Panduan Kebaikan

Cara Memberi Apresiasi yang Tulus Sebagai Bentuk Kebaikan

Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang serba cepat, sering kali kita lupa pada satu hal sederhana namun memiliki kekuatan luar biasa: apresiasi. Kita mungkin sering mengucapkan “terima kasih” secara otomatis, namun sudahkah kita benar-benar menyampaikannya dari hati yang paling dalam? Mengapresiasi seseorang bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah seni untuk mengakui nilai, usaha, dan keberadaan orang lain. Memahami cara memberi apresiasi yang tulus sebagai bentuk kebaikan adalah kunci untuk membangun hubungan yang lebih kuat, menyebarkan energi positif, dan pada akhirnya, menciptakan dunia yang lebih hangat untuk kita tinggali bersama. Artikel ini akan memandu Anda secara mendalam untuk menguasai seni ini, mengubah interaksi sehari-hari menjadi momen yang penuh makna.

Mengapa Apresiasi yang Tulus Begitu Penting? Membedah Kekuatan di Balik Pengakuan

Apresiasi yang tulus adalah nutrisi bagi jiwa. Bayangkan tanaman yang disiram air dan diberi pupuk, ia akan tumbuh subur dan berbunga indah. Begitu pula dengan manusia. Ketika kita menerima apresiasi yang tulus, otak kita melepaskan hormon-hormon positif seperti dopamin (rasa senang) dan oksitosin (hormon cinta dan ikatan sosial). Hal ini tidak hanya membuat penerima merasa senang sesaat, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri, motivasi, dan perasaan dihargai. Mereka merasa “terlihat” dan diakui keberadaannya, yang merupakan salah satu kebutuhan psikologis paling mendasar bagi manusia.

Manfaatnya tidak berhenti pada si penerima. Ketika Anda secara aktif mencari hal-hal baik untuk diapresiasi dari orang lain, Anda melatih otak untuk fokus pada hal-hal positif. Ini adalah praktik mindfulness yang kuat, yang terbukti dapat mengurangi stres, kecemasan, dan meningkatkan kesejahteraan mental secara keseluruhan. Memberi apresiasi mengubah perspektif kita dari transaksional menjadi relasional. Anda tidak lagi hanya melihat orang sebagai fungsi (misalnya, kasir, rekan kerja, pasangan), tetapi sebagai individu utuh dengan usaha dan keunikan mereka sendiri. Kebaikan kecil ini menciptakan efek domino, di mana orang yang merasa dihargai cenderung akan lebih baik dan lebih apresiatif kepada orang lain di sekitar mereka.

Secara fundamental, apresiasi adalah jembatan yang menghubungkan hati. Dalam sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Emotion, para peneliti menemukan bahwa mengekspresikan rasa terima kasih dapat memperkuat ikatan hubungan, bahkan lebih dari sekadar menerima manfaat dari tindakan orang lain. Ini menunjukkan bahwa komunikasi apresiasi itu sendiri adalah tindakan yang membangun koneksi. Dalam lingkungan kerja, apresiasi terbukti meningkatkan produktivitas dan loyalitas karyawan. Dalam hubungan personal, ia menjadi perekat yang menjaga kehangatan dan mencegah rasa saling menganggap remeh (taking things for granted).

Fondasi Apresiasi Tulus: Membangun Pola Pikir yang Tepat

Sebelum membahas “cara” teknisnya, kita perlu membangun fondasi yang kokoh, yaitu pola pikir yang benar. Apresiasi yang tulus tidak bisa dipalsukan. Ia lahir dari pengamatan yang jeli, niat yang murni, dan hati yang terbuka. Tanpa fondasi ini, ucapan sebagus apa pun akan terasa hampa dan bahkan bisa dianggap sebagai sanjungan palsu atau manipulasi. Oleh karena itu, langkah pertama adalah melatih batin kita untuk menjadi “mesin apresiasi” yang otentik.

