New Policy: Final IBL: Singleton Sebut Gim 2 Tak Cerminkan Kualitas Pelita Jaya
Final IBL: Singleton Kritik Performa Tim di Gim Kedua
New Policy - Jakarta, Beritasatu.com — Dalam pertandingan gim kedua babak final Indonesian Basketball League (IBL) 2026, tim Pelita Jaya mengalami kekalahan telak dari Bogor Hornbills dengan skor 63-83. Kekalahan ini membuat seri final yang menggunakan format best-of-five menjadi 1-1, memberi peluang bagi kedua tim untuk memperbaiki posisi mereka. Pertandingan berlangsung di PJ Arena, Jakarta, pada hari Minggu (21/6/2026), dan menurut pelatih Pelita Jaya, David Singleton, timnya tidak menampilkan performa terbaik. "Kami tidak mampu menampilkan kekuatan maksimal hari ini," ujarnya, menyampaikan kekecewaan atas hasil yang diperoleh.
Kekalahan tersebut terjadi karena dominasi Bogor Hornbills yang terus-menerus menguasai permainan. Tim tuan rumah kesulitan menahan tekanan lawan, terutama di sektor poin yang berasal dari area paint dan second chance points. Data pertandingan menunjukkan bahwa Bogor Hornbills mampu mengoleksi 42 poin dari area paint serta 20 poin tambahan melalui kesempatan kedua. Sementara itu, Pelita Jaya tercatat melakukan 22 turnover yang berujung pada kehilangan 25 poin krusial. Angka-angka ini menggambarkan ketidakstabilan permainan tim yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu kandidat kuat di babak final.
Rekor Buruk di Final
Ini bukan pertama kalinya Pelita Jaya mengalami kekalahan telak di babak final IBL. Sejak liga berjalan, tim ini sudah tiga kali gagal meraih gelar dengan selisih skor 20 poin. Kekalahan pada 2017, 2021, dan kini 2026 membentuk catatan buruk yang sulit diubah. "Kami sudah mempersiapkan diri intensif selama lima hingga enam bulan terakhir. Namun, hari ini kami justru mengekspos kelemahan yang seharusnya tidak terlihat di babak semifinal," keluh Singleton. Ia menilai gim kedua tidak mencerminkan kemampuan tim yang dianggap sebagai salah satu pemain kunci dalam kompetisi musim ini.
“Penampilan di gim kedua sama sekali tidak mencerminkan kami sebagai tim terbaik di liga. Padahal, kami sudah berlatih intensif bersama selama lima hingga enam bulan terakhir. Sayangnya, kami justru mengekspos kelemahan sendiri di momen krusial ini. Tentu ini sangat mengecewakan dan mengejutkan,” ujar David Singleton.
Kapten Pelita Jaya, Andakara Prastawa Dhyaksa, mengakui bahwa timnya menghadapi berbagai tantangan yang mengganggu fokus pertandingan. "Masalah foul trouble benar-benar menyulitkan kami di gim kedua. Banyak pemain mengalami kesulitan mengontrol pelanggaran, sehingga memengaruhi alur permainan. Masih banyak aspek yang harus segera diperbaiki, dan kami bertekad bermain jauh lebih baik di gim ketiga nanti," katanya. Dhyaksa juga menyebut bahwa kinerja para pemain menjadi faktor utama dalam keberhasilan mengatasi kekurangan teknis.
Dalam persiapan menuju gim ketiga, Singleton menekankan pentingnya mentalitas pemain sebagai penentu kebangkitan tim. "Saya bisa merancang strategi untuk meningkatkan kinerja tim, dan secara teknis kita hanya butuh sedikit perbaikan. Namun, pada akhirnya semua kembali kepada para pemain. Keputusannya ada di tangan mereka, apakah mau bangkit di gim ketiga atau tidak," tegasnya. Ia berharap pemain mampu memperbaiki mental dan sikap di lapangan, terutama setelah mengalami kekalahan di kandang sendiri.
Modal Positif untuk Gim Ketiga
Sebagai tim yang konsisten dalam fase playoff, Pelita Jaya masih memiliki keuntungan. Pada musim ini, mereka mencatatkan rekor sempurna dengan tiga kemenangan tandang, termasuk sekali di markas Rans Simba Bogor dan dua kali di kandang Dewa United Banten. Hasil ini menunjukkan bahwa tim memiliki kemampuan adaptasi yang baik ketika bermain di luar kandang. Singleton berharap keunggulan ini bisa menjadi bekal untuk mengatasi kelemahan yang terungkap di gim kedua.
Keberhasilan kemenangan tandang sebelumnya menjadi bukti bahwa Pelita Jaya mampu menghadapi tekanan dan tetap mempertahankan performa. Namun, kekalahan hari Minggu (21/6/2026) membawa dampak signifikan, terutama dalam mental para pemain. "Kami harus bangkit, karena setiap pertandingan di babak final memiliki arti penting. Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan kemampuan sebenarnya," kata Singleton, memberi semangat kepada tim sebelum pertandingan berikutnya.
Sementara itu, Dhyaksa meminta para pemain untuk lebih waspada dan memperbaiki kesalahan yang terjadi. "Kami harus belajar dari kekalahan ini. Banyak hal yang bisa diperbaiki, dan semangat untuk menang masih ada di dalam diri setiap anggota tim. Kami percaya bahwa dengan kerja keras, kami bisa mengubah keadaan di gim ketiga," ujarnya. Dengan persiapan yang matang, Pelita Jaya berharap mampu mengejar ketertinggalan dan memperkuat dominasi mereka di babak final.
Pertandingan gim ketiga akan menjadi ujian kritis bagi Pelita Jaya. Kemenangan di gim ini akan membawa mereka kembali ke jalur kemenangan, sementara kekalahan beruntun bisa memperburuk peluang untuk memperjuangkan gelar. Singleton menilai bahwa faktor psikologis dan kepercayaan diri pemain akan menjadi penentu utama. "Ini bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal mental. Jika para pemain bisa lebih fokus dan percaya diri, kami akan mampu memperbaiki performa dan menunjukkan kekuatan sebenarnya," tambahnya.
Dengan kekalahan di gim kedua, Pelita Jaya harus segera mengevaluasi strategi dan taktik yang digunakan. Mereka akan fokus pada perbaikan komunikasi antar pemain, pengurangan turnover, serta peningkatan kontrol bola di lapangan. Kesempatan untuk bangkit masih ada, dan Singleton yakin tim memiliki potensi besar untuk meraih kemenangan di gim berikutnya. "Kami tidak akan menyerah. Setiap pertandingan adalah kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaik, dan kami siap melakukannya," pungkas pelatih yang berharap pengalaman di playoff bisa menjadi fondasi keberhasilan di babak final.
Pada akhirnya, hasil gim kedua menjadi bahan evaluasi bagi seluruh tim. Meski ada kekecewaan, mereka juga menyadari bahwa peningkatan kualitas dan konsistensi perlu terus dicari. Kemenangan