Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur kembali meletus
Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur Kembali Meletus
Jumat, Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali meletus dengan mengeluarkan kolom abu mencapai sekitar 500 meter di atas puncak. Hal ini diumumkan oleh Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam pernyataan yang diterima di Jakarta.
Erupsi terjadi pada pukul 07.24 Wita, dengan abu yang berwarna kelabu dan intensitas sedang, mengarah ke arah timur laut. Aktivitas vulkanik ini tercatat di seismogram PGA Gunung Lewotobi dengan amplitudo maksimum 7,4 mm serta durasi sekitar 2 menit 47 detik.
“Meski erupsi kembali terjadi, Gunung Lewotobi Laki-laki saat ini masih dalam status Level II atau waspada,” kata Lana Saria.
Menurut data pemantauan, erupsi ini merupakan bagian dari rangkaian kejadian vulkanik sebelumnya setelah letusan terakhir pada Maret 2026. Aktivitas tersebut mengingatkan kembali periode erupsi eksplosif yang terjadi pada 2024 hingga 2025.
Badan Geologi memperingatkan warga dan wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius empat kilometer dari pusat letusan. Selain itu, masyarakat diminta tetap tenang, mengikuti arahan pemerintah setempat, dan memastikan informasi yang didapat berasal dari sumber terpercaya.
Warga diimbau waspada terhadap risiko banjir lahar hujan yang bisa terjadi di sungai berhulu di puncak gunung. Wilayah yang berpotensi terkena dampak meliputi Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote saat hujan deras mengguyur daerah tersebut.
Bagi masyarakat yang terkena abu vulkanik, Badan Geologi merekomendasikan penggunaan masker atau penutup hidung dan mulut untuk melindungi sistem pernapasan dari gangguan.
Aktivitas Vulkanik Bersejarah
Dalam sejarahnya, Gunung Lewotobi Laki-laki dikenal memiliki karakter erupsi eksplosif. Letusan dapat menghasilkan lontaran material pijar, endapan abu, aliran lava, hingga awan panas. Periode erupsinya bervariasi, berkisar antara satu hingga 29 tahun.
Data dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) menunjukkan adanya pola deflasi atau pengempisan tubuh gunung. Hal ini mengindikasikan tidak ada pasokan magma besar dari dalam bumi saat ini.
Erupsi besar terjadi pada November 2024 dan Maret-Oktober 2025. Pada Maret 2025, letusan mencapai kolom abu hingga 8-10 kilometer, dengan aktivitas berlanjut hingga Oktober. Sejumlah lebih dari 500 kepala keluarga harus mengungsi dan direlokasi karena rumah serta lingkungan sekitarnya rusak berat akibat material vulkanik.



