Momen Bersejarah: Luhut: Minyak Bisa Tembus 150 Dollar AS per Barrel Jika Perang Iran-Israel Membesar
Luhut: Harga Minyak Global Berpotensi Mencapai 150 Dollar AS per Barrel Jika Konflik Iran-Israel Memuncak
Kemarin, dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan mengungkap proyeksi harga minyak mentah global yang tergantung pada tingkat eskalasi konflik antara Iran dan Israel. Pemerintah telah menyusun tiga kemungkinan skenario utama untuk memprediksi arah pergerakan harga minyak dalam waktu dekat.
Scenario Paling Berat: Konflik Memuncak
Luhut menegaskan, jika perang antara Iran dan Israel membesar dalam satu hingga dua minggu ke depan, harga minyak bisa melonjak hingga 150 dollar AS per barrel. Angka ini setara dengan Rp 2.475.000 per barrel. Proyeksi tersebut berdasarkan skenario terberat, di mana tindakan militer Teluk dapat menyebabkan gangguan signifikan terhadap rantai pasok energi global.
“Kami menyusun berbagai skenario, dengan fokus pada perubahan harga minyak dalam satu hingga dua minggu mendatang. Jadi selama Lebaran, semuanya bisa berjalan baik-baik,” ujarnya.
Konflik Berkepanjangan: Harga Minyak Stabil di 80-110 Dollar AS
Dalam skenario tengah, konflik di Timur Tengah diperkirakan berlangsung lebih lama tanpa pengembangan besar-besaran. Pada situasi ini, harga minyak dunia kemungkinan bergerak antara 80 hingga 110 dollar AS per barrel, atau sekitar Rp 1.320.000 sampai Rp 1.815.000 per barrel. Faktor utamanya adalah pembatasan akses Selat Hormuz, serangan presisi yang terus berlangsung, dan sanksi yang diperketat terhadap Iran.
Iran diperkirakan akan memulihkan sebagian kapasitas rudal dan drone mereka, namun situasi tetap bisa memburuk jika proses transisi politik di negara tersebut gagal. “Kemudian juga kalau kita lihat, eskalasi ini bisa ke gagal total Dewan Transisi, karena mereka berharap akan terjadi transisi di Iran. Tapi kalau itu sampai gagal terus Pak, ya itu juga tidak mudah untuk mengatasinya,” tambahnya.
Deeskalasi Konflik: Harga Minyak Turun ke 65-80 Dollar AS
Jika ketegangan militer antara kedua pihak menurun atau tercapai gencatan senjata, produksi dan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah diprediksi kembali stabil. Dalam kondisi ini, harga minyak global diperkirakan akan berada di kisaran 65 hingga 80 dollar AS per barrel, atau sekitar Rp 1.072.500 hingga Rp 1.320.000 per barrel.
Airlangga Hartarto, dalam kesempatan berbeda, menyebutkan bahwa utang Indonesia masih berada di level terendah di dunia. Namun, ketergantungan pada skenario konflik Timur Tengah tetap menjadi fokus utama pemerintah dalam memperkirakan volatilitas pasar energi global.



