Strategi Zakat 2026 untuk Bisnis Lebih Optimal
Di tahun 2026, zakat tidak lagi bisa diperlakukan sekadar sebagai kewajiban rutin yang dibayarkan “kalau sempat” atau hanya ketika laporan keuangan sudah selesai. Banyak pelaku usaha mulai melihat zakat sebagai bagian dari strategi tata kelola, penguatan keberlanjutan bisnis, dan cara menjaga keberkahan pertumbuhan. Karena itu, strategi yang tepat dibutuhkan agar zakat dibayarkan akurat, tepat waktu, dan tidak mengganggu arus kas.
Artikel ini membahas strategi zakat 2026 untuk bisnis secara praktis: mulai dari perencanaan, pencatatan, penentuan objek zakat, sampai integrasi dengan sistem keuangan perusahaan. Fokusnya adalah membantu bisnis menjadi lebih optimal tanpa mengorbankan kepatuhan syariah maupun kesehatan finansial.
Mengapa Strategi Zakat 2026 Penting untuk Bisnis
Tantangan bisnis 2026 semakin kompleks: biaya operasional meningkat, persaingan makin ketat, dan tekanan efisiensi terus membesar. Dalam kondisi seperti ini, zakat sering dianggap sebagai beban tambahan karena tidak direncanakan sejak awal. Padahal, zakat yang dikelola baik justru mengurangi risiko kekacauan keuangan di akhir periode.
Strategi zakat yang benar membuat perusahaan mampu membayar zakat dengan perhitungan yang konsisten. Ini penting karena banyak bisnis menghitung zakat hanya berdasarkan “perkiraan” atau meniru angka tahun lalu. Akibatnya, zakat bisa kurang bayar atau justru berlebihan tanpa dasar.
Selain itu, zakat yang tertata memperkuat reputasi internal perusahaan. Karyawan, mitra, dan pelanggan semakin sensitif terhadap etika bisnis. Ketika zakat dikelola sebagai bagian dari governance, bisnis terlihat lebih tertib dan bertanggung jawab.
Dalam konteks manajemen modern, strategi zakat bukan hanya urusan keagamaan, tetapi juga bagian dari manajemen kepatuhan. Zakat yang terukur dan terdokumentasi akan lebih mudah diaudit secara internal, serta menghindari konflik perhitungan di kemudian hari.
Memahami Jenis Zakat yang Relevan untuk Perusahaan
Kesalahan paling umum dalam pengelolaan zakat bisnis adalah tidak membedakan jenis zakat yang sebenarnya wajib. Banyak pelaku usaha mencampur zakat mal pribadi dengan zakat perusahaan, sehingga angka menjadi tidak jelas. Tahun 2026 menuntut bisnis lebih rapi dalam menentukan objek zakat.
Secara umum, perusahaan berkaitan dengan zakat perdagangan (tijarah), yaitu zakat atas aset usaha yang berputar dalam aktivitas jual beli. Termasuk di dalamnya stok barang dagang, kas, piutang yang dapat ditagih, dan aset lancar tertentu. Namun, tidak semua aset otomatis terkena zakat.
Aset tetap seperti gedung kantor, mesin produksi, kendaraan operasional, atau peralatan kerja biasanya tidak dihitung sebagai objek zakat perdagangan. Yang dihitung adalah hasil atau keuntungan dari penggunaan aset tersebut, bukan nilai asetnya. Inilah alasan mengapa bisnis perlu memisahkan akun aset lancar dan aset tetap secara disiplin.
Perusahaan jasa juga tetap bisa terkena zakat, tetapi pendekatan perhitungannya lebih sering fokus pada kas, piutang jasa, dan keuntungan yang sudah terealisasi. Untuk bisnis digital, agency, atau konsultan, pencatatan invoice dan piutang menjadi penentu utama akurasi.
Dalam strategi zakat 2026 untuk bisnis, perusahaan perlu memiliki definisi internal: “Aset apa saja yang masuk zakat, dan apa yang tidak.” Definisi ini sebaiknya ditetapkan sejak awal tahun dan dipakai konsisten agar tidak berubah-ubah.
Menentukan Nisab, Haul, dan Waktu Bayar yang Efisien
Zakat tidak hanya soal “berapa persen,” tetapi juga soal kapan wajibnya berlaku. Banyak bisnis menghitung zakat hanya berdasarkan laba bersih tahunan, padahal zakat perdagangan umumnya mengikuti prinsip nisab dan haul. Karena itu, strategi yang matang harus dimulai dari pemahaman dasar ini.