Pola pikir ini dimulai dengan mengubah fokus dari aku menjadi kamu. Sering kali, kita terlalu sibuk dengan dunia kita sendiri—tugas kita, masalah kita, tujuan kita. Untuk bisa memberi apresiasi tulus, kita harus secara sadar mengalihkan lensa kita ke luar, memperhatikan kontribusi, usaha, dan sifat-sifat baik orang lain. Ini bukan berarti mengabaikan diri sendiri, melainkan memperluas kesadaran kita untuk mencakup ekosistem sosial di sekitar kita. Latihlah untuk melihat kebaikan-kebaikan kecil yang mungkin selama ini terlewatkan.

Kunci utama lainnya adalah melepaskan ego. Terkadang, kita enggan memuji atau mengapresiasi orang lain karena ada rasa takut tersaingi atau merasa pencapaian mereka akan mengurangi nilai kita. Ini adalah pola pikir yang keliru dan merusak. Ingatlah bahwa kesuksesan atau kebaikan orang lain tidak mengurangi apa pun dari diri Anda. Justru, dengan mengakui kehebatan orang lain, Anda menunjukkan kekuatan karakter dan kepercayaan diri yang tinggi. Apresiasi adalah tentang mengangkat orang lain, bukan merendahkan diri sendiri.

1. Melatih Kepekaan dan Observasi (The Art of Noticing)

Langkah praktis pertama untuk membangun pola pikir apresiatif adalah dengan melatih kepekaan. Mulailah memperhatikan detail. Alih-alih hanya melihat hasil akhir, cobalah perhatikan prosesnya. Apakah rekan kerja Anda lembur untuk menyelesaikan laporan? Perhatikan itu. Apakah pasangan Anda selalu memastikan ada air minum di meja Anda setiap pagi? Perhatikan itu. Apakah petugas kebersihan di kantor Anda bekerja dengan sangat teliti? Perhatikan itu.

Buatlah ini menjadi sebuah latihan mental. Setiap hari, tantang diri Anda untuk menemukan setidaknya tiga hal spesifik yang bisa Anda apresiasi dari tiga orang berbeda. Tindakan ini secara perlahan akan mengubah cara kerja otak Anda. Anda akan mulai secara otomatis memindai lingkungan sekitar untuk mencari hal-hal positif, bukan lagi hal-hal negatif atau kekurangan. Semakin Anda jeli, semakin spesifik dan tulus apresiasi yang bisa Anda berikan, dan itu akan terasa jauh lebih berdampak.

2. Fokus pada Niat dan Usaha, Bukan Hanya Hasil

Dunia sering kali hanya menghargai hasil akhir: proyek yang sukses, penjualan yang mencapai target, atau nilai ujian yang sempurna. Namun, apresiasi yang paling menyentuh sering kali datang dari pengakuan atas usaha, kerja keras, dan niat baik di baliknya, terlepas dari apa pun hasilnya. Mengapresiasi proses menunjukkan bahwa Anda menghargai orang tersebut sebagai individu, bukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan.

Contohnya, jika seorang anggota tim mengusulkan ide brilian yang pada akhirnya tidak bisa dieksekusi karena kendala anggaran, jangan diam saja. Apresiasi dia. “Terima kasih banyak sudah memikirkan ide sekreatif itu. Meskipun kita belum bisa menjalankannya sekarang, aku sangat menghargai caramu berpikir out-of-the-box dan usahamu untuk mencari solusi baru.” Kalimat seperti ini memberikan validasi atas kerja keras mereka dan mendorong mereka untuk terus berinovasi di masa depan, alih-alih merasa sia-sia.

Cara Praktis Memberi Apresiasi dalam Berbagai Konteks

Setelah memiliki pola pikir yang tepat, saatnya menerapkannya dalam tindakan nyata. Apresiasi bisa disampaikan dengan berbagai cara, mulai dari ucapan verbal, tulisan, hingga tindakan nyata. Kunci untuk membuatnya tulus dan efektif adalah spesifik, personal, dan tepat waktu. Hindari pujian umum seperti “Kerja bagus!” atau “Kamu hebat!”. Meskipun tidak salah, pujian semacam itu kurang memiliki “bobot” emosional.

Jadilah spesifik dengan menyebutkan tindakan apa yang Anda hargai dan apa dampaknya bagi Anda atau tim. Misalnya, alih-alih “Terima kasih atas bantuannya,” coba katakan, “Terima kasih sudah membantuku merapikan data tadi. Berkat kamu, aku bisa menyelesaikan laporanku 2 jam lebih cepat dan tidak perlu lembur hari ini. Aku sangat menghargainya.” Perbedaan dampaknya sangat signifikan. Penerima tidak hanya tahu bahwa mereka membantu, tetapi mereka tahu bagaimana mereka membantu dan seberapa besar dampaknya.

