Rencana Khusus: Berbondong-bondong Warga Israel Daftar Jadi Warga

Antrean Panjang di Kedutaan Portugal: Memburuan Paspor yang Bisa Memberi Keamanan

Nah, siapa sangka satu hari di tengah malam, ribuan warga Israel tiba-tiba berdesak-desakan di luar Kedutaan Besar Portugal di Ramat Hasharon? Tak ada kejadian yang dramatis atau klaim kecil kecilan, tapi antrean yang mengular dari pintu masuk hingga ke area parkir bawah tanah. Mereka datang tanpa jadwal, memburu peluang untuk mendaftar kewarganegaraan atau memperbarui paspor, seperti yang diberitakan The Times of Israel pada 1 Desember 2025. Apa yang membuat mereka begitu antusias? Ternyata, kebijakan Portugal yang bisa menjadi pelindung dari ancaman di Israel.

Mengapa Paspor Portugal Menjadi

“Surga”

Bagi Warga Israel?

Kebijakan

“law of return”

Portugal, yang diperkenalkan pada 2015, jadi bahan penasaran bagi banyak warga Israel. Undang-undang ini memungkinkan keturunan Yahudi Sephardi yang berasal dari Portugal—negara yang pernah menjadi tempat penyengketaan mereka—untuk mengajukan kewarganegaraan dengan lebih mudah. Meski ada kebijakan baru yang membuat syarat lebih ketat, seperti wajib tinggal di Portugal selama tiga tahun, banyak orang tetap memburu peluang. Karena, paspor Uni Eropa itu bukan hanya simbol kewarganegaraan, tapi juga kunci kebebasan bergerak dan akses ke manfaat hidup yang lebih nyaman.

“Ribuan warga terbantu dan tidak ada yang terabaikan,”

tulis akun Facebook Kedutaan Portugal. Pengumuman ini menyulap kebijakan yang sebelumnya bisa diakses melalui sistem online menjadi

“kejutan”

yang membuat orang antre sejak hari Jumat (28/11) waktu setempat.

Kebijakan ini bukan sekadar bentuk kebaikan, tapi juga reaksi terhadap situasi geopolitik yang memanas. Sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, warga Israel mulai merasa bahwa kewarganegaraan kedua bisa menjadi pelindung. Mereka ingin memperkuat posisi diri di tengah ketidakstabilan, atau sekadar menghindari risiko tinggi akibat konflik terus berlanjut. Bahkan, beberapa orang tiba sebelum fajar, hanya untuk bisa mendapatkan antrean di depan. Mungkin, bagi mereka, paspor Portugal adalah jaminan untuk melangkah lebih aman ke masa depan.

Kebijakan yang Dirubah: Apakah Ini Bukan

“Kebijakan Kembali”

?

Meski kewarganegaraan Portugal tetap diminati, ada sedikit perubahan yang memicu reaksi. Pada Desember 2023, pemerintah Portugal mengumumkan rencana untuk mengakhiri kebijakan itu, menyebut tujuan pemulangan sudah

“terpenuhi”

. Tapi, undang-undang itu tidak langsung dihapus, melainkan direvisi menjadi lebih restriktif. Kini, calon warga negara harus menunjukkan ikatan yang lebih kuat dengan Portugal, termasuk masa tinggal minimal tiga tahun. Untuk warga Israel, ini seperti menambah syarat yang lebih berat, tapi tetap menarik.

Yang menarik, kebijakan ini justru mencerminkan kebutuhan akan stabilitas. Di tengah ketegangan antara Israel dan Palestina yang terus meningkat, banyak orang memandang Portugal sebagai alternatif yang lebih aman. Tapi, apa yang mereka tahu tentang kehidupan di sana? Mungkin, mereka tidak hanya mengejar keamanan, tapi juga kehidupan yang lebih murah dan damai—seperti yang sering dibayangkan.

Analisis: Kebijakan Kewarganegaraan sebagai

“Jaminan Rasa Aman”

Paspor Portugal jadi simbol kebebasan yang mungkin terasa lebih terjamin. Pasalnya, sebagai negara anggota Uni Eropa, Portugal memberi akses ke perjalanan yang lebih mudah, pajak yang lebih rendah, dan biaya hidup yang lebih terjangkau dibanding Israel. Namun, kenyataannya, pendapatan di sana juga lebih rendah. Mungkin, bagi warga Israel, ini bukan soal tingkat kemakmuran, tapi soal

“jaminan”

yang bisa diperoleh melalui kewarganegaraan kedua.

Soal ini pun mengundang pertanyaan retoris: Apakah kewarganegaraan Portugal bisa menjadi pelindung terakhir dalam sebuah perang yang tak kunjung berakhir? Sejak Oktober 2023, serangan Hamas dan respons Israel yang mematikan membuat kecemasan merambat. Banyak yang beralih ke negara lain, meski mereka mungkin tidak mengharapkan

“halus”

seperti antrean panjang di luar kedutaan. Tapi, itu juga bagian dari kehidupan di tengah situasi yang tidak pasti.

Secara keseluruhan, kebijakan ini menunjukkan bagaimana krisis bisa mengubah prioritas. Masa depan yang terasa berbahaya di Israel membuat warga mencari peluang lain, bahkan jika itu membutuhkan perjuangan panjang. Paspor Portugal mungkin bukan solusi akhir, tapi langkah kecil yang bisa menjadi perisai dalam kelimpahan ketidakpastian.