Nisab adalah batas minimal harta yang membuat zakat wajib. Dalam zakat mal, nisab biasanya mengacu pada nilai 85 gram emas. Artinya, perusahaan wajib zakat jika aset zakatnya setara atau melebihi nilai tersebut. Nilai nisab berubah mengikuti harga emas, sehingga perhitungan 2026 harus memakai harga terbaru. Haul berarti kepemilikan selama satu tahun hijriah. Dalam praktik bisnis, banyak perusahaan memilih pendekatan periode tahunan yang konsisten, misalnya setiap akhir tahun fiskal atau setiap Ramadan. Yang penting, perusahaan punya satu patokan yang stabil agar tidak ada “lompat periode” yang menyebabkan zakat tidak akurat.
Untuk efisiensi, perusahaan sebaiknya menetapkan tanggal evaluasi zakat di kalender keuangan. Misalnya, setiap bulan tertentu dilakukan rekonsiliasi aset zakat, lalu dilakukan pembayaran. Pendekatan ini mengurangi risiko menumpuk beban di akhir tahun.
Sebagian bisnis memilih membayar zakat secara tahunan, tetapi menganggarkan dana zakat secara bulanan. Ini strategi yang lebih aman untuk arus kas. Dengan begitu, pembayaran tidak terasa berat, dan perusahaan tidak perlu mengambil dana mendadak dari kas operasional.
Dalam strategi zakat 2026 untuk bisnis, waktu bayar yang efisien adalah waktu yang tidak mengganggu kebutuhan modal kerja. Prinsipnya sederhana: zakat harus dibayar tepat, tetapi bisnis juga harus tetap sehat.
Perhitungan Zakat Perusahaan: Rumus Praktis yang Aman
Perhitungan zakat bisnis sering membingungkan karena perusahaan memiliki banyak akun. Strategi terbaik adalah memakai rumus yang sederhana, tetapi tetap sesuai kaidah umum zakat perdagangan. Untuk banyak perusahaan, rumus praktis yang sering dipakai adalah:
Objek zakat = (Kas + Bank + Piutang Lancar + Persediaan) – (Utang Jangka Pendek yang Jatuh Tempo)
Setelah objek zakat didapat, zakat yang dibayarkan umumnya sebesar 2,5%. Namun, yang paling penting bukan persentasenya, melainkan akurasi data aset dan utang yang dipakai.
Kesalahan umum adalah memasukkan seluruh piutang tanpa memilah kualitasnya. Piutang yang macet atau sulit ditagih sebaiknya diperlakukan berbeda. Dalam praktik kehati-hatian, perusahaan dapat memasukkan hanya piutang yang realistis untuk ditagih.
Kesalahan lain adalah memasukkan persediaan berdasarkan harga jual, padahal sebagian pendekatan memakai harga pokok. Agar aman, perusahaan perlu konsisten dengan metode penilaian persediaan yang dipakai dalam laporan keuangan. Konsistensi lebih penting daripada mencoba “mencari angka terbaik.”
Untuk bisnis manufaktur, perlu pemisahan antara persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. Tidak semua harus diperlakukan sama jika nilainya besar. Strategi zakat 2026 untuk bisnis menuntut perusahaan menetapkan kebijakan penilaian persediaan agar tidak berubah-ubah.

Jika perusahaan memakai sistem akuntansi digital, data ini bisa ditarik otomatis. Namun, jika pencatatan masih manual, maka rekonsiliasi wajib dilakukan sebelum perhitungan zakat. Zakat yang dihitung dari data yang salah akan menghasilkan angka yang salah, meskipun rumusnya benar.
Integrasi Zakat dengan Keuangan Bisnis agar Lebih Optimal
Bisnis yang optimal tidak mengelola zakat sebagai aktivitas terpisah. Zakat harus terintegrasi dengan sistem keuangan, budgeting, dan pelaporan. Inilah inti strategi zakat 2026 untuk bisnis: membuat zakat menjadi bagian dari proses bisnis, bukan beban tambahan.
Langkah pertama adalah memasukkan zakat sebagai pos khusus dalam anggaran tahunan. Bukan sekadar “biaya sosial,” tetapi pos yang dihitung dari proyeksi aset zakat. Dengan cara ini, perusahaan bisa menyiapkan dana lebih awal.
Langkah kedua adalah membuat akun pencatatan yang jelas: misalnya akun “Dana Zakat Perusahaan” atau “Cadangan Zakat.” Setiap bulan, perusahaan dapat menyisihkan sejumlah dana ke akun tersebut. Ini membantu perusahaan membayar zakat tanpa mengganggu cashflow.
Langkah ketiga adalah menetapkan SOP internal. SOP minimal mencakup: siapa yang menghitung zakat, siapa yang menyetujui, dokumen apa yang dibutuhkan, dan kapan pembayaran dilakukan. Tanpa SOP, zakat sering terlambat karena menunggu keputusan yang tidak jelas.
