AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

TNI AL Gagalkan Penyelundupan Sianida hingga Miras dari Filipina

Published Juni 14, 2026 · Updated Juni 14, 2026 · By Rizki Maulana

TNI AL Gagalkan Penyelundupan Sianida hingga Miras dari Filipina

Intersepsi di Wilayah Perairan Sulawesi Utara Mengamankan Barang Ilegal Senilai Rp 1 Miliar

TNI AL Gagalkan Penyelundupan Sianida hingga - Operasi penyelundupan yang berhasil digagalkan oleh Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) VIII di perairan Sulawesi Utara mengungkap tindakan ilegal yang melibatkan warga negara asing (WNA) dari Filipina. Upaya pengangkutan bahan berbahaya dan barang konsumsi illegal tersebut berlangsung pada Jumat, 12 Juni 2026, dan berujung pada penangkapan yang dilakukan oleh Tim QR-8. Kepala Kodaeral VIII, Laksamana Muda TNI Dery Triesananto Suhendi, mengungkapkan keberhasilan ini dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Antara, Minggu (14/6/2026).

"Penghentian penyelundupan barang ilegal ini menunjukkan komitmen TNI AL dalam menjaga keamanan dan keselamatan wilayah perairan Indonesia," kata Dery Triesananto Suhendi.

Kapal yang digunakan dalam operasi ini bernama ARRIL, berwarna putih-biru, dan berasal dari Filipina. Menariknya, kapal tersebut menggunakan bendera Indonesia, sehingga lebih sulit dideteksi. Berdasarkan informasi intelijen, tim penyelidik berhasil menangkap kapal tersebut saat berlayar di perairan Sulawesi Utara. Dalam aksi penyitaan, sejumlah barang illegal berhasil diamankan, termasuk sianida yang digunakan untuk mengancam kehidupan laut. Selain itu, juga ditemukan minuman beralkohol yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan ilegal.

Dari hasil pemeriksaan, barang bukti yang disita mencakup 20 karung sianida dengan berat masing-masing 50 kilogram, total 1.000 kilogram. Sianida sering kali disalahgunakan sebagai bahan racun untuk ikan, menjadikannya barang yang sangat diminati di pasar gelap. Selain itu, petugas juga menyita dua botol minuman beralkohol merek Tanduay, dua botol Fundador ukuran 1 liter, serta empat botol Mojito dengan kapasitas serupa. Keberadaan miras tersebut mungkin terkait dengan upaya memasukkan produk illegal ke dalam wilayah Indonesia.

Dalam operasi tersebut, tim gabungan juga mengamankan tiga unit motor tempel Yamaha berkekuatan 18 PK. Alat-alat tersebut kemungkinan digunakan untuk mempercepat perjalanan kapal di perairan yang cukup luas. Selain bahan racun dan minuman beralkohol, kapal juga ditemukan membawa barang-barang lain yang bisa menjadi sarana transaksi ilegal. Potensi kerugian negara yang terjadi akibat peredaran barang illegal ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp 1 miliar, yang mencerminkan tingkat keparahan upaya penyelundupan tersebut.

Kerja sama antara tim penyelidik dan unit intelijen terbukti sangat efektif dalam mengungkap tindakan penyelundupan yang berlangsung di bawah radar. TNI AL terus meningkatkan kewaspadaan terhadap aktifitas ilegal yang berpotensi merugikan negara, terutama dalam hal perdagangan barang konsumsi dan bahan kimia berbahaya. Pemangkasan sianida dan miras yang berhasil dilakukan menunjukkan upaya yang konsisten untuk menjaga keamanan kawasan maritim Indonesia.

Kerugian negara akibat sianida yang berhasil disita mencakup dampak ekonomi dan lingkungan. Sianida, yang bersifat racun, bisa merusak ekosistem perairan dan mengancam kehidupan ikan. Hal ini memperlihatkan betapa pentingnya pengawasan maritim yang ketat. Sementara itu, minuman beralkohol yang diamankan berpotensi mengurangi pendapatan pajak negara jika diperdagangkan secara illegal. Perbedaan jenis miras yang disita—mulai dari merek Tanduay hingga Fundador dan Mojito—menunjukkan variasi produk yang dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia.

Dalam konteks penegakan hukum, penggagalan penyelundupan ini menjadi contoh sukses operasi gabungan antara TNI AL dan institusi lainnya. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa aksi penyelundupan sering terjadi di wilayah perairan yang strategis, seperti Sulawesi Utara, yang merupakan jalur penting perdagangan internasional. Dengan memblokir pengangkutan barang illegal, TNI AL mencegah masuknya barang-barang yang bisa berdampak negatif pada masyarakat.

Proses penyitaan ini juga menyoroti peran penting intelijen dalam mengungkap kegiatan ilegal. Informasi yang diperoleh secara akurat membantu tim penyelidik menemukan titik lemah dari penyelundupan tersebut. TNI AL terus meningkatkan kemampuan deteksi dini dengan memanfaatkan teknologi modern dan sistem komunikasi yang efisien. Penyelundupan sianida dan miras dari Filipina tidak hanya menjadi ancaman ekonomi tetapi juga mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Dengan upaya yang diambil, TNI AL berhasil menyelamatkan ratusan juta rupiah dari kerugian negara. Hal ini menegaskan pentingnya kehadiran angkatan laut dalam menjaga perbatasan laut dan memastikan keamanan sumber daya alam. Sianida dan miras yang berhasil disita menjadi bukti bahwa TNI AL aktif dalam melawan praktik pengangkutan barang ilegal. Selain itu, penangkapan tersebut juga menggambarkan koordinasi yang baik antara tim operasional dan unit intelijen dalam menghadapi ancaman keamanan.

Kegiatan penyelundupan ini bukanlah yang pertama dalam sejarah TNI AL. Berbagai operasi serupa sebelumnya telah berhasil menggagalkan pengangkutan barang illegal dari negara lain, termasuk bahan baku kejahatan dan alat-alat perang. Dengan penambahan penangkapan hari ini, TNI AL terus memperkuat posisi mereka sebagai penjaga keamanan maritim Indonesia. Pemangkasan sianida dan miras yang dilakukan menunjukkan betapa seriusnya upaya pemerintah dalam mencegah kegiatan ilegal yang merugikan negara.

Sebagai bagian dari program pengamanan wilayah perairan, TNI AL terus melakukan operasi rutin untuk menangkap pelaku penyelundupan. Pelaku yang terlibat dalam operasi ini, seorang WNA asal Filipina, akan dikenai hukuman sesuai dengan ketentuan hukum. Keberhasilan ini menjadi momentum bagi TNI AL untuk menegaskan komitmen dalam menjaga keamanan kawasan maritim dan mengurangi kerugian negara yang timbul dari penyelundupan barang illegal. Semua langkah yang diambil menunjukkan upaya yang berkelanjutan untuk memastikan keselamatan ekonomi dan lingkungan di sepanjang garis pantai Indonesia.