Waktu juga sangat penting. Berikan apresiasi sesegera mungkin setelah tindakan tersebut terjadi. Semakin dekat jarak waktu antara tindakan dan apresiasi, semakin kuat hubungannya di benak penerima. Apresiasi yang diberikan seminggu setelah kejadian mungkin masih dihargai, tetapi efek kejut dan kehangatannya tidak akan sekuat jika diberikan pada hari yang sama. Jangan menunda kebaikan. Jika Anda memikirkan sesuatu yang baik tentang seseorang, katakanlah saat itu juga.

1. Apresiasi Verbal yang Berdampak (The Power of Words)

Kata-kata memiliki kekuatan untuk membangun atau menghancurkan. Gunakan kekuatan itu untuk membangun. Saat memberikan apresiasi verbal, lakukan kontak mata, tunjukkan ekspresi wajah yang tulus, dan gunakan intonasi yang hangat. Formula sederhananya adalah: Sebutkan Tindakan Spesifik + Jelaskan Dampak Positifnya + Ungkapkan Perasaan Anda. Contoh: “Budi, aku lihat caramu menangani keluhan dari klien X kemarin. Kamu tetap tenang dan memberikan solusi dengan sangat baik (tindakan spesifik). Klien tersebut akhirnya puas dan citra perusahaan kita terjaga (dampak positif). Aku benar-benar kagum dan berterima kasih atas profesionalismemu (perasaan).”

Selain itu, jangan ragu untuk memberikan apresiasi di depan umum jika situasinya tepat, terutama di lingkungan kerja. Memuji seseorang di depan rekan-rekannya atau atasan dapat meningkatkan moral dan reputasi orang tersebut secara signifikan. Namun, kenali juga karakter orangnya. Beberapa orang mungkin lebih nyaman menerima apresiasi secara pribadi. Kuncinya adalah kepekaan terhadap preferensi individu.

2. Apresiasi Melalui Tulisan (Lasting Impression)

Apresiasi verbal memang kuat, tetapi apresiasi tertulis memiliki kelebihan tersendiri: ia abadi. Sebuah email, pesan singkat yang dipikirkan dengan baik, atau bahkan sebuah catatan tangan sederhana bisa dibaca berulang kali oleh penerimanya. Ini menjadi pengingat fisik atau digital dari pengakuan yang pernah mereka terima. Dalam dunia yang serba digital, sebuah catatan tangan memiliki nilai sentimental yang sangat tinggi karena menunjukkan usaha ekstra.

Manfaatkan berbagai platform. Kirimkan email singkat kepada rekan kerja setelah sebuah proyek selesai, memuji kontribusi spesifik mereka. Tinggalkan sticky note dengan tulisan “Terima kasih sudah membuatkan kopi pagi ini, it made my day!” di meja pasangan Anda. Apresiasi tertulis tidak harus panjang. Justru, yang singkat, spesifik, dan tulus sering kali menjadi yang paling efektif. Ini adalah cara sederhana untuk mencerahkan hari seseorang dan meninggalkan jejak kebaikan yang bertahan lama.

3. Apresiasi Melalui Tindakan Nyata (Actions Speak Louder)

Terkadang, tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata. Mengapresiasi seseorang melalui tindakan menunjukkan bahwa Anda bersedia menginvestasikan waktu, tenaga, atau bahkan sumber daya Anda untuk mereka. Ini adalah bentuk apresiasi yang sangat konkret dan sering kali paling dihargai, terutama bagi orang-orang yang “bahasa cinta”-nya adalah Acts of Service (tindakan pelayanan) atau Receiving Gifts (menerima hadiah).

