Kebijakan Baru: BBM Subsidi Bakal Naik Jika Minyak Dunia Tembus USD 92 per Barel, Ini Faktanya
BBM Subsidi Mungkin Dinaikkan Jika Harga Minyak Dunia Capai USD 92 per Barel
JAKARTA – Pemerintah sedang mencari solusi agar BBM subsidi tidak mengalami kenaikan saat harga minyak global sedang tinggi. Faktor utama yang dikhawatirkan adalah kemungkinan defisit anggaran 2026 melebar di atas batas aman 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Salah satu skenario yang dipertimbangkan adalah penyesuaian harga BBM subsidi jika harga minyak mentah mencapai USD 92 per barel.
Langkah Antisipatif Pemerintah
Minister of Finance Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pihaknya telah menganalisis dampak perubahan harga minyak terhadap keuangan negara. Simulasi menunjukkan tekanan signifikan pada defisit anggaran jika harga minyak melebihi ambang USD 92. “Kalau harga minyak naik ke 92 dolar AS per barel, apa dampaknya ke defisit? Kalau tidak melakukan apa-apa, defisit kita naik ke 3,6 sampai 3,7 persen dari PDB,” ujar Purbaya.
Kebijakan Mitigasi Fiskal
Untuk mengatasi tekanan ini, Kementerian Keuangan merencanakan berbagai langkah penghematan. Contohnya, penundaan proyek fisik yang belum mencapai tahap kritis, realokasi dana pembelian barang ke subsidi energi, serta penjagaan kelanjutan program bantuan sosial. Selain itu, belanja negara akan fokus pada kebijakan yang langsung berdampak pada kesejahteraan rakyat.
Pilihan Terakhir Jika Anggaran Terbatas
Purbaya mengakui kenaikan harga BBM tetap menjadi opsi terakhir jika ruang fiskal sangat sempit. “Kalau memang anggarannya tidak kuat sekali, tidak ada jalan lain, ya kita share dengan masyarakat sebagian. Artinya ada kenaikan BBM kalau memang,” tambahnya.
Baca selengkapnya: 4 Fakta BBM Subsidi Bakal Naik Jika Minyak Dunia Tembus USD 92 per Barel (Taufik Fajar) Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.



