AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Banjir Agam Rendam Permukiman, 450 Warga Mengungsi

Published Juli 19, 2026 · Updated Juli 19, 2026 · By Intan Hidayat - amalzakat.com

Foto : Intan Hidayat - amalzakat.com

Banjir Agam Rendam Permukiman 450 Warga di Sumatera Barat

amalzakat.com – Kabupaten Agam di Provinsi Sumatera Barat kembali menghadapi bencana banjir yang berdampak luas pada kehidupan masyarakat setempat. Peristiwa banjir ini terjadi di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, di mana derasnya aliran sungai dan tingginya curah hujan memaksa ratusan penduduk untuk meninggalkan hunian mereka. Warga setempat memilih berpindah ke tempat yang lebih tinggi dan aman dari jangkauan air yang terus meluap.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari BPBD Agam, sebanyak 450 orang warga telah memutuskan untuk mengungsi. Menariknya, sebagian besar mereka tidak pergi ke tempat penampungan resmi, melainkan memilih untuk tinggal sementara di rumah-rumah kerabat yang lokasinya berada di area tidak terendam banjir. Abdul Ghafur, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam, memberikan penjelasan lengkap mengenai situasi terkini kepada para wartawan.

Sebanyak 450 warga mengungsi ke rumah kerabat yang aman dari banjir, kata Abdul Ghafur di Lubuk Basung, Minggu (19/7/2026).

Evakuasi dan Korban Terjebak

Selain para pengungsi yang sudah berpindah, ada juga sejumlah warga yang sempat terjebak di dalam rumah mereka. BPBD mencatat bahwa setidaknya 20 keluarga atau setara dengan 60 jiwa mengalami kesulitan keluar karena arus air yang deras dan genangan yang tinggi. Proses evakuasi ini melibatkan berbagai elemen masyarakat dan instansi pemerintah yang bekerja sama dengan baik.

Abdul Ghafur menambahkan bahwa tidak semua warga menunggu bantuan dari luar. Sebagian dari mereka berhasil menyelamatkan diri sendiri dengan berjalan kaki menuju tempat yang lebih tinggi. Sementara itu, warga yang terjebak dievakuasi oleh tim gabungan yang terdiri dari BPBD Agam, Basarnas, Palang Merah Indonesia (PMI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Tentara Nasional Indonesia (TNI), serta unsur-unsur lainnya yang terlibat dalam penanganan bencana.

Korban sudah melakukan evakuasi mandiri dan sebagian dievakuasi oleh tim gabungan, ujar Abdul Ghafur.

Wilayah yang terdampak tidak hanya terbatas pada Nagari Sungai Batang saja. Banjir juga merendam kawasan Jorong Labuah yang berada di sekitar lokasi tersebut. Di Jorong Labuah, tercatat sedikitnya 20 rumah terendam air dengan ketinggian mencapai sekitar 70 sentimeter. Kondisi ini memaksa sekitar 250 warga di wilayah tersebut untuk juga mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Penyebab utama banjir kali ini adalah hujan deras yang mengguyur wilayah Agam sejak Sabtu sore hingga memasuki malam hari. Curah hujan yang tinggi membuat Sungai Batang Tumayo meluap dan menggenangi permukiman warga di sekitarnya. Air sungai yang meluap ini kemudian menyebar ke berbagai rumah dan jalan di kawasan tersebut.

Menurut Abdul Ghafur, fenomena banjir di kawasan ini bukanlah hal yang baru. Wilayah tersebut memang kerap dilanda banjir setiap tahunnya. Hal ini disebabkan oleh pendangkalan sungai yang terjadi setelah banjir bandang besar melanda wilayah Agam pada akhir November 2025. Pendangkalan tersebut mengurangi kapasitas sungai untuk menampung air hujan, sehingga ketika hujan deras turun, air cenderung meluap ke daratan.

Ini merupakan banjir yang sering terjadi karena sungai mengalami pendangkalan pasca-banjir bandang, katanya.

BPBD Agam memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa banjir kali ini. Hingga air mulai surut, sebagian warga sudah mulai kembali ke rumah masing-masing untuk memeriksa kerusakan dan membersihkan rumah mereka. Namun, pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan.

Masyarakat yang tinggal di sekitar daerah aliran sungai diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan, terutama jika hujan deras kembali mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari ke depan. BPBD juga mengingatkan warga agar segera mengungsi ke tempat yang lebih aman apabila curah hujan tinggi berpotensi memicu banjir susulan. Situasi ini menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana alam yang dapat terjadi kapan saja, terutama di wilayah yang memiliki riwayat banjir berulang.