atas Iran juga dinilai lengkap, menurut laporan Al Jazeera.

Operasi yang dinamakan “Operation Epic Fury” mulai berjalan sejak 28 Februari, dan Presiden Donald Trump menyatakan bahwa pasukan AS berhasil merusak kapasitas produksi drone Iran. Meski demikian, situasi di lapangan menunjukkan bahwa ancaman masih terjadi. Qatar melaporkan berhasil menangkap rudal terbaru Iran, sementara negara-negara Teluk seperti Saudi Arabia, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain juga memberikan peringatan. Sebuah rudal bahkan jatuh di mobil di Abu Dhabi, menewaskan satu orang, menunjukkan bahwa ancaman tidak sepenuhnya hilang.

Intensitas Serangan Turun Drastis

Dalam beberapa hari awal konflik, Iran meluncurkan 167 rudal dan 541 drone ke UEA. Namun, data dari Kementerian Pertahanan UEA menunjukkan bahwa jumlah serangan menurun drastis menjadi hanya empat rudal dan enam drone pada hari ke-15. Institut untuk Studi Keamanan Nasional juga mencatat bahwa serangan terhadap Israel berkurang dari hampir 100 proyektil dalam dua hari pertama menjadi satu digit dalam beberapa hari terakhir.

“Kemampuan rudal balistik Iran telah hancur secara fungsional. Angkatan laut mereka dinilai tidak efektif dalam pertempuran. Dominasi udara yang lengkap dan total atas Iran,”

Pentagon menyebutkan bahwa peluncuran rudal turun hingga 90% dari hari pertama, sementara serangan drone berkurang 86%. Iran memiliki persediaan rudal terbesar di kawasan tersebut, dengan intelijen AS melaporkan bahwa pada 2022, Iran memiliki inventaris terbesar di Timur Tengah. Angka estimasi Israel menyebutkan Teheran menyimpan sekitar 3.000 rudal, yang turun menjadi 2.500 setelah perang 12 hari pada Juni lalu.

Ads
RumahBerkat - Post

Perang Jangka Panjang

Para ahli menilai bahwa Iran kini beralih ke strategi perang jangka panjang. Peneliti dari German Institute for International and Security Affairs, Hamidreza Azizi, mengatakan bahwa negara itu berusaha membuat lawan kehabisan daya tahan lebih dulu. “Mungkin ada ketertarikan untuk menjadikan ini perang gesekan,” ujarnya.

Iran juga mendesentralisasi sistem peluncuran rudal dengan mengandalkan peluncur bergerak yang lebih sulit dideteksi. “Ini adalah perlombaan tentang waktu,” kata Azizi. Menurut akademisi dari Doha Institute for Graduate Studies, Muhanad Seloom, ancaman Iran tidak bergantung pada jumlah serangan. “Tidak masalah berapa banyak yang Anda luncurkan selama Anda mempertahankan ancaman,” tambahnya.

Strategi utama AS-Israel adalah menghancurkan peluncur rudal Iran. Pernyataan dari pejabat militer Israel menyebutkan bahwa sekitar 290 peluncur dari total 410 hingga 440 unit telah dinonaktifkan. Namun, luasnya wilayah Iran membuat penghancuran total sulit dicapai. Profesor dari National Defense University, David Des Roches, menegaskan bahwa keterbatasan intelijen di lapangan menjadi hambatan utama. “Tidak mudah untuk mengidentifikasi peluncurnya. Yang kita lihat adalah rudal yang ditempatkan di tempat tersembunyi atau area non-militer sebelum perang, ketika pengawasan masih minim,” katanya.