Strategi Penting: Di Balik Aksi Mundur Serentak Bos BEI-OJK, Perbaikan IHSG Diharap Tak Bermuatan Politis
JAKARTA, KOMPAS.com
Lima pejabat mengundurkan diri setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada Rabu dan Kamis pekan ini. Pertama, Iman Rachman resmi mengakhiri jabatannya sebagai direktur utama PT Bursa Efek Indonesia Tbk pada Jumat (30/1/2026). Diikuti oleh empat pejabat OJK yang juga mengambil langkah serupa.
Pertama, Mahendra Siregar dan Inarno Djajadi Mundur
Dari OJK, Mahendra Siregar mengundurkan diri dari jabatan Ketua Dewan Komisioner. Wakil Ketua Dewan Komisioner Mirza Adityaswara juga ikut mengajukan pengunduran diri. Selain itu, Inarno Djajadi meninggalkan posisi Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (PMDK), serta I. B. Aditya Jayaantara menyatakan pensiun dari jabatan Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon.
“Bukan pada pergantian figur semata,” kata Rizal Taufikurahman, ekonom sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF kepada Kompas.com, Jumat (30/1/2025).
Dalam konteks ini, Rizal mengingatkan bahwa pengunduran diri yang terjadi beruntun justru meningkatkan ketidakpastian jangka pendek. Pasalnya, pelaku pasar membutuhkan waktu untuk mengevaluasi apakah perubahan ini memperkuat atau melemahkan fungsi pengawasan serta tata kelola pasar keuangan.
Risiko utama dari peristiwa ini, menurut Rizal, tidak hanya terdapat pada aksi mundur itu sendiri, tetapi juga pada narasi dan proses transisi yang mengikutinya. Ia menambahkan, jika penggantian pejabat dilakukan cepat, transparan, dan berbasis kompetensi, pasar dapat menafsirkan sebagai upaya perbaikan tata kelola. Namun, bila proses tersebut menimbulkan persepsi politisasi, melemahnya independensi regulator, atau ketidakjelasan arah kebijakan pasar modal, volatilitas berpotensi berlanjut dan risk premium investor akan meningkat.
“Dalam kondisi seperti ini, IHSG tidak hanya bereaksi terhadap faktor domestik, tetapi juga bisa lebih rentan terhadap tekanan eksternal karena fondasi kepercayaan institusionalnya sedang diuji,” ungkap Rizal.
Di samping itu, ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengatakan bahwa mundurnya Ketua OJK dan anggota Dewan Komisioner membuat semua pihak terkejut.
“Sepertinya ada tekanan dari eksekutif, dari presiden terutama perubahan porsi besar-besaran asuransi dan jasa keuangan dalam investasi di saham,” kata Bhima ketika dihubungi Kompas.com.
Ia mengungkapkan bahwa dalam periode krisis, perubahan kebijakan bisa berdampak signifikan terhadap kepercayaan investor. Pengunduran diri pejabat yang massal dinilai sebagai indikator ketidakstabilan struktur kebijakan pasar modal.