New Policy: Ibu Asal Aceh dan Bayinya Dibunuh di Malaysia, Jenazah Tiba di Tamiang
Jenazah Ibu dan Bayi dari Aceh Dibawa ke Kampung Halaman Setelah Dibunuh di Malaysia
New Policy - Kabar duka mengenai kematian Putri Hensy Aprilda (22), warga negara Indonesia (WNI) asal Aceh, serta bayinya yang menjadi korban pembunuhan di Selangor, Malaysia, telah sampai ke kampung halamannya di Desa Alur Manis, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang. Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Aceh, Sudirman alias Haji Uma, mengatakan bahwa jenazah korban akhirnya tiba dan diserahkan kepada keluarga. "Alhamdulillah, jenazah sudah tiba dan diserahkan kepada pihak keluarga," ujarnya, seperti dilansir Antara pada Kamis (25/6/2026).
Korban Meninggal Dunia di Sepang
Sebelumnya, Putri Hensy Aprilda dan bayinya dilaporkan meninggal dunia di Sepang, Selangor, Malaysia, dengan diduga menjadi korban pembunuhan. Menurut Haji Uma, proses pemulangan jenazah korban melibatkan kerja sama antara KBRI Kuala Lumpur, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, keluarga, serta tim pendamping di Malaysia. "Masyarakat Aceh yang berada di Malaysia juga aktif membantu pengurusan jenazah, koordinasi di lapangan, dan memberikan dukungan logistik selama pemulangan," tambahnya.
Proses pemulangan jenazah Putri dilakukan melalui Bandara Kualanamu, Sumatera Utara, sebelum kemudian diteruskan ke Aceh Tamiang dengan menggunakan ambulans dari pemerintah setempat. Jenazah korban tiba di rumah duka sekitar pukul 13.00 WIB dan langsung diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Haji Uma menyebutkan bahwa ia turut serta mengantar jenazah hingga sampai ke kampung halaman.
Kasus Dihandapi Kepolisian Diraja Malaysia
Menurut informasi dari KBRI Kuala Lumpur, pihak Kepolisian Diraja Malaysia kini sedang menangani kasus pembunuhan tersebut. Pelaku kejahatan juga telah ditangkap. Haji Uma menjelaskan bahwa korban dan bayinya diduga dibunuh dalam satu rangkaian peristiwa yang terjadi di Selangor. "Korban mengalami kekerasan sejak masih hamil hingga melahirkan, dan bayinya juga menjadi korban. Ini peristiwa yang sangat sadis, serta kita berharap proses hukum berjalan hingga tuntas," ujarnya.
"Ini pembunuhan yang sangat kejam. Berdasarkan laporan dari lapangan, korban mengalami kekerasan saat masih hamil dan bayinya juga menjadi korban. Kita semua berharap hukum dapat menyelesaikan peristiwa ini secara adil,"
Menariknya, jenazah bayi korban tidak kembali ke Indonesia. Setelah musyawarah dengan keluarga, bayi tersebut langsung dimakamkan di Malaysia. Proses pemakaman juga didukung oleh masyarakat Aceh yang berada di sana, serta pihak-pihak yang terlibat dalam penanganan kasus.
Biaya Pengurusan Jenazah Capai Rp 28 Juta
Berdasarkan keterangan Haji Uma, biaya pengurusan dan pemulangan jenazah Putri Hensy Aprilda serta bayinya mencapai sekitar Rp 28 juta. Dana tersebut berasal dari berbagai sumber, termasuk bantuan dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, masyarakat Aceh di Malaysia, keluarga, dan kontribusi pribadi Haji Uma. "Total dana yang digunakan sekitar Rp 28 juta. Bantuan dari Pemkab Aceh Tamiang sebesar Rp 10 juta, bantuan pribadi saya mencapai Rp 5,4 juta termasuk biaya cargo. Sementara Rp 5 juta lainnya berasal dari keluarga dan tokoh masyarakat sekitar. Selebihnya, Rp 7,4 juta diberikan oleh masyarakat Aceh di Malaysia," ujarnya.
