AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: Mendikdasmen Targetkan Revitalisasi Sekolah di Pidie Rampung Tahun Ini

Published Juni 23, 2026 · Updated Juni 23, 2026 · By Intan Hidayat

Mendikdasmen Targetkan Revitalisasi Sekolah di Pidie Rampung Tahun Ini

Key Strategy - Kunjungan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, ke Kabupaten Pidie Jaya pada Senin (22/6/2026) menjadi momentum penting dalam meninjau kemajuan revitalisasi sekolah yang terkena dampak bencana. Dalam rangkaian peresmian hasil pembangunan beberapa lembaga pendidikan tahun 2025, Mu’ti juga menyampaikan komitmen pemerintah pusat untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah di Aceh. Fokus utama kunjungan ini adalah memastikan sekolah yang rusak akibat bencana bisa kembali beroperasi sebelum tahun ajaran baru 2026/2027.

Progres Revitalisasi dan Peralihan Ruang Belajar

Mu’ti menegaskan bahwa beberapa sekolah telah rampung dibangun pada 2025, sementara sebagian lainnya masih dalam proses pengerjaan dan diperkirakan selesai pada 2026. Dalam wawancara di SMKN Sigli, ia menjelaskan bahwa pemerintah menyiapkan ruang kelas darurat sebagai solusi sementara bagi sekolah yang belum bisa direlokasi. “Ruang kelas darurat ini dirancang lebih representatif dan nyaman dibandingkan tenda darurat yang sebelumnya digunakan,” ujarnya, sembari meminta masyarakat bersabar hingga proses revitalisasi rampung.

“Kami mohon masyarakat untuk terus bersabar dan mudah-mudahan kita dapat memberikan yang terbaik bagi anak di Aceh ini sehingga proses revitalisasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi dapat kita selesaikan dengan secepatnya dan pada tahun ajaran baru 2026-2027,” tegas Mu’ti.

Dalam kunjungan tersebut, Mu’ti juga memberikan apresiasi kepada berbagai pihak, termasuk Pemerintah Aceh, daerah kabupaten/kota, dan jajaran TNI. Kemitraan strategis dengan lembaga tersebut, menurutnya, mempercepat proses penyelesaian kerusakan sekolah. Pemerintah pusat mengakui peran aktif mereka dalam memberikan dukungan logistik, teknis, dan keuangan. “Kerja sama yang intens ini membantu kita menyelesaikan tugas revitalisasi dengan lebih cepat,” tambahnya.

Verifikasi Faktual dan Distribusi Kerusakan Sekolah

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menyampaikan data verifikasi terkini mengenai kerusakan sekolah. Dari total 3.120 lembaga pendidikan yang terdampak bencana alam, 1.287 sekolah atau 44% mengalami kerusakan sedang, 1.382 sekolah atau 47,33% mengalami kerusakan ringan, dan 188 sekolah atau 6,44% mengalami kerusakan berat. “Dari jumlah tersebut, 63 sekolah harus direlokasi karena kondisi lahan yang tidak lagi layak digunakan,” jelas Murthalamuddin.

Berdasarkan hasil evaluasi, sebagian besar proses relokasi telah berjalan, dengan hanya kurang dari 20 sekolah yang masih menunggu ketersediaan lahan. Kendala utama terkait relokasi adalah ketidaktersediaan wilayah yang layak untuk bangunan baru. “Penyediaan lahan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, terutama untuk jenjang PAUD, SD, dan SMP, sementara SMA, SMK, dan SLB ditangani oleh Pemerintah Aceh,” tambahnya.

Target Revitalisasi untuk Sekolah Banjir

Revitalisasi tahap pertama difokuskan pada sekolah yang mengalami kerusakan akibat banjir bandang. Di Pidie, sebanyak 21 sekolah hasil revitalisasi tahun 2025 telah diresmikan, mencakup satu lembaga PAUD, dua SD, empat SMP, 11 SMA, dua SMK, dan satu SLB. Murthalamuddin menuturkan bahwa setiap sekolah yang direlokasi memerlukan waktu lebih lama karena harus memperhatikan kebutuhan struktur bangunan baru yang tahan terhadap bencana.

“Dalam relokasi, kita memastikan bahwa fasilitas sekolah tetap memenuhi standar kelayakan dan keselamatan,” imbuhnya. Ia juga menyebutkan bahwa lahan awal yang rusak akibat banjir memicu kesulitan dalam menyelesaikan proyek revitalisasi. Selain itu, beberapa sekolah di Aceh Tengah belum bisa direnovasi karena keterbatasan lahan yang tersedia.

Kendala dan Strategi Penyelesaian

Menurut Murthalamuddin, salah satu tantangan utama adalah mempercepat pemberian lahan untuk relokasi. Dengan adanya kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah, diharapkan proses ini bisa lebih cepat. “Kami telah berkoordinasi intens dengan berbagai pihak untuk memastikan pengadaan lahan tidak menjadi hambatan utama,” katanya.

Revitalisasi sekolah tidak hanya memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga memastikan kebutuhan pendidikan anak-anak Aceh bisa terpenuhi. Mu’ti menyatakan bahwa ruang kelas darurat yang disediakan merupakan langkah sementara, dengan harapan pembangunan permanen bisa selesai dalam dua tahun ke depan. “Kami berupaya memberikan kualitas pendidikan terbaik meski dalam kondisi darurat,” ujarnya.

Dalam rangka menyelesaikan proyek revitalisasi, pemerintah daerah diminta untuk berpartisipasi aktif dalam menyediakan lahan dan sumber daya. Mu’ti juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, Aceh, dan masyarakat. “Kerja sama ini akan menjadi fondasi untuk membangun sekolah yang lebih baik dan tahan banting tumbuh,” imbuhnya.

Kebutuhan lahan yang masih menjadi kendala utama diperkirakan akan teratasi melalui perencanaan yang lebih matang. Selain itu, dana yang dialokasikan untuk revitalisasi sekolah juga terus ditambahkan sesuai kebutuhan. “Kami terus memantau progres dan siap menyesuaikan anggaran untuk mempercepat penyelesaian,” tambah Murthalamuddin.

Artikel Terkait

Berikut beberapa berita terkait yang bisa Anda simak: - Cuma Sediakan 1 Peron, Stasiun JIS Mulai Layani Penumpang Hari Ini - Cetak Sawah 2.000 Hektare di Papua Pegunungan Dipercepat - Korban Penyekapan Pacar di Bandung Saat Ini Berada di Rumah Aman - 5 Badan Siber Negara Ini Sebut AI Bikin Hacker Makin Mematikan - Hujan Dominasi Cuaca Indonesia 23 Juni 2026, BMKG: Jawa Barat Waspada - Pemerintah Pastikan Stok BBM Subsidi Dipastikan Aman - Stimulus Pertumbuhan Ekonomi Semester II 2026 - Peresmian JPO Penghubung Ancol dan JIS - Kunjungan Wapres Gibran ke Asmat Papua - Karut-Marut Program MBG - Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional - Negara yang Ikut Berkurban

Peresmian dan peninjauan ini menjadi bagian dari upaya untuk memperkuat sistem pendidikan Aceh pasca-bencana. Dengan adanya program revitalisasi, diharapkan kehidupan pendidikan bisa kembali normal dan mendukung kembangan