7 Tata Cara Aqiqah dalam Islam yang Perlu Anda Ketahui
Aqiqah merupakan salah satu bentuk ibadah dan syukur atas kelahiran seorang anak dalam ajaran Islam. Menjalankan tata cara aqiqah dalam Islam dengan benar bukan hanya mengikuti tuntunan agama, tetapi juga menunjukkan kepedulian sosial melalui pembagian daging kepada sesama. Oleh karena itu, pemahaman yang tepat menjadi sangat penting agar pelaksanaannya sah dan penuh berkah.
Artikel ini akan mengulas secara lengkap dan terstruktur mengenai tata cara aqiqah dalam Islam. Mulai dari hukum, waktu yang disunnahkan, jumlah hewan, hingga doa-doa yang dibacakan. Dengan memahami panduan ini, diharapkan Anda bisa melaksanakan aqiqah sesuai tuntunan syariat dan mendatangkan keberkahan bagi keluarga.
Hukum dan Tujuan Aqiqah
Aqiqah memiliki kedudukan penting dalam Islam. Walaupun bukan ibadah wajib, aqiqah sangat dianjurkan (sunnah muakkad) sebagai bentuk rasa syukur atas karunia kelahiran anak. Rasulullah SAW mencontohkan pelaksanaan aqiqah dalam keluarga beliau, menjadikannya amalan yang dicontoh oleh umat Islam hingga hari ini.
Tujuan utama dari aqiqah adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sekaligus menebar kebaikan melalui pembagian daging kepada kerabat dan fakir miskin. Selain itu, aqiqah juga dianggap sebagai media untuk melepaskan anak dari gangguan setan dan sebagai bentuk doa kebaikan bagi masa depannya.
1. Waktu Pelaksanaan Aqiqah
Pelaksanaan aqiqah yang disunnahkan adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa seorang anak tergadai dengan aqiqahnya yang disembelihkan pada hari ketujuh.
Jika pada hari ketujuh belum memungkinkan, maka pelaksanaan bisa dilakukan pada hari ke-14 atau ke-21. Jika tetap belum bisa, maka boleh dilakukan kapan saja selama masih memungkinkan secara finansial dan fisik. Namun, lebih cepat tentu lebih baik karena sesuai dengan sunnah Nabi.
2. Jumlah Hewan yang Disembelih
Dalam pelaksanaan aqiqah, jumlah hewan disesuaikan dengan jenis kelamin anak. Untuk anak laki-laki, dianjurkan menyembelih dua ekor kambing atau domba. Sementara untuk anak perempuan cukup satu ekor saja. Hal ini sesuai dengan hadits-hadits sahih yang diriwayatkan oleh para sahabat.
Meskipun demikian, jika seseorang tidak mampu menyediakan dua ekor kambing untuk anak laki-laki, maka satu ekor pun diperbolehkan. Intinya, pelaksanaan aqiqah tetap harus disesuaikan dengan kemampuan tanpa mengurangi nilai ibadahnya.
3. Syarat dan Ketentuan Hewan Aqiqah
Hewan yang digunakan untuk aqiqah harus memenuhi syarat sah seperti halnya hewan kurban. Di antaranya adalah sehat, tidak cacat, cukup umur (minimal 1 tahun untuk kambing), dan bukan hewan yang memiliki kekurangan fisik seperti pincang atau buta.
Penting juga memastikan bahwa hewan yang digunakan dalam aqiqah benar-benar halal dan layak secara syariat. Dengan memperhatikan ketentuan ini, ibadah aqiqah akan menjadi sah dan mendapatkan pahala yang sempurna.
4. Cara Penyembelihan yang Sesuai Sunnah
Penyembelihan hewan aqiqah sebaiknya dilakukan oleh seorang Muslim yang memahami tata cara menyembelih hewan secara syar’i. Saat penyembelihan, dianjurkan membaca basmalah dan takbir, serta menyebut nama anak yang diaqiqahkan.
Contohnya, membaca: “Bismillah, Allahu Akbar, aqiqah ini untuk [nama anak]”. Dengan menyebutkan nama anak, niat ibadah ini menjadi lebih spesifik dan jelas. Sunnah lainnya adalah menghadap ke kiblat dan menggunakan pisau yang tajam agar hewan tidak tersiksa.
5. Pembagian dan Pengolahan Daging Aqiqah
Berbeda dengan kurban, daging aqiqah boleh dibagikan dalam keadaan sudah dimasak. Justru, sangat dianjurkan untuk memasaknya terlebih dahulu sebelum diberikan kepada orang lain. Ini juga memudahkan penerima dalam mengonsumsinya.
