AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Miris! SDN Ini Hanya Dapat 2 Murid Baru, Guru Patungan Seragam

Published Juli 17, 2026 · Updated Juli 17, 2026 · By Yusuf Kurniawan

Krisis Murid di SDN 023 Todang-Todang: Hanya Dua Siswa Baru, Guru Patungan Beli Seragam

Miris SDN Ini Hanya Dapat 2 Murid - Angin sepoi-sepoi membawa keheningan yang terasa berbeda di lingkungan SDN 023 Todang-Todang. Biasanya, hari pertama masuk sekolah dipenuhi suara tawa dan riuh rendah anak-anak. Namun kali ini, suasana Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS berjalan sangat tenang. Tahun pelajaran 2026/2027 mencatatkan kehadiran hanya dua siswa baru untuk mengisi bangku sekolah dasar tersebut.

Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menjadi saksi bisu kondisi unik ini. Sejak Senin, 13 Juli 2026, kedua siswa baru tersebut mengikuti serangkaian kegiatan dengan wajah agak malu-malu. Mereka menjadi harapan baru bagi institusi pendidikan yang saat ini hanya menampung total dua puluh siswa dari jenjang kelas satu hingga enam.

Akar Masalah: Desa Kecil dengan Empat Sekolah

Kepala sekolah, Sudarmi, menjelaskan bahwa fenomena penurunan jumlah peserta didik ini bukan hal baru. Krisis telah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Faktor utamanya terletak pada minimnya populasi di desa tempat sekolah berdiri. Hanya sekitar lima puluh keluarga yang mendiami wilayah tersebut.

Siswa baru kami tahun ini hanya dua orang karena jumlah masyarakat di sini memang sangat sedikit. Hanya ada sekitar 50 keluarga. Biasanya warga yang baru berkeluarga memilih merantau ke luar kota untuk mencari nafkah.

Ironi terjadi ketika empat sekolah dasar harus berbagi calon murid dalam satu kawasan kecil. Akibatnya, semua sekolah mengalami masalah serupa, yaitu kekurangan siswa. Sudarmi menambahkan bahwa sistem zonasi tidak berlaku di daerahnya. Yang mendaftar hanyalah penduduk lokal yang tinggal di sekitar sekolah.

Ketimpangan Kelas dan Keterbatasan Ruang

Jumlah siswa yang tidak merata menciptakan komposisi kelas yang timpang. Kelas satu hanya memiliki dua anak, kelas dua empat anak, kelas tiga lima anak, kelas empat hanya satu anak, sementara kelas lima dan enam masing-masing berisi empat anak. Situasi ini diperburuk oleh fasilitas yang terbatas.

Sekolah hanya memiliki tiga ruang kelas. Beberapa rombongan belajar terpaksa digabungkan dalam satu ruangan. Sudarmi menceritakan bahwa kelas tiga dan empat digabung karena siswa kelas empat hanya satu orang. Kadang-kadang, siswa kelas empat belajar di ruang kepala sekolah agar tidak mengganggu proses belajar lainnya.

Kami terpaksa menggabungkan kelas karena ruangannya cuma tiga. Kelas 3 dan kelas 4 digabung karena siswa kelas 4 hanya satu orang. Bahkan kadang siswa kelas 4 belajar di ruang kepala sekolah supaya tidak saling mengganggu.

Sebagian siswa kelas dua juga harus belajar di ruang kantor karena ruang kelas belum memiliki sekat permanen. Kondisi ini sudah berlangsung sejak Sudarmi memimpin sekolah pada tahun 2022.

Guru Tanpa PNS, Patungan untuk Seragam

Di balik kesunyian ruang kelas, semangat mengajar tetap menyala. SDN 023 Todang-Todang memiliki dua belas tenaga kependidikan. Komposisinya terdiri dari tujuh guru PPPK, empat guru honorer, dan satu operator sekolah. Yang menarik, tidak ada satupun dari mereka yang berstatus pegawai negeri sipil.

Seluruh guru harus menempuh perjalanan belasan hingga puluhan kilometer setiap hari. Mereka berasal dari luar Desa Todang-Todang. Untuk menarik minat masyarakat, para guru mengumpulkan uang secara swadaya. Dana tersebut digunakan untuk membeli seragam gratis bagi calon siswa baru.

Tahun lalu alhamdulillah ada empat siswa, sekarang turun lagi jadi dua. Kami berinisiatif membagikan seragam gratis agar anak-anak mau sekolah di sini. Itu hasil patungan guru-guru.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Sudarmi memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan lancar. Ia menegaskan bahwa anak-anak di pelosok tetap berhak memperoleh pendidikan yang layak. Ia berharap pemerintah daerah maupun pusat memberikan perhatian lebih terhadap sekolah-sekolah kecil di wilayah terpencil.

Fenomena SDN 023 Todang-Todang menjadi potret nyata tantangan pendidikan di daerah dengan jumlah penduduk yang terus menyusut. Di tengah keterbatasan siswa, ruang kelas, dan fasilitas, para guru tetap berupaya memastikan hak belajar anak-anak terpenuhi. Mereka berharap perhatian pemerintah tidak hanya berfokus pada sekolah dengan jumlah murid besar, tetapi juga kepada sekolah-sekolah pelosok yang berjuang mempertahankan akses pendidikan bagi generasi di daerah terpencil.

Harapan saya mewakili para guru, semoga pemerintah dapat membantu pembangunan ruang kelas baru. Kami ingin anak-anak belajar dengan nyaman dan tidak saling mengganggu karena keterbatasan ruangan.