Strategi Penting: Trump Ubah Nama ‘Kennedy Arts Center’ Jadi ‘Trump

Trump dan Konflik Nama: Sejarah, Kritik, dan Perspektif Global

Ternyata, mengubah nama sebuah tempat sejarah yang bergaya bisa jadi hal yang sangat kontroversial. Di Washington, AS, Presiden Donald Trump membuat keputusan tak terduga dengan mengganti nama ‘Kennedy Arts Center’ menjadi ‘Trump-Kennedy Center’. Tindakan ini tidak hanya memicu reaksi dari keluarga John F. Kennedy, tapi juga mengundang pertanyaan: Apakah nama-nama sejarah bisa direbut begitu saja? Karena konflik ini, kita dibawa ke dalam kisah perlawanan antara keinginan pribadi dengan warisan kolektif.

Perubahan Nama Kennedy Center yang Disengaja

Dewan Kennedy Center, yang sebelumnya dikenal sebagai ‘Kennedy Arts Center’, memutuskan untuk mengganti namanya setelah Trump menyatakan bahwa ia ‘terkejut dan terhormat’ dengan keputusan itu. Tapi, bagaimana bisa seorang presiden yang masih hidup diberi tempat dalam nama monumen yang sejak lama dihormati? Menurut Karoline Leavitt, Sekretaris Pers Gedung Putih, perubahan ini dilakukan karena ‘kerja luar biasa’ Trump dalam menyelamatkan gedung tersebut. Tapi bagi keluarga Kennedy, ini lebih dari sekadar pujian.

“Selamat kepada Presiden Donald J. Trump, dan juga, selamat kepada Presiden Kennedy, karena ini akan menjadi tim yang benar-benar hebat untuk masa depan!”

Leavitt membuka peluang bagi Trump untuk ‘bersejarah’ dengan nama yang baru, tapi keponakan JFK, Maria Shriver, tak setuju. Dia menilai perubahan nama ini seperti menggeser warisan sang ayah yang penuh makna.

“Tidakkah kita melihat apa yang terjadi di sini? Ayolah, sesama warga Amerika! Sadarlah!”

katanya. Mungkin bagi Maria, nama Kennedy adalah peninggalan yang tak bisa direbut begitu saja.

Desakan China ke AS untuk Berhenti Persenjatai Taiwan

Sementara konflik nama Kennedy Center masih hangat, keputusan Trump juga terkait dengan rencana besar lainnya. Ternyata, di luar urusan sejarah, Trump juga sedang mempercepat pembelian senjata besar ke Taiwan. Bukan hanya itu, ia juga berencana membangun gapura kemenangan di Gedung Putih dan memperluas fasilitas dansa. Tapi perubahan nama Kennedy Center ternyata menjadi ‘panah emas’ dalam strategi ini.

“Tidakkah kita melihat apa yang terjadi di sini? Ayolah, sesama warga Amerika! Sadarlah!”

Seorang keponakan JFK, Maria Shriver, mengkritik perubahan ini dengan penuh emosi. Menurutnya, Kennedy Center adalah ‘monumen hidup’ untuk paman buyutnya, John F. Kennedy, dan tidak bisa diubah seperti Monumen Lincoln yang bernama sejak 1914. Tapi, bukankah Trump ingin menunjukkan bahwa ia juga layak menjadi bagian dari sejarah? Mungkin, ia ingin membangun warisan sendiri dengan cara yang berbeda.

AS Restui Penjualan Senjata Terbesar ke Taiwan

Konflik nama Kennedy Center ternyata menjadi bagian dari strategi Trump untuk menunjukkan dominasi politik dan ekonomi. Di sisi lain, AS juga menyetujui penjualan senjata terbesar sepanjang masa ke Taiwan, yang menambah ketegangan dengan Tiongkok. Jadi, apa yang mungkin terjadi jika sebuah tempat sejarah diubah dan rencana persenjatai diluncurkan bersamaan? Ternyata, ini adalah bentuk penguasaan Trump terhadap identitas nasional AS.

Tapi, meski Trump merasa ‘terhormat’ dengan perubahan nama, kritikus seperti Joe Kennedy III, mantan anggota Kongres, menilai ini sebagai tindakan yang tak bisa dianggap remeh.

“Tidak mungkin diganti namanya seperti halnya Monumen Lincoln,”

katanya. Jadi, apakah nama sejarah hanyalah ‘halaman bersejarah’ yang bisa dibuat ulang sesuka hati? Mungkin, ini adalah pertanyaan yang akan terus mengembara sepanjang masa.