Cara Memberi Apresiasi yang Tulus Sebagai Bentuk Kebaikan

Tindakan ini tidak harus mahal atau megah. Membelikan secangkir kopi favorit untuk rekan yang terlihat lelah, membantu membereskan pekerjaan saat mereka sedang kewalahan, atau memberikan hadiah kecil yang relevan dengan hobi mereka adalah contoh-contoh yang sangat kuat. Kuncinya adalah personalisasi dan perhatian. Hadiah yang Anda berikan menunjukkan bahwa Anda benar-benar mendengarkan dan memperhatikan mereka sebagai individu, bukan sekadar memberikan hadiah generik.

Mengatasi Hambatan Umum dalam Memberi Apresiasi

Mengetahui pentingnya dan cara memberi apresiasi adalah satu hal, tetapi mempraktikkannya secara konsisten adalah hal lain. Banyak dari kita menghadapi hambatan internal maupun eksternal yang membuat kita enggan atau lupa untuk melakukannya. Mengenali dan mengatasi hambatan ini adalah langkah krusial untuk menjadikan apresiasi sebagai bagian alami dari interaksi kita sehari-hari.

Salah satu hambatan terbesar adalah rasa canggung atau malu. Mungkin kita tidak terbiasa melakukannya, atau khawatir akan terdengar aneh dan tidak tulus. Hal ini sangat wajar, terutama jika budaya di lingkungan kita (keluarga atau kantor) tidak terbiasa dengan ekspresi apresiasi secara terbuka. Cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan memulai dari hal kecil dan di lingkungan yang aman. Mulailah dengan orang-orang terdekat Anda atau untuk tindakan-tindakan kecil yang jelas. Semakin sering Anda melakukannya, semakin alami rasanya.

Hambatan lain adalah ketakutan dianggap mencari muka atau tidak tulus, terutama di lingkungan kerja saat mengapresiasi atasan. Kunci untuk menghindari kesan ini adalah spesifisitas dan timing. Apresiasi yang tulus fokus pada tindakan dan dampak nyata, bukan pada sanjungan kosong. Berikan apresiasi terkait kinerja atau perilaku spesifik, bukan pujian umum tentang kepribadian. Selain itu, berikan apresiasi secara wajar, jangan berlebihan. Jika apresiasi Anda otentik dan beralasan, orang lain akan merasakannya.

Situasi Contoh Apresiasi Standar (Kurang Efektif) Contoh Apresiasi Tulus & Spesifik (Sangat Efektif)
Rekan Kerja “Makasih ya bantuannya.” “Rina, terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk menjelaskan spreadsheet itu tadi. Penjelasanmu sangat jernih dan aku jadi paham, ini sangat menghemat waktuku.”
Pasangan “Kamu baik deh.” “Sayang, aku sangat menghargai kamu selalu menyiapkan sarapan meskipun kamu juga sibuk. Itu membuat pagiku jadi lebih ringan dan aku merasa sangat diperhatikan.”
Tim/Bawahan “Kerja tim yang bagus, semuanya!” “Tim, aku sangat bangga dengan presentasi hari ini. Terutama slide analisis kompetitor yang dibuat Andi sangat detail, dan cara Budi menjawab pertanyaan sulit dari klien menunjukkan persiapan kita yang matang. Hebat!”
Petugas Layanan (Hanya diam dan pergi) (Sambil tersenyum) “Terima kasih ya, Mas, atas pelayanannya yang cepat dan ramah. Semoga harinya menyenangkan.”

Tabel di atas menunjukkan perbandingan kontras antara apresiasi yang generik dengan yang spesifik. Perhatikan bagaimana versi yang lebih efektif selalu menyertakan detail dan dampak, membuatnya jauh lebih personal dan bermakna.

Mengintegrasikan Apresiasi Sebagai Kebiasaan Sehari-hari

Tujuan akhir dari mempelajari semua ini adalah untuk menjadikan apresiasi bukan sebagai sebuah “tugas” yang harus diingat, melainkan sebagai sebuah kebiasaan yang mengalir secara alami. Seperti halnya kebiasaan baik lainnya, ini membutuhkan latihan dan konsistensi. Kebaikan yang konsisten, sekecil apa pun, akan menumpuk menjadi sebuah budaya positif di sekitar Anda, baik di rumah maupun di tempat kerja.

Mulailah dengan hal-hal yang paling mudah dijangkau. Ucapkan terima kasih yang tulus kepada sopir ojek online, kasir di supermarket, atau petugas keamanan yang membukakan pintu. Apresiasi tidak hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang melakukan hal-hal besar untuk kita. Mengakui usaha orang-orang di sekitar kita dalam peran sehari-hari mereka adalah latihan yang sangat baik dan menyebarkan kebaikan secara luas. Tindakan ini juga mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki peran penting dalam ekosistem sosial.

Manfaatkan momen-momen transisi dalam sehari. Misalnya, di akhir hari kerja, luangkan waktu dua menit untuk memikirkan: “Siapa yang telah membantuku hari ini? Siapa yang melakukan sesuatu yang luar biasa?” Kemudian, kirimkan pesan singkat atau email apresiasi. Atau saat makan malam bersama keluarga, jadikan “momen apresiasi” sebagai bagian dari obrolan, di mana setiap anggota keluarga berbagi satu hal yang mereka hargai dari anggota keluarga lain hari itu. Cara-cara ini membantu membangun “otot apresiasi” Anda secara terstruktur.

1. Gunakan Teknologi dengan Bijak

Di era digital, teknologi bisa menjadi alat yang ampuh untuk menyebarkan apresiasi. Gunakan fitur mention atau tag di platform komunikasi internal kantor untuk memuji kontribusi rekan kerja secara publik. Manfaatkan kalender untuk mengatur pengingat ulang tahun atau hari jadi penting lainnya, sehingga Anda bisa menjadi orang pertama yang memberikan ucapan tulus.

Namun, berhati-hatilah agar tidak jatuh ke dalam “apresiasi malas”. Sebuah “like” atau emoji jempol memang mudah, tetapi sering kali tidak memiliki dampak emosional yang sama dengan kalimat yang ditulis dengan baik. Gunakan teknologi sebagai kendaraan untuk menyampaikan pesan yang tulus, bukan sebagai pengganti dari ketulusan itu sendiri. Sebuah komentar spesifik di postingan media sosial seseorang jauh lebih berarti daripada sekadar like.

2. Ciptakan "Jurnal Apresiasi"

Jika Anda merasa sulit untuk memulai, cobalah membuat jurnal apresiasi. Setiap malam sebelum tidur, tuliskan 3-5 hal yang Anda syukuri atau apresiasi pada hari itu. Ini bisa tentang orang lain, tentang diri sendiri, atau tentang situasi. Misalnya: “Aku mengapresiasi kesabaran Ibu mendengarkan ceritaku hari ini,” atau “Aku mengapresiasi diriku sendiri karena berhasil menyelesaikan tugas yang sulit.”

Latihan ini memiliki dua manfaat besar. Pertama, ia secara langsung melatih otak Anda untuk mengenali hal-hal positif. Kedua, setelah beberapa saat, Anda akan memiliki “bank ide” apresiasi. Saat Anda membaca kembali jurnal Anda, Anda akan teringat banyak hal baik yang telah dilakukan orang lain, dan ini dapat mendorong Anda untuk mengungkapkannya kepada mereka, bahkan jika sudah sedikit terlambat. Ini adalah alat yang ampuh untuk membangun pola pikir yang positif dan apresiatif dari dalam ke luar.

FAQ – Pertanyaan Umum Seputar Apresiasi

Q1: Apa perbedaan mendasar antara pujian dan apresiasi?
A1: Pujian sering kali berfokus pada hasil atau atribut yang melekat (misalnya, “Kamu pintar,” “Laporanmu bagus”). Sementara itu, apresiasi lebih dalam dan berfokus pada usaha, karakter, atau dampak dari tindakan seseorang. Apresiasi mengakui nilai orang tersebut, bukan hanya apa yang mereka hasilkan. Misalnya, alih-alih “Laporanmu bagus” (pujian), lebih baik “Aku sangat mengapresiasi riset mendalam yang kamu lakukan untuk laporan ini, itu membuat argumen kita jauh lebih kuat” (apresiasi).

Q2: Bagaimana cara mengapresiasi atasan tanpa terkesan menjilat atau mencari muka?
A2: Kuncinya adalah fokus pada perilaku profesional dan dampaknya pada Anda atau tim, bukan pada sanjungan personal. Hindari kalimat seperti “Bapak adalah atasan terbaik.” Sebaliknya, gunakan kalimat spesifik seperti, “Terima kasih, Bu, atas arahan yang jelas dalam rapat tadi. Itu sangat membantu tim kami untuk memahami prioritas dan langkah selanjutnya.” Apresiasi seperti ini menunjukkan bahwa Anda menghargai kepemimpinan mereka yang efektif dan ini terdengar profesional serta tulus.

