Pemprov NTB: Tata kelola Geopark Rinjani-Lombok sesuai standar global

Pemprov NTB: Tata Kelola Geopark Rinjani-Lombok Sesuai Standar Global

Pemprov NTB – Mataram — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan bahwa pengakuan UNESCO Global Geoparks melalui Kartu Hijau telah diperoleh untuk yang kedua kalinya oleh Geopark Rinjani-Lombok. Pencapaian ini menunjukkan bahwa manajemen taman bumi tersebut telah memenuhi standar internasional, menjadi bukti keberhasilan kerja sama antar berbagai pihak. Juru Bicara Pemprov NTB, Ahsanul Khalik, mengungkapkan bahwa pengakuan tersebut bukan hanya sekadar penghargaan administratif, tetapi juga validasi bahwa sistem pengelolaan Geopark Rinjani-Lombok berjalan sesuai dengan kriteria global.

“Capaian ini menggambarkan komitmen kita untuk menjaga kualitas taman bumi secara berkelanjutan,” ujar Ahsanul dalam pernyataan di Mataram, Rabu. Ia menegaskan bahwa pengakuan internasional tersebut mencerminkan upaya NTB dalam mengintegrasikan berbagai aspek pengelolaan taman bumi, termasuk konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Menurut Ahsanul, pengelolaan Geopark Rinjani-Lombok tidak hanya terfokus pada sektor pariwisata, tetapi juga mencakup pendekatan yang lebih luas, yakni pengembangan keberlanjutan. “Kami menggabungkan pelestarian lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal,” tambahnya. Pendekatan ini, katanya, memastikan bahwa wilayah geopark menjadi ruang yang tidak hanya menarik bagi turis, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi kehidupan warga setempat.

Konservasi menjadi salah satu pilar utama yang terus diperkuat dalam tata kelola Geopark Rinjani-Lombok. Pemprov NTB bekerja sama dengan berbagai lembaga lokal dan nasional untuk menjaga keanekaragaman hayati serta sumber daya alam di kawasan tersebut. Selain itu, edukasi juga menjadi fokus utama, dengan berbagai program yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang geologi dan pentingnya menjaga lingkungan. Pemberdayaan ekonomi masyarakat dianggap sebagai aspek yang tak terpisahkan dari pengelolaan geopark, dengan adanya pelatihan dan pengembangan usaha kecil menengah berbasis alam.

Geopark Sebagai Laboratorium Alam dan Ruang Edukasi Global

Dalam perjalanan pengembangannya, Geopark Rinjani-Lombok kini bertransformasi menjadi tempat edukasi dan penelitian yang terbuka bagi kalangan internasional. Sebagai laboratorium alam, kawasan ini dianggap memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, terutama bidang geologi dan ekonomi berbasis komunitas. “Ini bukan hanya kebanggaan daerah, tetapi juga penting untuk meningkatkan kualitas pengelolaan secara nasional dan global,” ujar Ahsanul.

Pemprov NTB berkomitmen mempertahankan status Kartu Hijau UNESCO Global Geoparks melalui berbagai upaya. Salah satu fokus utama adalah penguatan konservasi berbasis masyarakat, yang dilakukan dengan melibatkan warga setempat dalam pengelolaan sumber daya alam. Selain itu, peningkatan literasi geologi juga menjadi prioritas, melalui penyelenggaraan pelatihan dan program edukasi yang lebih menyentuh. Pemangku kepentingan seperti pemerintah daerah, organisasi, dan masyarakat lokal dianggap sebagai elemen kunci dalam mencapai tujuan tersebut.

Peran Kartu Hijau dalam Pengembangan Berkelanjutan

Status Kartu Hijau, yang merupakan pengakuan tertinggi dari UNESCO, menunjukkan bahwa Geopark Rinjani-Lombok telah mampu menjaga kualitas pengelolaan sekaligus berkontribusi pada tujuan pembangunan berkelanjutan. Dalam surat resmi yang diterima Pemerintah Indonesia, ketiga geopark yang menerima Kartu Hijau—yakni Rinjani-Lombok, Kaldera Toba, dan Ciletuh-Palabuhanratu—dinyatakan berhasil mempertahankan standar pengelolaan yang ketat. Pemprov NTB mengapresiasi hasil ini sebagai bentuk pengakuan internasional terhadap komitmen daerah dalam menjaga keberlanjutan.

