Key Strategy: Rano sebut perlintasan kereta di Jakarta harus dievaluasi
Rano Sebut Perlintasan Kereta di Jakarta Harus Dievaluasi
Key Strategy – Sejumlah perlintasan sebidang kereta api di wilayah DKI Jakarta kini menjadi perhatian serius pihak pemerintah. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyoroti pentingnya evaluasi terhadap lintasan tersebut untuk mencegah terulangnya kecelakaan serupa yang terjadi di Bekasi Timur pada Senin (27/4) lalu. Dalam pidatonya di Jakarta, Rabu, Rano menegaskan bahwa meskipun beberapa perlintasan tidak sepenuhnya tertutup, tetap ada petugas yang melakukan pengawasan. Ia berharap evaluasi ini dapat mengurangi risiko kecelakaan di masa depan.
“Jakarta memang memiliki beberapa lintasan yang mungkin tidak tertutup sepenuhnya, tapi setidaknya ada orang yang menjaga. Ini bagian yang harus kami evaluasi kembali. Mudah-mudahan, tidak terjadi lagi insiden serius,” ujar Rano.
Di samping upaya evaluasi, pemerintah DKI Jakarta juga sedang mengerjakan proyek jalan layang (flyover) di beberapa lokasi strategis. Salah satunya adalah Jalan Latumenten, Jakarta Barat, yang sedang dibangun oleh Dinas Bina Marga. Proyek ini merupakan bagian dari program multiyears yang dijalankan Pemprov DKI. Afan Adriansyah, Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekretaris Daerah (Sekda) DKI, menjelaskan bahwa konstruksi jalan layang di Latumenten sudah dimulai akhir tahun 2025 dan akan selesai pada tahun ini.
Menurut Afan, proyek tersebut dirancang untuk memindahkan perlintasan sebidang yang sebelumnya berada di jalur jalan. Jalan layang Latumenten dibangun di kedua sisi jalan, yaitu timur dan barat. Panjang sisi barat mencapai 440,86 meter dengan lebar hak penggunaan tanah (Right of Way/ROW) 11 meter, sedangkan sisi timur memiliki panjang 439,23 meter dengan ROW 10 meter. Proyek ini diperkirakan akan mengurangi kemacetan di sekitar area perlintasan kereta api tersebut.
Di wilayah Bintaro Puspita, Pemprov DKI juga sedang mengerjakan flyover yang termasuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Proyek ini dirancang dengan panjang 441 meter dan ROW 9 meter. Tujuan utamanya adalah mengatasi masalah kemacetan yang terjadi di perlintasan kereta api di kawasan Bintaro. Afan menegaskan bahwa pembangunan jalan layang menjadi bagian dari komitmen pemda untuk menata kembali sistem perlintasan dan mengurangi risiko kecelakaan.
Dalam beberapa bulan terakhir, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta telah melakukan penutupan 40 titik perlintasan liar yang rawan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk menurunkan angka kecelakaan yang terjadi sepanjang tahun 2025. Menurut catatan KAI, total kejadian tabrakan antara kereta api, orang, dan hewan mencapai 237 kali. Dari jumlah tersebut, 55 kejadian melibatkan kendaraan, sementara 177 kejadian lainnya adalah tabrakan antara kereta api dan manusia. Sisanya, sekitar 5 kejadian, melibatkan hewan.
Rano menekankan bahwa perlintasan liar masih menjadi sumber utama kecelakaan. Ia menyebutkan bahwa masalah ini harus diperbaiki secara terus-menerus, tidak hanya melalui penutupan fisik, tetapi juga dengan peningkatan kesadaran masyarakat. “Kami perlu memastikan bahwa semua perlintasan sebidang tidak hanya dibangun di lokasi yang aman, tetapi juga dikelola dengan baik,” katanya.
Dalam konteks ini, proyek jalan layang menjadi solusi jangka panjang. Afan menjelaskan bahwa konstruksi jalan layang di Latumenten dan Bintaro Puspita tidak hanya meningkatkan kenyamanan lalu lintas, tetapi juga mengurangi potensi tabrakan antara kereta api dan pengendara. Selain itu, pembangunan flyover tersebut merupakan bagian dari upaya untuk menghindari kecelakaan di perlintasan yang dikenal rawan. Rano menambahkan bahwa evaluasi terhadap perlintasan sebidang harus dilakukan secara berkala untuk mengidentifikasi titik-titik rentan.
KAI Jakarta menyatakan bahwa penutupan 40 perlintasan liar telah memberikan dampak positif, meski masih ada titik-titik lain yang perlu diperbaiki. Sebagai contoh, setelah penutupan, jumlah kecelakaan di beberapa area telah menurun secara signifikan. Namun, Rano menyoroti bahwa data tersebut menunjukkan bahwa kecelakaan terus terjadi, sehingga evaluasi harus dilakukan lebih mendalam. “Kami perlu melihat apakah penutupan tersebut cukup efektif, atau apakah ada kelemahan dalam pengelolaannya,” katanya.
Menurut data yang dirilis KAI Jakarta, selama Januari hingga Desember 2025, terdapat 237 kejadian tabrakan antara kereta api, orang, dan hewan. Jumlah ini mencerminkan tingkat keselamatan yang masih perlu ditingkatkan. Dari kejadian tersebut, 55 melibatkan kendaraan bermotor, 177 melibatkan manusia, dan sisanya berkaitan dengan hewan. KAI memperkirakan bahwa kecelakaan ini terjadi karena kesadaran pengendara terhadap keberadaan perlintasan masih rendah.
Rano menekankan bahwa evaluasi perlintasan sebidang tidak hanya melibatkan fisik, tetapi juga aspek sosial dan teknis. Ia menyebutkan bahwa pemerintah perlu melibatkan masyarakat dalam upaya meminimalkan risiko kecelakaan. “Masyarakat juga harus dilibatkan dalam pembangunan ini, karena mereka yang menggunakan jalan dan berpotensi terlibat dalam kecelakaan,” kata Rano. Ia berharap dengan adanya jalan layang, perlintasan liar bisa dihindari, dan kecelakaan bisa diminimalkan secara signifikan.
Proyek jalan layang di Jalan Latumenten dan Bintaro Puspita adalah contoh nyata dari komitmen pemerintah DKI Jakarta untuk menata kembali sistem transportasi. Afan mengatakan bahwa pemerintah telah memprioritaskan pembangunan ini dalam anggaran tahunan, dan proyek tersebut diharapkan dapat menyelesaikan masalah kemacetan dan kecelakaan di sekitar perlintasan. “Kami tidak hanya ingin mengurangi risiko kecelakaan, tetapi juga meningkatkan kenyamanan pengguna jalan,” ujarnya.
KAI Jakarta juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pihak kereta api dan pemerintah daerah dalam mengatasi masalah ini. KAI menyatakan bahwa penutupan 40 perlintasan liar adalah langkah awal, tetapi untuk mencapai keselamatan maksimal, perlu adanya perbaikan lebih lanjut. Rano menyetujui pendapat tersebut dan menegaskan bahwa evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh untuk menentukan langkah-langkah terbaik.