Q3: Apakah apresiasi non-verbal seperti memberi hadiah kecil sama kuatnya dengan ucapan?
A3: Bisa ya, bisa tidak, tergantung pada penerimanya. Menurut konsep The 5 Love Languages oleh Dr. Gary Chapman, setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam memberi dan menerima ungkapan kasih sayang (termasuk apresiasi). Ada yang lebih menghargai kata-kata penegasan (Words of Affirmation), ada yang lebih menghargai tindakan pelayanan (Acts of Service) atau menerima hadiah (Receiving Gifts). Cara terbaik adalah mengenali preferensi orang tersebut. Namun, sebagai aturan umum, menggabungkan keduanya sering kali menjadi yang paling ampuh. Berikan hadiah kecil sambil mengucapkan kalimat apresiasi yang tulus.

Q4: Saya sendiri merasa canggung atau tidak nyaman saat menerima apresiasi. Bagaimana cara meresponsnya dengan baik?
A4: Ini adalah perasaan yang sangat umum. Banyak orang merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian. Alih-alih menolak pujian (“Ah, ini bukan apa-apa”), cobalah untuk menerimanya dengan anggun. Cukup katakan "Terima kasih, saya sangat senang mendengarnya" atau "Terima kasih, saya senang bisa membantu." Menerima apresiasi dengan baik juga merupakan bentuk kebaikan, karena itu memvalidasi perasaan tulus si pemberi dan mendorong mereka untuk terus melakukannya di masa depan.

Kesimpulan

Memberi apresiasi yang tulus adalah salah satu bentuk kebaikan yang paling sederhana namun paling berdampak yang bisa kita praktikkan. Ini lebih dari sekadar sopan santun; ini adalah alat yang kuat untuk membangun koneksi, meningkatkan moral, menyebarkan positivitas, dan memperkuat hubungan di semua aspek kehidupan. Dengan membangun pola pikir yang jeli, melatih diri untuk menjadi spesifik, dan konsisten dalam tindakan, kita dapat mengubah interaksi sehari-hari menjadi momen-momen yang penuh makna.

Ingatlah bahwa apresiasi adalah investasi emosional. Semakin banyak Anda memberi, semakin banyak kebaikan yang akan Anda terima kembali, menciptakan sebuah siklus positif yang tak ternilai harganya. Mulailah hari ini. Cari satu orang di sekitar Anda, perhatikan satu hal baik yang telah mereka lakukan, dan sampaikan apresiasi Anda dengan tulus. Anda mungkin akan terkejut dengan kekuatan luar biasa yang terkandung dalam tindakan sederhana tersebut.

***

Ringkasan Artikel

Artikel ini membahas secara mendalam tentang cara memberi apresiasi yang tulus sebagai bentuk kebaikan, menyoroti pentingnya apresiasi bagi kesehatan mental dan penguatan hubungan. Fondasi utama dari apresiasi yang tulus adalah membangun pola pikir yang jeli, fokus pada niat dan usaha, serta menyingkirkan ego. Artikel ini memberikan panduan praktis untuk memberikan apresiasi dalam berbagai bentuk—verbal, tulisan, dan tindakan—dengan penekanan pada prinsip spesifik, personal, dan tepat waktu. Selain itu, dibahas pula cara mengatasi hambatan umum seperti rasa canggung dan takut dianggap tidak tulus, serta strategi untuk mengintegrasikan apresiasi sebagai kebiasaan sehari-hari melalui latihan kecil, penggunaan teknologi yang bijak, dan jurnal apresiasi. Dilengkapi dengan tabel perbandingan dan FAQ, artikel ini menyimpulkan bahwa apresiasi adalah investasi emosional yang kuat untuk menciptakan siklus kebaikan.

Amal Zakat

Melalui situs amalzakat, kita bisa berkontribusi pada kebaikan. Temukan makna dalam berbagi untuk kesejahteraan bersama.