Latest Program: DFSK Fokus Kembangkan PHEV di Tengah Tantangan Infrastruktur EV
DFSK Fokus Kembangkan PHEV di Tengah Tantangan Infrastruktur EV
Latest Program - Di tengah tantangan yang dihadapi oleh industri otomotif berbasis listrik, DFSK melalui PT Sokonindo Automobile memutuskan untuk lebih mengarahkan pengembangannya pada mobil plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Keputusan ini diambil dalam rangka menjawab kebutuhan konsumen yang beragam, terutama di tengah ketidakmerataan akses ke stasiun pengisian daya kendaraan listrik (SPKLU) di berbagai wilayah Indonesia.
Flexibilitas PHEV sebagai Solusi Kombinasi
CEO DFSK, Alexander Barus, menjelaskan bahwa pilihan untuk mengembangkan PHEV didasari oleh kemampuan mobil tersebut untuk memadukan tenaga listrik dengan mesin bensin. "Kita mengambil langkah ini karena memungkinkan pengguna menyesuaikan kebiasaan berkendara dengan lebih leluasa," ujarnya dalam wawancara di Jakarta, Selasa (23/6/2026). Ia menekankan bahwa PHEV tidak hanya menjadi alternatif untuk penggunaan harian, tetapi juga mampu mengakomodasi kebutuhan perjalanan jarak jauh tanpa harus bergantung sepenuhnya pada jaringan infrastruktur yang belum lengkap.
"Kendaraan PHEV bisa digunakan seperti mobil listrik murni untuk aktivitas sehari-hari, tapi tetap memiliki mesin bensin sebagai pengganti ketika daya baterai habis. Ini memberikan keleluasaan kepada pengendara untuk mengatur pola penggunaan energi," kata Alexander.
Dalam praktiknya, DFSK memberikan contoh konkret melalui model E5 Plus, yang dilengkapi baterai berkapasitas sekitar 25 kWh. Menurut informasi yang disampaikan, mobil ini dapat menempuh jarak hingga 140 kilometer dalam mode listrik tanpa mengandalkan bahan bakar. Namun, saat diperlukan untuk perjalanan lebih jauh, pengguna tetap bisa memanfaatkan mesin bensin untuk memperpanjang jangkauan. Alexander menjelaskan bahwa kombinasi ini sangat relevan di Indonesia, di mana jaringan SPKLU masih belum merata.
Persaingan dan Tantangan Infrastruktur
Selain ketersediaan SPKLU, Alexander menyoroti masalah antrean saat pengisian daya. "Banyak konsumen harus menunggu lama untuk mengisi baterai, terutama saat bepergian ke luar kota. Dengan PHEV, mereka tidak kewalahan karena bisa beralih ke bahan bakar jika diperlukan," tambahnya. Ia juga memperkuat argumen ini dengan menyebut bahwa mobilitas masyarakat Indonesia sangat beragam, mulai dari perjalanan perkotaan hingga lintas daerah. Hal ini membuat PHEV lebih sesuai sebagai opsi transisi menuju elektrifikasi penuh.
Menurut DFSK, keputusan fokus pada PHEV bukan berarti mengabaikan kemungkinan pengembangan mobil listrik murni (BEV) di masa depan. "Kami tetap mempersiapkan model-model BEV sebagai bagian dari strategi jangka panjang. PHEV adalah langkah awal, tetapi akan ada perubahan pada tahap berikutnya," kata Alexander. Ia menambahkan bahwa perusahaan terus mengawasi perkembangan teknologi dan permintaan pasar untuk menyesuaikan produknya.
Strategi Pasar dan Perkembangan Teknologi
DFSK menilai bahwa pengembangan PHEV dapat mempercepat adopsi teknologi elektrifikasi di Indonesia. "Kami percaya ada potensi besar dalam pasar otomotif nasional, terutama dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap penghematan energi dan dampak lingkungan," ujarnya. Kebutuhan untuk mengurangi emisi karbon, terutama di tengah isu perubahan iklim, membuat PHEV menjadi pilihan yang lebih masuk akal dibandingkan BEV yang belum sepenuhnya mendukung.
Perusahaan juga mengungkapkan bahwa PHEV bisa menjadi jembatan bagi konsumen yang ingin beralih ke kendaraan ramah lingkungan. "Dengan PHEV, mereka tidak perlu mengganti mobil konvensional secara langsung. Ini memungkinkan mereka mencoba teknologi listrik tanpa risiko kehabisan bahan bakar di jalan," jelas Alexander. Ia menegaskan bahwa transisi ke kendaraan listrik perlu didukung oleh infrastruktur yang memadai, dan PHEV bisa menjadi solusi sementara sebelum infrastruktur EV tumbuh lebih pesat.
Peluang Masa Depan dan Komitmen
Untuk memastikan keberlanjutan strategi ini, DFSK bersiap menghadirkan berbagai teknologi elektrifikasi lainnya sesuai dengan kebutuhan pasar. "Kami tidak menutup kemungkinan untuk meluncurkan BEV. Hanya saja, saat ini kita fokus pada PHEV karena lebih sesuai dengan kondisi sekarang," kata Alexander. Ia menjelaskan bahwa perusahaan terus memantau perkembangan kebijakan pemerintah serta kebutuhan konsumen sebelum memutuskan langkah lebih lanjut.
Dalam konteks ini, DFSK menganggap bahwa teknologi PHEV mampu memenuhi kebutuhan industri dan masyarakat secara seimbang. "PHEV memberikan keseimbangan antara kenyamanan kendaraan listrik dan fleksibilitas mesin bensin, yang membuatnya lebih diminati di Indonesia," tambahnya. Meski infrastruktur EV masih dalam tahap pengembangan, ia yakin bahwa keberadaan PHEV akan membantu mempercepat pergeseran mobilitas ke arah yang lebih ramah lingkungan.
Berita Terkait
Simak berita terkini lainnya: - Calon Manajer Kopdes Wafat, Kemenhan Evaluasi Latihan Militer - 305 SPPG di Tangerang Berhenti Operasi Saat Libur Sekolah - Pelaku Penyekapan di Bandung Taufik Hidayat Ditahan di Sel Khusus - Jejak Transaksi di Majalaya Ungkap Lokasi Pelarian Taufik Hidayat - Polda Jabar Tangkap Taufik Hidayat Tersangka Kasus Dugaan Penyekapan dan Penganiayaan - Keterangan Rektorat UBK Mengenai Aliran Dana ke BEM FH UBK - Bea Cukai Tindak Pakaian Impor Ilegal - Pemerintah Pastikan Stok BBM Subsidi Dipastikan Aman - Karut-marut Program MBG - Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional - Negara yang Ikut Berkurban Membumikan “Opera” di Lintasan Khatulistiwa