What we know about the Brown University shooting suspect who is als

Penghancur Dua Siswa dan Sepuluh Orang Lainnya

Nah, bayangkan saja: di sebuah kampus bergengsi yang dikenal dengan kecerdasan dan kesopanan, tiba-tiba terjadi aksi mengerikan. Seorang pria bernama Claudio Manuel Neves Valente, 48, yang sempat dianggap sebagai mahasiswa pendatang dari Portugal, memicu kisah tragis dengan menembak dua mahasiswa dan melukai sembilan orang lainnya di Brown University. Tapi, ceritanya belum berakhir. Beberapa hari kemudian, ia melangkah lebih jauh dengan menembak seorang profesor MIT, Nuno F.G. Loureiro, hingga tewas. Siapa sangka, semua peristiwa ini berujung pada keberadaan Valente yang akhirnya terungkap dalam sebuah kamar bawah tanah di New Hampshire?

Bagaimana Semua Mulai?

Peristiwa itu terjadi pada hari Sabtu, saat ujian akhir yang sudah dimulai sehari sebelumnya sedang berlangsung. Suara tembakan di lantai pertama Gedung Barus dan Holley menghentikan kegiatan belajar mengajar dan memicu kepanikan. Dalam keadaan terburu-buru, polisi dan tim penyelidik langsung terlibat dalam pencarian terhadap pelaku. Tapi, hingga hari Jumat, tersangka akhirnya ditemukan. Tidak ada yang menyangka bahwa ia akan menemui ajalnya di sebuah unit penyimpanan di Salem, New Hampshire, yang jaraknya sekitar 80 mil dari Providence.

“Kenapa Brown? Saya pikir itu adalah misteri,”

kata Peter Neronha, Jaksa Agung Rhode Island, saat mengungkapkan bahwa Valente didakwa pembunuhan lintas negara. Ia mengatakan tim penyelidik belum menemukan alasan pasti mengapa pria itu menembak.

Analisis dari Neronha ini memicu pertanyaan retoris: apakah ada motivasi tersembunyi yang belum terungkap? Dalam serangan di Brown, Valente menggunakan senapan 9 mm, sementara dalam pembunuhan profesor MIT, ia memilih senjata yang mungkin lebih berat. Tapi, keduanya memiliki kesamaan: misteri yang menggantung, dan kejadian yang terjadi di tempat-tempat yang seharusnya aman. Dari kejauhan, kehidupan Valente tampak seperti seorang peneliti biasa, tapi dari dekat, ia menjadi penjebak yang tak terduga.

Jejak Penyelidikan yang Terbongkar

Ternyata, keberadaan Valente sebelumnya telah diawasi. Seorang warga yang melihat foto tersangka mengirimkan informasi ke polisi, dan kejutan terbesar? Informasi itu langsung membuka kasus. Dari foto, polisi menemukan keterkaitan antara pakaian yang ia kenakan dan pakaian pelaku di Brown. Tapi, itu hanya satu dari banyak petunjuk. Seorang pria yang sempat ditahan setelah aksi, tapi kemudian dilepas karena bukti tidak cukup, menambah kebingungan.

“Saya tidak punya ide mengapa dia melakukan ini sekarang, atau di Brown, atau di kelas itu. Itu benar-benar tidak diketahui oleh kita,”

tambah Neronha.

Analisis ini mengingatkan kita betapa sulitnya memahami niat manusia yang tersembunyi. Meski tim penyelidik bekerja sama dengan berbagai lembaga seperti IRS dan FBI, jawaban tetap terasa seperti angin lalu. Sementara itu, dunia menggigil mengenang aksi berdarah yang terjadi di kampus Ivy League, Valente justru mengambil langkah akhirnya: bunuh diri di unit penyimpanan yang ia sewa. Dengan tindakan itu, ia meninggalkan jejak kehidupan yang sebelumnya tak terduga.

Koneksi yang Tak Terduga

Saat investigasi berjalan, fakta baru mulai muncul. Valente pernah mengenyam masa studi di Brown pada awal 2000-an, sebelum mengundurkan diri pada 2003. Tapi, jalan hidupnya terus berlanjut: ia menempuh pendidikan di universitas yang sama dengan Loureiro di Portugal. Hal ini menghadirkan pertanyaan baru: apakah ada hubungan antara mereka? Atau, apakah Valente hanya melangkah ke kampus-kampus bergengsi untuk menunjukkan kemampuannya menghancurkan?

Pencarian terus berlanjut, bahkan sampai kecil sekali. Video dan foto yang diperlihatkan oleh polisi menunjukkan sosok yang tampak biasa, tapi dalam hitungan detik, ia menjadi bencana. Dengan reward $50.000 dari FBI, dunia mengharapkan ada orang yang dapat membuka kunci misteri ini. Tapi, seperti kata Neronha, jawaban mungkin masih tersisa dalam hati Valente yang pergi ke tempat terakhirnya, sebuah unit penyimpanan yang jadi tempat ia mengakhiri kehidupan.