Key Strategy: DBD bisa memburuk cepat, imunisasi direkomendasikan usia 4-18 tahun
DBD Cepat Berubah, Imunisasi Direkomendasikan untuk Anak-anak Usia 4 hingga 18 Tahun
Key Strategy – Jakarta – Organisasi dokter anak Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengungkapkan bahwa demam berdarah dengue (DBD) memiliki pola penyebaran yang tidak terduga dan bisa berkembang sangat cepat. Penyakit ini dikenal mampu menimbulkan komplikasi berbahaya, seperti perdarahan hebat dan gangguan sistem kekebalan tubuh. Menurut Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), yang memimpin Satgas Imunisasi Anak IDAI, sekitar 75 persen dari kasus DBD terjadi pada usia 5 hingga 44 tahun. Namun, risiko terbesar kematian mencapai 41 persen di kelompok usia 5 hingga 14 tahun. “Hal ini menunjukkan perlunya upaya pencegahan yang terpadu, mulai dari pengendalian lingkungan melalui metode 3M Plus hingga pemberian perlindungan tambahan,” jelas Hartono dalam keterangan pers yang diberikan di Jakarta, Senin.
Perubahan Pola Penyakit dan Tanggung Jawab Sosial
Dalam upaya mengatasi tantangan ini, IDAI menekankan pentingnya imunisasi sebagai langkah preventif yang harus diadopsi secara rutin. Pihaknya mengingatkan bahwa DBD bisa berkembang menjadi kondisi serius dalam waktu singkat, terutama jika tidak diatasi tepat waktu. Maka, imunisasi dianjurkan bagi anak-anak dalam rentang usia 4 hingga 18 tahun, sesuai dengan persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang terbaru. “Dengan langkah ini, kita berupaya untuk mengurangi beban penyakit dan melindungi generasi muda yang rentan,” tambah Hartono.
Di sisi lain, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto Koesnoe SpPD, K-AI, FINASIM, mengingatkan bahwa DBD tidak hanya mengancam anak-anak, tetapi juga menggangu kelompok usia dewasa, khususnya mereka yang produktif. Menurut Sukamto, pasien dewasa bisa mengalami penurunan aktivitas dan kemampuan bekerja akibat harus dirawat inap. Situasi ini semakin parah bagi individu dengan penyakit penyerta, seperti diabetes atau hipertensi. “Perlu kesadaran masyarakat untuk menjadikan pencegahan sebagai kebiasaan sehari-hari, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan hingga memperkuat pengendalian vektor,” tutur Sukamto.
“Karena itu, penting bagi masyarakat untuk menjadikan pencegahan sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari, mulai dari menjaga lingkungan hingga mempertimbangkan langkah perlindungan tambahan,” katanya.
Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa kejadian DBD dalam lima tahun terakhir meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan periode 20 tahun terakhir. Siklus puncak kasus kini terjadi lebih cepat, dari sebelumnya sekitar 10 tahun menjadi tiga tahun atau kurang. Data dari BPJS Kesehatan mencatatkan lebih dari satu juta kasus rawat inap yang terkait DBD pada 2024, dengan beban biaya mencapai Rp3 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa DBD tetap menjadi penyakit yang memberi tekanan signifikan pada sistem kesehatan nasional.
Langkah Kolaboratif untuk Meningkatkan Kesadaran Masyarakat
Dalam rangka meningkatkan pemahaman publik tentang DBD, Pekan Imunisasi Dunia yang diperingati setiap akhir April dianggap sebagai kesempatan penting untuk menegaskan kebutuhan pengendalian penyakit secara konsisten. Menurut pernyataan resmi, kini DBD tidak lagi terbatas pada musim tertentu, melainkan bisa menyerang berbagai kelompok usia sepanjang tahun, terutama karena perubahan pola cuaca yang memengaruhi siklus penyebaran nyamuk.
Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026, PT Takeda Innovative Medicines bekerja sama dengan Halodoc mengumumkan kemitraan strategis untuk memperkuat upaya pencegahan DBD. Presiden Direktur Takeda, Andreas Gutknecht, menyatakan bahwa DBD tetap menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat karena kemampuannya mengubah kondisi pasien secara mendadak. “Hingga kini, tidak ada obat spesifik yang bisa menyembuhkan penyakit ini, sehingga pencegahan menjadi satu-satunya cara efektif,” ujarnya.
“Karena itu, pencegahan menjadi sangat penting. Sebagai mitra dari Kementerian Kesehatan RI, Takeda berkomitmen untuk terus mendukung upaya menuju ‘Nol Kematian Akibat Dengue pada Tahun 2030’,” kata Andreas.
Kemitraan dengan Halodoc diharapkan bisa memperluas jangkauan edukasi tentang DBD, khususnya pada aspek pencegahan. Andreas menyampaikan bahwa kedua pihak memiliki tujuan yang sejalan, yaitu meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. “Kolaborasi ini merupakan langkah konkret untuk memastikan informasi terkait DBD mudah diakses dan dipahami oleh semua lapisan masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Halodoc menekankan bahwa infeksi dengue kini telah mengalami perubahan pola. Tidak lagi bersifat musiman, penyakit ini bisa muncul kapan saja, baik di musim hujan maupun musim kemarau. “Perlu kesadaran kolektif bahwa penyebaran DBD bisa terjadi di berbagai wilayah dan waktu, sehingga pencegahan harus dilakukan secara terus-menerus,” tambah perwakilan Halodoc dalam keterangan yang sama.
Dengan tingkat kasus yang meningkat, kerja sama antar institusi menjadi lebih kritis. IDAI dan PAPDI, serta lembaga seperti BPJS Kesehatan, sepakat bahwa tindakan preventif harus diterapkan secara masif. Hal ini melibatkan peningkatan kesadaran masyarakat, penggunaan metode 3M Plus yang efektif, dan aksesibilitas layanan kesehatan bagi kelompok rentan. “Imunisasi, edukasi, dan pengendalian lingkungan adalah tiga pilar utama dalam meminimalkan risiko DBD,” pungkas Hartono.
Kehadiran tahunan Pekan Imunisasi Dunia dianggap sebagai momentum penting untuk mengingatkan kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan vaksinasi. Menurut data yang dirilis, angka kematian akibat DBD meningkat drastis dalam lima tahun terakhir. Faktor-faktor seperti perubahan iklim dan peningkatan jumlah nyamuk Aedes aegypti berkontribusi pada penyebaran penyakit yang lebih cepat. “Kita harus memperkuat upaya pencegahan untuk mengurangi dampak DBD terhadap masyarakat,” kata Sukamto.
Di sisi lain, peningkatan kesadaran juga dibutuhkan untuk memastikan anak-anak dan dewasa mendapatkan perlindungan optimal. Halodoc serta Takeda berkomitmen untuk menyebarkan informasi tentang metode pencegahan yang efektif, termasuk mengoptimalkan layanan kesehatan dan mempercepat akses ke vaksin. “Kolaborasi ini akan menjadi jembatan antara kebijakan kesehatan dan kebutuhan masyarakat sehari-hari,” jelas Andreas.
Dengan kejadian DBD yang semakin cepat dan menjangkau berbagai usia, kebijakan pencegahan harus diperbarui secara berkala. Pihak-pihak terkait sepakat bahwa kombinasi antara pengendalian lingkungan, edukasi, dan vaksinasi adalah solusi terbaik untuk mengurangi risiko infeksi. “Kita perlu membangun kesadaran bahwa DBD bukan hanya penyakit musiman, tetapi juga bisa menyerang siapa saja di berbagai fase kehidupan,” pungkas Sukamto.