Daging aqiqah biasanya dibagikan kepada kerabat, tetangga, dan fakir miskin. Tidak ada larangan bagi keluarga yang beraqiqah untuk ikut menikmati daging tersebut, bahkan dianjurkan untuk turut menikmatinya sebagai bentuk kebersamaan.
6. Mencukur Rambut dan Memberi Nama
Pada hari pelaksanaan aqiqah, sunnah lainnya yang perlu dilaksanakan adalah mencukur rambut bayi dan memberi nama yang baik. Rambut yang telah dicukur kemudian ditimbang, dan disedekahkan seberat timbangan rambut itu dalam bentuk emas atau perak.
Pemberian nama sebaiknya dilakukan bersamaan dengan aqiqah. Nama yang diberikan hendaknya memiliki makna yang baik dan menjadi doa bagi si anak kelak. Ini menjadi bentuk tanggung jawab orang tua terhadap masa depan anak secara spiritual.
7. Membaca Doa dan Harapan Kebaikan
Selain prosesi fisik seperti menyembelih hewan dan mencukur rambut, pelaksanaan aqiqah juga disertai dengan doa-doa. Doa ini dipanjatkan sebagai harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang soleh/solehah, sehat, dan mendapat perlindungan Allah SWT.
Doa yang bisa dibacakan antara lain: “Ya Allah, jadikanlah anak ini menjadi anak yang shaleh, berbakti kepada orang tua, dan bermanfaat bagi agama dan bangsa.” Doa ini tidak hanya dilafalkan saat acara, tetapi juga menjadi harapan jangka panjang orang tua terhadap anak.
Pentingnya Memahami Nilai Sosial dalam Aqiqah
Lebih dari sekadar ibadah personal, aqiqah memiliki nilai sosial yang tinggi. Daging yang dibagikan menjadi bentuk nyata solidaritas dan kasih sayang kepada sesama, terutama mereka yang membutuhkan. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang menekankan kepedulian sosial.
Dalam konteks yang lebih luas, aqiqah juga bisa menjadi momen mempererat hubungan antar tetangga dan keluarga. Kebersamaan dalam merayakan kelahiran anak menjadi kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dan memperkuat tali silaturahmi.
Rekomendasi Amalan Tambahan
Selain aqiqah, ada berbagai amalan sunnah lain yang bisa dilakukan orang tua untuk menambah keberkahan atas kelahiran anak. Salah satunya adalah dengan memperbanyak dzikir dan bersedekah di hari Jumat, hari yang penuh keutamaan.
Sebagai referensi, Anda bisa membaca panduan lengkap mengenai amalan terbaik di hari Jumat yang relevan dan bisa dijadikan pelengkap ibadah aqiqah. Penjelasannya sangat humanis dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Tata cara aqiqah dalam Islam merupakan panduan penting bagi setiap Muslim dalam menyambut kelahiran anak. Ibadah ini bukan hanya bentuk syukur kepada Allah, tetapi juga menjadi sarana kebaikan sosial dan pendidikan spiritual sejak dini bagi anak. Pelaksanaan aqiqah mencakup berbagai hal mulai dari penyembelihan hewan, pemberian nama, hingga doa-doa yang mengiringi.
Dengan memahami tata cara aqiqah dalam Islam secara menyeluruh, umat Muslim dapat menjalankannya dengan lebih tenang dan terarah. Aqiqah bukan sekadar tradisi, tetapi sarat dengan nilai ibadah dan cinta kasih. Oleh karena itu, penting bagi setiap keluarga Muslim untuk menunaikannya sesuai tuntunan syariat, agar keberkahan dan ridha Allah senantiasa menyertai anak dan keluarga.
FAQ Seputar Tata Cara Aqiqah dalam Islam
1. Apa hukum aqiqah dalam Islam?
Aqiqah hukumnya sunnah muakkad, yaitu sangat dianjurkan namun tidak wajib dilakukan.
2. Kapan waktu terbaik untuk melakukan aqiqah?
Waktu terbaik adalah hari ketujuh setelah kelahiran, tetapi bisa dilakukan di hari ke-14, ke-21, atau kapan pun jika belum mampu.
3. Apakah daging aqiqah harus dimasak sebelum dibagikan?
Ya, dalam aqiqah disunnahkan membagikan daging yang sudah dimasak kepada penerima.
4. Bolehkah orang tua memakan daging aqiqah?
Boleh, bahkan dianjurkan agar orang tua turut serta menikmati hidangan aqiqah sebagai bentuk syukur.
5. Apa perbedaan aqiqah dan kurban?
Perbedaan utama terletak pada waktu pelaksanaan, jumlah hewan, dan pembagian daging (aqiqah boleh dimasak, kurban sebaiknya dibagikan mentah).