AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: El Nino Godzilla Mengintai, Picu Cuaca Ekstrem Global hingga 2027

Published Juni 19, 2026 · Updated Juni 19, 2026 · By Joko Wibowo

El Nino Godzilla Mengintai, Picu Cuaca Ekstrem Global hingga 2027

Key Strategy - Jakarta, Beritasatu.com – Fenomena El Nino yang dikenal dengan sebutan "Godzilla" kembali mendapat perhatian ilmuwan iklim dunia setelah terlihat peningkatan tanda-tanda pemanasan luar biasa di Samudra Pasifik tropis. Fenomena alam ini, yang telah resmi dimulai, diperkirakan berkembang menjadi salah satu peristiwa iklim terkuat dalam sejarah modern, dengan kemungkinan mengubah pola cuaca global hingga 2027. Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) mengonfirmasi bahwa El Nino saat ini telah terbentuk secara penuh, dan intensitasnya diperkirakan terus meningkat sepanjang paruh kedua tahun 2026 hingga musim dingin di Belahan Bumi Utara.

Potensi Dampak yang Mengkhawatirkan

Kondisi yang membuat para ilmuwan lebih waspada adalah tingginya peluang fenomena ini tergolong dalam kategori "very strong" (sangat kuat), mencapai 63% pada periode November hingga Januari mendatang. Akibatnya, dampak yang dihasilkan tidak bisa dipandang remeh, mulai dari perubahan drastis pola curah hujan, banjir besar di sejumlah wilayah, kekeringan berkepanjangan di kawasan lain, hingga gangguan pada sektor perikanan dan perubahan aktivitas badai tropis. Cuaca ekstrem yang dipicu El Nino ini dikenal sebagai "El Nino Godzilla," sebuah istilah yang sering digunakan oleh komunitas ilmuwan dan media untuk menggambarkan intensitas yang luar biasa.

Jika skenario terburuk terjadi, peristiwa tahun ini akan sejajar dengan catatan sejarah El Nino terbesar dalam pengamatan modern. Dampaknya pun tidak main-main, karena bisa menyebabkan fluktuasi suhu global yang signifikan. El Nino merupakan fenomena alami yang terjadi ketika suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik tropis meningkat di atas rata-rata normal. Dalam kondisi biasa, angin pasat mendorong air hangat ke arah barat, sehingga wilayah Indonesia dan Australia mendapatkan pasokan uap air yang cukup untuk menghasilkan hujan. Namun saat El Nino muncul, pola tersebut melemah, membuat air hangat berpindah ke bagian tengah dan timur Pasifik.

Transisi Cepat dari La Nina ke El Nino

Faktor pertama yang menjadi sorotan adalah kecepatan transisi dari fase La Nina ke El Nino. Dunia baru saja mengalami La Nina pada musim dingin 2025, dan perubahan dari La Nina ke El Nino yang sangat kuat dalam waktu singkat dianggap relatif langka. Perubahan yang cepat ini menunjukkan adanya energi panas yang tersimpan besar di bawah permukaan laut Pasifik tropis, kemudian muncul ke permukaan dalam jangka waktu pendek.

Transisi yang cepat berarti sistem iklim global sedang mengalami fluktuasi yang signifikan, dan ini bisa memperparah dampak El Nino. Para ilmuwan mengatakan bahwa kecepatan peralihan ini mengindikasikan kekuatan fenomena yang lebih besar dibandingkan masa lalu. Fenomena seperti ini memengaruhi sirkulasi atmosfer global, menyebabkan perubahan cuaca di berbagai belahan dunia. Dampaknya bisa mencakup cuaca ekstrem yang lebih terasa di daerah tertentu, seperti banjir atau kekeringan yang memukul sejumlah wilayah.

Konsensus Antarmodel Iklim Global

Faktor kedua yang memperkuat kekhawatiran ilmuwan adalah tingginya kesepakatan antarmodel iklim global. Pada Maret 2026, ahli meteorologi dari Laboratorium Dinamika Fluida Geofisika NOAA, Nat Johnson, mengungkapkan hasil simulasi menunjukkan potensi El Nino yang sangat besar. Menurut Johnson, hanya peristiwa El Nino pada 1997-1998 yang memiliki karakteristik yang sebanding dengan proyeksi saat ini.

"Saya tahu ini adalah sesuatu yang tidak biasa," kata Johnson saat menjelaskan hasil pemodelan tersebut, dikutip dari laman ZMEScience, Jumat (19/6/2026).

Dengan konsensus ini, para ilmuwan percaya bahwa El Nino 2026-2027 bisa menjadi peristiwa yang sangat memengaruhi iklim global. Faktor ini membuat ilmuwan lebih memperhatikan perubahan yang terjadi di bawah permukaan laut Pasifik tropis, yang bisa menjadi sumber energi panas besar untuk memicu cuaca ekstrem.

Interaksi dengan Perubahan Iklim

Faktor ketiga yang paling mengkhawatirkan adalah El Nino kali ini muncul di tengah kondisi bumi yang sudah jauh lebih hangat akibat perubahan iklim. Meskipun El Nino tidak menyebabkan perubahan iklim, pemanasan global meningkatkan suhu dasar bumi, sehingga ketika fenomena ini terjadi, dampaknya bisa menjadi lebih besar dibandingkan masa lalu. Menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), suhu rata-rata global sudah naik lebih dari 1 derajat Celsius dibandingkan era praindustri.

Naiknya suhu ini berdampak pada intensitas gelombang panas, kekeringan, dan cuaca ekstrem yang dipicu El Nino. Dengan latar belakang pemanasan global, efek dari El Nino bisa lebih berat, menyebabkan wilayah tertentu mengalami krisis cuaca yang parah. Misalnya, kawasan Pasifik timur, termasuk Peru dan Ekuador, berpotensi mengalami hujan ekstrem dan banjir besar. Wilayah lain seperti Asia Tenggara atau Afrika Selatan bisa mengalami kekeringan yang lebih lama.

Perbedaan dengan El Nino Sebelumnya

Para ilmuwan menilai El Nino 2026-2027 memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dari peristiwa sebelumnya. Selain kecepatan transisi dan kesepakatan model iklim, perubahan iklim menjadi faktor tambahan yang memperkuat dampaknya. Fenomena ini tidak hanya mengubah pola cuaca di Pasifik, tetapi juga memengaruhi curah hujan, suhu udara, musim tanam, hingga aktivitas badai di berbagai negara.

Dampak dari El Nino bisa bersifat regional, tetapi secara keseluruhan berdampak pada skala global. Kondisi cuaca yang dihasilkan bisa menyebabkan kenaikan suhu global, mengganggu siklus hujan, dan mempercepat perubahan iklim. Dengan latar belakang pemanasan yang telah terjadi, ilmuwan memperingatkan bahwa El Nino Godzilla ini bisa menjadi pengujung yang sangat signifikan dalam mengevaluasi dampak iklim alami terhadap lingkungan dan masyarakat.

Keseluruhan peristiwa ini menunjukkan bahwa El Nino bukan hanya fenomena musiman, tetapi juga bisa menjadi penentu utama perubahan iklim jangka panjang. Dengan memperhatikan indikator seperti suhu laut, pola angin, dan prediksi model, ilmuwan berupaya memperkirakan skenario terburuk dan mempersiapkan respons yang tepat. El Nino Godzilla ini, jika benar-benar terjadi, bisa menjadi pengingat keras bagi manusia untuk lebih waspada terhadap perubahan iklim yang semakin mengancam.