Ahsanul menyoroti bahwa penguatan mitigasi bencana berbasis pengetahuan geologi juga menjadi bagian penting dari pengembangan Geopark Rinjani-Lombok. “Karena wilayah NTB rentan terhadap bencana alam, kami menjadikan geologi sebagai alat untuk mengurangi risiko kerusakan,” jelasnya. Dengan memperkuat keahlian dalam mitigasi bencana, Geopark Rinjani-Lombok diharapkan bisa menjadi contoh bagaimana wilayah alam bisa menjadi pelindung dan penyeimbang bagi masyarakat sekitar.

Ahsanul mengungkapkan harapan bahwa pengakuan internasional ini bisa menjadi pijakan untuk menaikkan kelas pengelolaan Geopark Rinjani-Lombok. “Kami ingin Geopark Rinjani-Lombok tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang menjadi ikon dunia yang mampu memberikan manfaat nyata kepada masyarakat lokal dan mewakili Indonesia secara global,” kata dia. Pencapaian ini, katanya, menjadi bukti bahwa NTB mampu menggabungkan pengelolaan taman bumi dengan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Geopark Sebagai Warisan Alam yang Bernilai

Kartu Hijau UNESCO Global Geoparks bukan hanya penghargaan untuk kualitas pengelolaan, tetapi juga untuk kontribusi terhadap keberlanjutan ekosistem dan pemanfaatan sumber daya alam. Dalam konteks ini, Geopark Rinjani-Lombok dianggap sebagai salah satu contoh yang sukses mengintegrasikan penelitian, edukasi, serta pemberdayaan masyarakat. “Kami memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil tidak hanya memberikan dampak jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan di masa depan,” imbuh Ahsanul.

Indonesia, dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri, telah menerima tiga status Kartu Hijau dari UNESCO Global Geoparks Council untuk periode 2026–2029. Tiga geopark tersebut, yaitu Rinjani-Lombok, Kaldera Toba, dan Ciletuh-Palabuhanratu, diakui karena mampu mempertahankan kualitas manajemen sekaligus memberikan kontribusi signifikan dalam bidang geologi, mitigasi bencana, serta pembangunan berkelanjutan. Dengan adanya Kartu Hijau, Geopark Rinjani-Lombok diharapkan bisa menjadi pusat penelitian dan edukasi yang menginspirasi pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat nasional.

Dalam rangka memperkuat posisi geopark tersebut, Pemprov NTB terus berupaya meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam berbagai program. Pemangku kepentingan, termasuk lembaga swadaya masyarakat dan organisasi internasional, juga diminta untuk terus berkontribusi. Ahsanul menyampaikan bahwa pengakuan ini memberikan dorongan kuat untuk memperluas akses kekayaan alam NTB kepada kalangan luas, baik dalam bentuk ekonomi maupun pengetahuan.

Dengan memperhatikan karakteristik wilayah NTB yang rentan bencana, Geopark Rinjani-Lombok juga menjadi contoh bagaimana pengetahuan geologi bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Kami ingin mengubah tantangan menjadi peluang, melalui integrasi keilmuan dan kebutuhan masyarakat,” katanya. Pemprov NTB yakin bahwa keterlibatan aktif semua pihak akan mendorong pengembangan geopark ini menjadi salah satu yang paling berpengaruh di kawasan Asia Tenggara.

Sebagai bagian dari upaya mengembangkan ekonomi berbasis komunitas, Geopark Rinjani-Lombok berupaya menciptakan usaha mikro dan kecil yang menguntungkan warga sekitar. Misalnya, pengembangan wisata alam yang tidak mengganggu lingkungan, serta penggunaan sumber daya lokal dalam pengelolaan. Ahsanul menegaskan bahwa pengakuan internasional ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas manajemen, sekaligus menjaga harmoni antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan.