Kebijakan Baru: Sederet Negara yang Kecam Serangan Israel-AS ke Iran, Tak Cuma Rusia dan China
Sederet Negara yang Kecam Serangan Israel-AS ke Iran, Tak Cuma Rusia dan China
Beberapa negara mengkritik tindakan Israel dan Amerika Serikat (AS) dalam operasi militer yang menargetkan Iran. Serangan tersebut terjadi pada Sabtu (28/2/2026), dengan Israel dan AS menyerang kota-kota di Iran, termasuk Teheran, dalam operasi bernama “Operasi Tempur Besar”. Peristiwa ini berlangsung di tengah proses negosiasi mengenai program nuklir serta rudal balistik Iran setelah ancaman dari Washington meningkat selama beberapa minggu. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal ke wilayah utara Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Trump: Serangan AS Bertujuan Menghancurkan Industri Rudal Iran
Menurut pernyataan Trump, tujuan serangan militer AS adalah untuk mempercepat penghancuran sistem rudal Iran dan mengurangi ancaman dari pemerintah tersebut. Ia menyebut operasi tersebut sebagai serangan masif yang sedang berlangsung. “Slogan ‘America First’ telah diubah menjadi ‘Israel First’, yang berarti ‘America Last’,” tulis Trump dalam sebuah pernyataan. Menurutnya, pasukan Iran yang kuat siap memberikan pelajaran kepada para agresor.
“Netanyahu dan perang Trump terhadap Iran sepenuhnya tidak diprovokasi, ilegal, dan tidak sah. Pasukan Bersenjata kami yang kuat siap untuk hari ini dan akan mengajarkan kepada para agresor pelajaran yang pantas mereka terima,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam unggahan X.
Reaksi Rusia: Serangan Memicu Eskalasi di Timur Tengah
Rusia, sebagai sekutu Iran, mengutuk serangan tersebut dan mengingatkan bahwa tindakan ini berpotensi memperparah ketegangan di kawasan. Duta Besar Rusia Vasily Nebenzia menyatakan bahwa agresi terhadap Iran bisa memperluas konflik jauh ke luar perbatasan. “Serangan yang terjadi hari ini menyebabkan eskalasi di kawasan itu dan dapat meluas,” ujarnya, dikutip dari BBC.
Sebelumnya, Moskow menegaskan bahwa serangan AS-Israel dianggap tidak bertanggung jawab, dengan tujuan mengganggu perdamaian dan stabilitas Timur Tengah. Kementerian Luar Negeri China juga mengungkapkan kekecewaan atas tindakan AS dan Israel, serta menyerukan gencatan senjata segera. Mereka mendesak semua pihak untuk menghindari perang dan melanjutkan dialog.
Perundingan dengan Iran Dihentikan Setelah Serangan
Sebelum serangan, negosiasi antara Iran dan pihak internasional sedang berlangsung. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyatakan optimisme bahwa perdamaian sudah tercapai setelah Iran menyetujui tidak menimbun uranium. Namun, beberapa jam setelah serangan, kekerasan kembali meledak, menghentikan perundingan tersebut. Albusaidi mengungkapkan kekecewaannya dan meminta Washington untuk tidak semakin terlibat dalam konflik.
“Saya merasa kecewa. Negosiasi yang aktif dan serius sekali lagi telah rusak. Baik kepentingan AS maupun tujuan perdamaian dunia tidak dilayani dengan baik oleh hal ini. Saya mendesak Amerika Serikat agar tidak semakin terseret lebih jauh. Ini bukan perang Anda,” tulis Albusaidi dalam unggahan X.
Pemerintah Brasil juga menyampaikan kecaman terhadap serangan AS dan Israel, serta mengungkapkan keprihatinan terhadap situasi Iran. “Serangan-serangan itu terjadi di tengah proses negosiasi antar pihak yang menjadi satu-satunya jalan menuju perdamaian,” katanya, dikutip dari Reuters. Mereka menyerukan semua pihak untuk menghormati hukum internasional dan menahan diri agar konflik tidak memburuk.
Di sisi lain, pertanyaan muncul mengenai konsekuensi jika Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, tewas dalam serangan. Apakah Reza Pahlavi, seorang eksil, akan kembali ke Iran setelah 47 tahun pengasingan? Sementara itu, sejumlah sumber mengungkapkan tujuan AS ikut campur dalam serangan tersebut, termasuk lima alasan yang diberikan Trump.