"Biaya pengurusan jenazah berasal dari berbagai sumber, seperti bantuan Pemkab Aceh Tamiang, keluarga, masyarakat lokal, serta sumbangan pribadi saya. Kami semua bekerja sama untuk menyelesaikan proses ini secara cepat dan baik,"
Haji Uma juga menekankan pentingnya penggunaan jalur resmi bagi pekerja migran. Menurutnya, pekerja yang tidak mengikuti prosedur resmi lebih rentan menghadapi masalah saat bekerja di luar negeri. "Harus melalui prosedur resmi, ada kontrak kerja, dan legalitas yang jelas. Banyak pekerja migran yang mengalami kesulitan karena tidak memiliki perlindungan hukum yang memadai," pungkasnya.
Korban dan bayinya diduga mengalami kekerasan sejak dini kehamilan hingga proses melahirkan. Hal ini memperparah situasi yang terjadi, membuat kasus ini dianggap sebagai peristiwa yang sangat kejam. Tim pendamping di Malaysia menyampaikan bahwa kondisi korban semakin memburuk setelah kejadian tersebut, dan saat ini fokus utama adalah penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui detail kejadian.
Peran Komunitas Aceh di Malaysia
Peran masyarakat Aceh yang tinggal di Malaysia terasa penting dalam penanganan kasus ini. Mereka tidak hanya membantu proses pemakaman bayi, tetapi juga memberikan dukungan dalam koordinasi lapangan. Haji Uma mengapresiasi upaya mereka, menyebut bahwa gotong royong dari komunitas Aceh di luar negeri menjadi kekuatan besar dalam menghadapi situasi yang sulit.
"Masyarakat Aceh di Malaysia berperan aktif, baik dalam mengurus jenazah maupun mendukung proses hukum. Keterlibatan mereka membuat kami merasa lebih nyaman dan yakin bahwa kasus ini akan terungkap,"
Kasus pembunuhan ini menimbulkan kecaman dari masyarakat Aceh yang berada di luar negeri, sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya perlindungan bagi pekerja migran. Dengan adanya korban yang mengalami perlakuan kejam, banyak yang menyoroti perlunya sistem pengawasan lebih ketat di negara penempatan.
Langkah Selanjutnya dalam Penanganan Kasus
Pihak Kepolisian Diraja Malaysia telah menetapkan pelaku sebagai tersangka, dan proses penyidikan sedang berlangsung. Haji Uma berharap kasus ini bisa diselesaikan secara adil, agar keluarga korban mendapatkan kepastian hukum. Selain itu, ia menyarankan agar pekerja migran lebih memperhatikan persyaratan keberangkatan untuk menghindari risiko serupa.
Kasus ini menjadi peringatan bagi semua pekerja migran di Malaysia, khususnya yang berasal dari Aceh. Dengan adanya perlakuan kejam terhadap ibu dan bayinya, masyarakat kembali menyoroti perlunya program perlindungan yang lebih luas bagi tenaga kerja Indonesia di luar negeri.
Menurut Haji Uma, kejadian ini mengingatkan semua pihak agar memperkuat kerja sama antar instansi. "Pemulangan jenazah tidak bisa dilakukan sendirian, harus ada kerja sama yang baik antara KBRI, pemerintah daerah, keluarga, dan masyarakat Aceh di Malaysia. Dengan begitu, prosesnya akan lebih efektif dan cepat," ujarnya.
Kasus ini juga menjadi sorotan media dan masyarakat setempat, seiring peningkatan kehati-hatian dalam menghadapi kejahatan terhadap pekerja migran. Dengan adanya koordinasi yang baik, dugaan pembunuhan ini bisa terungkap secara lengkap, sehingga keadilan bisa tercapai bagi korban dan keluarga.
Kesimpulan dan Harapan
Dalam kesimpulannya, Haji Uma menegaskan bahwa proses pemulangan jenazah Putri Hensy Aprilda dan bayinya berjalan lancar