Main Agenda: UGM Temukan Retakan Tanah 20 Meter di Lokasi Api Misterius Sleman
UGM Temukan Retakan Tanah 20 Meter di Lokasi Api Misterius Sleman
Main Agenda - Di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tim peneliti dari Laboratorium Geofisika Eksplorasi, Universitas Gadjah Mada (UGM), telah mengungkapkan adanya retakan tanah yang mencapai kedalaman hingga 20 meter di lokasi kejadian api misterius. Penemuan ini berlangsung di Dusun Kasuran, Kelurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, yang selama beberapa minggu terakhir menjadi episentrum dari fenomena serupa. Tim UGM menggunakan alat georadar dan geoscanner untuk memetakan kondisi bawah tanah, termasuk struktur lapisan tanah dan potensi retakan yang berada di bawah bangunan serta lingkungan sekitarnya.
Mengapa Retakan Tanah Jadi Fokus Penelitian
Penggunaan georadar dan geoscanner di lokasi rumah milik Agus memungkinkan para peneliti memvisualisasikan struktur tanah secara detail. Kedua alat ini membantu mengidentifikasi retakan yang mungkin tidak terlihat oleh mata telanjang, sementara area yang diperiksa telah menjadi pusat kemunculan ratusan titik api misterius. Berdasarkan hasil awal pemindaian, retakan tersebut terdeteksi hingga kedalaman sekitar 20 meter, menunjukkan kemungkinan adanya fenomena geologis yang tersembunyi di bawah permukaan.
Penjelasan Ilmiah untuk Reduksi Keresahan Masyarakat
Saptono Budi Samodra, peneliti dari Laboratorium Geofisika Eksplorasi Departemen Teknik Geologi UGM, menjelaskan bahwa penelitian ini bertujuan memberikan penjelasan ilmiah untuk meminimalkan kekhawatiran warga. "Kita perlu melihat secara objektif, agar masyarakat tidak terlalu cemas. Jika ini bagian dari dinamika bumi, kita berada di zona tektonik aktif, sehingga retakan pada lapisan tanah menjadi kemungkinan," ujarnya, Kamis (11/6/2026). Menurut Saptono, alat georadar hanya mampu mendeteksi adanya retakan, sedangkan keberadaan gas belum bisa dibuktikan. "Jika gas tidak ditemukan, maka belum tentu ada dampak serius. Tidak semua retakan berbahaya," tambahnya.
"Dari UGM disampaikan ada retakan di bagian depan dan ruang tengah dengan kedalaman sekitar 20 meter. Hasil pemeriksaan yang lebih luas belum disampaikan. Kami jadi semakin was-was karena retakan ini bisa saja tidak hanya berada di rumah kami, tetapi juga menyebar ke rumah tetangga dan melebar," kata Mutfiana, salah satu penghuni rumah yang terkena dampak.
Peneliti UGM masih terus menganalisis karakteristik retakan yang ditemukan, termasuk luas penyebarannya dan kedalaman maksimal. Menurut Saptono, perangkat yang digunakan memiliki batasan deteksi hingga 20 meter, sehingga penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami perluasan retakan di lapisan yang lebih dalam. Penemuan ini menambah ketegangan bagi keluarga Agus, yang telah menjadi korban langsung fenomena api misterius selama beberapa pekan.
Kemunculan Api Misterius yang Memperpanjang Waktu
Fenomena api misterius di kawasan tersebut telah berlangsung selama 19 hari sejak pertama kali terlihat pada 22 Mei 2026. Hingga kini, total titik api yang tercatat mencapai minimal 123, dengan kejadian tidak hanya terbatas di rumah Agus, tetapi juga terjadi di dua rumah lainnya di sisi utara lokasi utama. Perkembangan ini memicu kecurigaan akan hubungan antara aktivitas geologis, keberadaan gas bumi, atau faktor lain yang belum teridentifikasi.
Tim peneliti terus memperdalam investigasi, mengingat potensi retakan bisa berdampak luas jika tidak dikontrol. Saptono menekankan bahwa hasil pemindaian georadar memberikan data awal, tetapi penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk memastikan apakah retakan tersebut memiliki risiko terhadap kestabilan lingkungan sekitar. "Retakan bisa bersifat alami, tetapi kita perlu melihat bagaimana keterkaitannya dengan kejadian api yang muncul," jelasnya.
Ketidakamanan dan Langkah Warga
Keluarga Agus, yang tinggal di area yang menjadi pusat api misterius, mengaku cemas karena belum mengetahui seberapa jauh retakan tersebut menyebar. Mutfiana, salah satu anggota keluarga, mengatakan bahwa mereka memutuskan untuk pindah ke tempat pengungsian setelah mendengar laporan dari tim UGM. "Kami merasa tidak lagi aman berada di sekitar lokasi kejadian. Retakan ini bisa saja mengancam area permukiman warga sekitar," ungkapnya.
Penduduk setempat memperhatikan fenomena ini dengan ketat, karena munculnya api di bawah tanah telah mengganggu kehidupan sehari-hari. Banyak yang mempertanyakan penyebab pasti kejadian tersebut, apakah karena aktivitas bawah tanah seperti gas yang terjebak di lapisan tanah, atau proses geologis lainnya. Dengan menemukan retakan, tim UGM memberikan gambaran bahwa kejadian ini mungkin berakar dari struktur bumi yang tidak stabil.
Pengembangan Penelitian dan Langkah Selanjutnya
Sebagai langkah penyelidikan lebih lanjut, tim UGM berencana melakukan pemeriksaan yang lebih menyeluruh untuk mengidentifikasi sumber munculnya api. Menurut Saptono, keberadaan gas bawah tanah masih menjadi dugaan utama, meski belum ada bukti yang pasti. "Kita perlu memastikan apakah fenomena ini dipicu oleh gas yang meledak, atau mungkin terkait dengan pergerakan lempeng tektonik," katanya. Penelitian ini juga bertujuan memetakan potensi risiko terhadap keamanan warga, terutama jika retakan terus berkembang.
Penduduk setempat berharap penelitian bisa memberikan jawaban akurat untuk mengurangi ketidakpastian. Selain itu, mereka meminta pemer