Special Plan: Sebelum Meninggal, Dokter Icha Tinggalkan Surat Wasiat
Sebelum Meninggal, Dokter Icha Tinggalkan Surat Wasiat
Special Plan - Kota Kupang, Beritasatu.com - Sebelum mengakhiri hidupnya, dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni, yang akrab disapa Icha, ditemukan meninggalkan surat wasiat oleh keluarganya. Surat itu saat ini sudah disimpan oleh polisi bersama dua ponsel yang diduga menjadi alat bukti dalam kasus kematian korban. Informasi ini diungkapkan oleh paman almarhumah, Fabi Banase, pada Senin (29/6/2026), menjelaskan bahwa surat tersebut ditemukan tidak jauh dari tempat kejadian. Selain surat, polisi juga mengamankan ponsel yang dianggap terkait dengan ancaman melalui pesan WhatsApp yang diterima Icha sebelum meninggal.
Keluarga Yakini Tekanan Psikologis Sebagai Penyebab Kematian
Dokter Icha, yang berusia 27 tahun, meninggal dunia setelah diduga mengalami tekanan psikologis yang memicu keputusannya untuk berhenti mengambil langkah hidup. Keluarga korban menilai tekanan tersebut tidak hanya berasal dari intimidasi oleh tiga oknum anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), tetapi juga melibatkan ancaman psikologis melalui pesan WhatsApp yang dikirim oleh pihak tertentu. Polisi masih mengejar investigasi lebih lanjut untuk memastikan penyebab kematian dan apakah terdapat tindak pidana terkait dengan peristiwa ini.
"Isi surat itu ia mengatakan Icha memohon maaf kepada bapak, mama, dan adik, serta seluruh keluarga besar karena sudah menyusahkan keluarga karena tidak bisa melanjutkan program studi dokter spesialis," kata Fabi, Senin (29/6/2026).
Dalam surat wasiat tersebut, Icha juga menyampaikan ketakutannya untuk kembali bertugas di Rumah Sakit Leona Kefamenanu, Kabupaten TTU. Fabi menjelaskan bahwa korban merasa cemas karena khawatir bertemu dengan tiga anggota DPRD yang sebelumnya disebut dalam berita. Meski ia mengampuni mereka, Icha tidak memaafkan proses tindak pidana yang dianggap mengganggu dirinya.
"Dalam surat yang terakhir itu, dokter Icha mengampuni ketiga orang tersebut, tetapi tidak dengan proses tindak pidana yang mereka lakukan terhadap korban. Cukup ia yang menjadi korban untuk menyelamatkan tenaga medis dan nakes-nakes yang lain di TTU," ucap Fabi.
Keluarga Icha juga menyoroti bahwa korban sempat menerima pesan-pesan tekanan melalui WhatsApp. Dugaan ini masih dalam proses penyelidikan oleh polisi, yang berupaya mengumpulkan bukti untuk memastikan keterlibatan pihak-pihak tertentu. "Saat ini kedua HP yang diduga menerima ancaman melalui WA sudah diamankan bersama surat wasiat oleh polisi untuk dijadikan alat bukti," tambahnya.
Penyelidikan yang dilakukan aparat kepolisian mencakup semua barang bukti yang telah dikumpulkan, termasuk surat wasiat dan dua ponsel korban. Hingga berita ini ditulis, pihak berwenang belum memberikan kesimpulan mengenai penyebab kematian Icha maupun keterlibatan tindak pidana dalam kasus ini. Namun, keluarga mengharapkan kejelasan yang bisa memberikan penjelasan tentang tekanan yang dideritanya sebelum meninggal.
Surat Wasiat Jadi Bukti Penyelidikan yang Masih Berlangsung
Keluhan keluarga Icha menunjukkan bahwa tekanan psikologis menjadi faktor penting dalam keputusannya mengakhiri hidup. Surat wasiat yang ditinggalkan menjadi bukti bahwa korban merasa putus asa dan meminta maaf kepada keluarga karena ketidakmampuannya melanjutkan pendidikan sebagai dokter spesialis. Dalam surat itu, Icha menyatakan bahwa rasa penyesalan terbesar datang dari rasa takut yang terus-menerus menghantui dirinya, terutama terkait dengan interaksi dengan oknum-oknum anggota DPRD TTU.
Polisi kini fokus pada analisis surat wasiat dan ponsel korban untuk memahami alur tekanan yang dialami Icha. Dugaan bahwa pesan WhatsApp menjadi bagian dari upaya menekan dirinya sudah menjadi perhatian utama dalam penyelidikan. Keluarga menilai bahwa ancaman tersebut tidak hanya menyebabkan rasa takut, tetapi juga memicu keputusasaan yang membuat Icha memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Dalam penjelasannya, Fabi Banase mengungkap bahwa surat wasiat Icha terdiri dari beberapa bagian. Di samping permohonan maaf, surat itu juga berisi pengakuan bahwa korban merasa tertekan secara emosional. "Icha menuliskan ketakutan akan kembali bertugas di rumah sakit setelah dugaan tekanan dari tiga oknum DPRD TTU. Ia merasa takut akan konfrontasi yang mungkin terjadi," katanya.
Proses penyelidikan yang sedang berlangsung menunjukkan bahwa pihak kepolisian sedang mengumpulkan bukti-bukti yang bisa menjelaskan hubungan antara tekanan psikologis dan kejadian kematian Icha. Polisi juga mempertimbangkan kemungkinan adanya tindakan korupsi atau maladministrasi yang memicu perasaan korban menjadi terpuruk. "Surat wasiat dan ponsel korban akan menjadi fokus utama dalam upaya menelusuri motif dan penyebab kematian," terang Fabi.
Sebagai bagian dari proses investigasi, polisi juga melakukan pemeriksaan terhadap lingkungan sekitar korban. Dugaan bahwa Icha mengalami tekanan psikologis selama beberapa bulan sebelum meninggal menjadi penyebab utama keputusasaannya. Keluarga mengungkapkan bahwa korban kerap mengeluhkan kesulitan menghadapi situasi di TTU, terutama dalam menjalani tugas profesional sebagai dokter spesialis.
Disini, keluarga Icha mengimbau masyarakat untuk memperhatikan kondisi mental mereka, terlebih jika mengalami tekanan dari pihak tertentu. "Saat ini, saya berharap pihak kepolisian segera memberikan penjelasan yang jelas tentang apa yang terjadi pada almarhumah," tutur Fabi. Ia juga menyatakan bahwa surat wasiat dan ponsel menjadi bukti penting yang bisa membantu menyelamatkan korban dari tekanan.
Dugaan Ancaman WhatsApp Jadi Fokus Investigasi
Selain surat wasiat, dugaan ancaman melalui pesan WhatsApp menjadi perhatian utama dalam penyelidikan. Keluarga mengungkapkan bahwa Icha menerima pesan-pesan yang diduga sebagai bentuk teror sebelum meninggal. "Keluarga menduga pesan WA tersebut dikirim oleh pihak tertentu untuk memperparah rasa takut Icha," kata Fabi. Meski belum ada bukti yang kuat, polisi sedang menelusuri sumber pesan dan pelaku yang terlibat dalam mengirimkan ancaman tersebut.
Surat wasiat dan dua ponsel menjadi bukti utama yang dianggap sebagai alat untuk mengungkap akar masalah. Dalam penyelidikan, polisi sedang memeriksa