Langkah keempat adalah integrasi dengan audit internal. Zakat yang dibayar sebaiknya memiliki bukti transfer, laporan penyaluran dari lembaga, serta ringkasan perhitungan. Dokumen ini penting untuk transparansi dan mencegah konflik internal.
Jika perusahaan memiliki beberapa unit usaha, strategi terbaik adalah menghitung zakat per unit, lalu dikonsolidasikan. Ini memudahkan kontrol, terutama jika setiap unit memiliki struktur aset dan utang yang berbeda. Konsolidasi tanpa pemetaan unit sering menyebabkan angka zakat bias.
Pada 2026, bisnis juga semakin banyak yang berjalan lintas platform dan lintas rekening. Karena itu, integrasi zakat dengan sistem keuangan harus mencakup pemetaan rekening bank, dompet digital, dan kas operasional agar tidak ada aset yang terlewat.
Memilih Lembaga Zakat dan Menjaga Akuntabilitas Penyaluran
Strategi zakat tidak berhenti di perhitungan. Tahap penyaluran juga menentukan kualitas tata kelola bisnis. Banyak perusahaan membayar zakat tanpa memastikan lembaga penyalur memiliki sistem pelaporan yang rapi. Ini menimbulkan risiko reputasi dan kebingungan audit.
Dalam praktik profesional, perusahaan sebaiknya memilih lembaga zakat yang memiliki legalitas jelas dan pelaporan transparan. Lembaga yang baik biasanya menyediakan bukti penerimaan zakat, laporan penyaluran berkala, serta program yang terstruktur. Ini membantu perusahaan membuktikan bahwa zakat benar-benar disalurkan.
Akuntabilitas penting karena zakat adalah dana amanah. Perusahaan perlu menyimpan bukti transaksi dan laporan penyaluran sebagai arsip. Jika perusahaan memiliki dewan pengawas atau auditor, dokumen ini akan menjadi bahan pemeriksaan rutin.
Strategi zakat 2026 untuk bisnis juga perlu mempertimbangkan kesesuaian program dengan nilai perusahaan. Misalnya, perusahaan di bidang pendidikan bisa menyalurkan zakat pada program pendidikan mustahik, atau perusahaan di bidang pangan bisa menyalurkan pada program ketahanan pangan. Ini bukan promosi, tetapi bentuk konsistensi nilai.
Namun, perusahaan harus menghindari jebakan “zakat sebagai marketing.” Zakat bukan alat branding agresif. Zakat adalah kewajiban yang harus dijalankan dengan niat dan prosedur yang benar. Publikasi berlebihan justru berpotensi merusak keikhlasan dan menimbulkan persepsi negatif.
Pada akhirnya, lembaga zakat yang tepat akan memudahkan bisnis menjalankan kewajiban tanpa beban administrasi yang berlebihan. Ini membuat proses lebih stabil, terutama jika perusahaan tumbuh cepat dan transaksi semakin kompleks.
Kesimpulan
Strategi zakat 2026 untuk bisnis adalah pendekatan yang menggabungkan kepatuhan syariah, perhitungan yang rapi, perencanaan arus kas, serta integrasi dengan sistem keuangan perusahaan. Dengan menetapkan objek zakat secara jelas, menghitung berdasarkan data yang valid, menganggarkan dana sejak awal, dan menjaga akuntabilitas penyaluran, bisnis dapat menjadi lebih optimal tanpa mengorbankan stabilitas operasional.
FAQ
Q: Apa inti strategi zakat 2026 untuk bisnis agar tidak mengganggu cashflow? A: Anggarkan zakat sejak awal tahun dan sisihkan dana secara bulanan agar pembayaran tidak menumpuk di akhir periode.
Q: Apakah aset tetap seperti gedung dan kendaraan operasional dihitung dalam zakat bisnis? A: Umumnya tidak, karena yang dihitung adalah aset lancar yang berputar dalam perdagangan atau kas yang tersedia.
Q: Bagaimana cara menghitung zakat bisnis yang paling praktis? A: Gunakan pendekatan aset lancar zakat (kas, bank, piutang lancar, persediaan) dikurangi utang jangka pendek, lalu ambil 2,5% jika sudah mencapai nisab.
Q: Kapan waktu terbaik membayar zakat perusahaan? A: Pilih satu patokan tahunan yang konsisten, lalu lakukan rekonsiliasi dan pembayaran pada waktu yang tidak mengganggu kebutuhan modal kerja.
Q: Apakah perusahaan jasa juga wajib zakat? A: Bisa wajib, terutama jika kas dan piutang lancarnya mencapai nisab dan dimiliki selama haul sesuai ketentuan zakat mal.




