Kata-kata Indra Sjafri Usai Timnas U22 Indonesia Gugur dari SEA Gam

Kemenangan Tidak Cukup: Garuda Muda Gugur di SEA Games 2025

Satu hari sebelumnya, atmosfer Stadion 700th Anniversary di Chiang Mai, Thailand, dipenuhi dengan antusiasme yang menggelegar. Timnas U22 Indonesia, yang dinamakan Garuda Muda, berhasil memperlihatkan kemampuan mereka dalam menang atas Myanmar dengan skor 3-1. Tapi, di balik keberhasilan itu, ada kekecewaan yang tak terelakkan: kemenangan tersebut ternyata tidak cukup untuk menyelamatkan peluang mereka melangkah ke semifinal. Apakah kamu bisa membayangkan bagaimana kekecewaan yang mengguncang atmosfer stadion, meski mereka sempat bangkit dari ketertinggalan?

Dari Ketinggalan ke Kemenangan: Drama di Stadion Chiang Mai

Perjalanan laga melawan Myanmar tidak mudah bagi Garuda Muda. Sejak menit awal, mereka terlihat kewalahan saat Min Maw Oo mencetak gol pembuka di menit ke-29. Namun, timnas U22 Indonesia tak menyerah. Dengan semangat yang tak terkalahkan, mereka mengubah ketertinggalan menjadi kebangkitan melalui gol sontekan Toni Firmansyah di menit ke-45. Penampilan membara juga ditunjukkan oleh Jens Raven, yang mencetak dua gol dalam waktu singkat—di menit ke-89 dan 90+5—untuk memastikan kemenangan. Tapi, sejarah tak bisa diubah: meski menang, mereka tetap tersingkir.

“Pertama-tama, kita tidak lolos grup,”

tutur Indra Sjafri usai laga, dilansir dari Antara.

Penjelasan itu seolah mengguncang hati para penggemar. Meski menghasilkan tiga gol, kemenangan 3-1 tidak cukup menggeser Malaysia dari puncak klasemen grup. Kegagalan ini memicu pertanyaan: apakah Garuda Muda sudah kehilangan semangat untuk menggenggam emas? Tapi, bukan hanya itu, Indra Sjafri pun mengambil langkah tegas: mempertanggungjawabkan hasil tersebut secara teknis.

Indra Sjafri Ambil Tanggung Jawab: Kehilangan Emas dan Kesedihan

Setelah laga, pelatih yang sebelumnya membawa Timnas U22 Indonesia meraih emas SEA Games 2025 ini memberikan pengakuan yang tajam.

“Secara teknis, orang yang paling bertanggung jawab adalah saya,”

ujarnya, seperti dikutip dari Antara. Kalimat itu jelas seperti menembak ke langit: Ia berjanji akan mengambil alih tanggung jawab atas kegagalan yang membuat mimpi emas hancur. Ternyata, ini bukan kali pertama Garuda Muda mengalami hal serupa—16 tahun lalu, mereka juga gagal keluar dari fase grup di Laos.

“Jadi, saya mohon maaf (kepada) semua masyarakat Indonesia. Dan, secara teknis saya ulangi lagi ini tanggung jawab saya,”

kata Indra Sjafri menegaskan.

Kata-kata tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan ke SEA Games 2025 bukan hanya tentang teknik sepak bola, tapi juga tentang konsistensi. Tapi, di balik penyesalan, ada pelajaran yang bisa diambil: kegagalan ini mungkin menjadi bahan evaluasi untuk mengubah nasib di masa depan. Apakah Garuda Muda siap bangkit dari sisa emas yang terlewat? Kita akan melihatnya di babak berikutnya.