Keberadaan DDT solusi cegah tabrakan KAJJ-KRL di Bekasi Timur

Keberadaan DDT Solusi Cegah Tabrakan KAJJ-KRL di Bekasi Timur

Keberadaan DDT solusi cegah tabrakan KAJJ – Dari Jakarta, mantan Komisaris PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Riza Primadi, menilai keberadaan jalur Double Double Track (DDT) menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko tabrakan antara kereta api jarak jauh (KAJJ) dan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat. Menurut Riza, dengan adanya DDT, potensi kecelakaan yang terjadi sebelumnya bisa diminimalkan. “Saya yakin bahwa kecelakaan antara KAJJ dan KRL tidak akan lagi terjadi, karena jalurnya sudah terpisah,” jelasnya dalam wawancara di Jakarta, Minggu. Ia menekankan bahwa pemisahan jalur antara kedua jenis kereta tersebut adalah langkah penting untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Potensi Tabrakan Akibat Jalur Berbagi

Riza menjelaskan, sebelumnya, masalah tabrakan terjadi karena dua jenis kereta api menggunakan jalur yang sama. KRL, yang berhenti di berbagai stasiun, memiliki pola perjalanan yang berbeda dibandingkan KAJJ, yang bergerak dengan kecepatan tinggi dan hanya berhenti di titik-titik tertentu. “Dalam kondisi seperti itu, kemungkinan KAJJ mengejar atau ‘mengekor’ KRL sangat besar, terutama di area dengan lalu lintas kereta yang padat,” tambah Riza. Ia menilai, jika jalur masih bersama, risiko gangguan terus-menerus bisa terjadi, khususnya di lintasan dengan kepadatan tinggi seperti Bekasi Timur.

“Kalau soal urgensinya ya tentu urgen, masing-masing jenis kereta harus punya jalur sendiri,” ujar Darmaningtyas. Ia menambahkan, pembangunan jalur terpisah menjadi bagian dari langkah jangka panjang untuk meningkatkan keselamatan dan keandalan perjalanan kereta api. “Diharapkan kalau proyek double-double track itu selesai, tidak ada lagi gangguan serius di jalur ini,” tegasnya.

Menurut Riza, proyek DDT yang sedang dirancang dari Manggarai hingga Cikarang dirasa cukup strategis untuk mengatasi masalah ini. Ia mengatakan, dengan jalur terpisah, kecepatan dan arah perjalanan kedua kereta bisa dikelola lebih baik. “Pemisahan jalur ini akan mengurangi kemungkinan salah satu kereta menyusul atau bertabrakan dengan yang lain, terutama saat memasuki stasiun dengan banyak penumpang,” ujarnya. Riza juga menyoroti pentingnya keselamatan dalam transportasi umum, terutama di kawasan perkotaan yang padat seperti Bekasi.

Langkah Jangka Panjang Menuju Keselamatan Lebih Baik

Ki Darmaningtyas, seorang pengamat transportasi, mengungkapkan bahwa DDT bukan hanya solusi untuk mencegah tabrakan, tapi juga untuk meningkatkan efisiensi operasional kereta api. Menurutnya, jalur terpisah akan meminimalkan konflik antara KAJJ dan KRL, yang selama ini sering menyebabkan kepadatan lalu lintas di stasiun dan jalur kereta. “Dengan DDT, perjalanan kereta bisa lebih terstruktur, sehingga risiko tertinggal atau kehilangan kendali juga berkurang,” tambah Darmaningtyas. Ia menekankan bahwa DDT adalah bagian dari upaya memperbaiki sistem transportasi umum di Indonesia.

Riza juga menyebutkan bahwa meskipun proyek DDT sudah mulai dibangun, penerapannya masih perlu dipercepat. “Saya menyarankan agar pemerintah dan operator kereta api fokus mempercepat penyelesaian proyek ini, karena ini solusi permanen untuk meningkatkan keselamatan perjalanan di wilayah padat seperti Bekasi Timur,” katanya. Ia menjelaskan, jika DDT selesai, maka kecelakaan akibat tabrakan antara KAJJ dan KRL bisa diminimalkan secara signifikan. “Dengan jalur yang terpisah, tidak akan ada ceritanya KAJJ mengekor KRL atau sebaliknya,” ujar Riza dengan yakin.

Risiko yang Masih Ada Saat Ini

Meskipun DDT sedang dalam proses pembangunan, Riza mengingatkan bahwa keberadaannya belum sepenuhnya berdampak pada keamanan perjalanan kereta api di Bekasi Timur. “Selama jalur masih digunakan bersama, potensi konflik antar kereta tetap ada, terutama di lintasan dengan banyak frekuensi perjalanan,” jelasnya. Ia menjelaskan bahwa di wilayah seperti Bekasi, dimana dua jenis kereta api sering bertemu di stasiun, kepadatan lalu lintas bisa menyebabkan kesalahan pengoperasian. “Ini bisa berdampak pada ketepatan waktu dan keselamatan penumpang,” tambah Riza.

“KAJJ dan KRL memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga saat berbagi jalur, risiko tertinggal atau tabrakan lebih tinggi,” ujar Darmaningtyas. Ia menekankan bahwa DDT adalah langkah yang mungkin belum sepenuhnya diterapkan di seluruh Indonesia, tapi sudah sangat dibutuhkan di kawasan seperti Bekasi.

Riza juga menyoroti kebutuhan pengelolaan jalur yang lebih baik di masa depan. “DDT tidak hanya meminimalkan risiko tabrakan, tapi juga membantu mengatur arus penumpang dengan lebih efektif,” katanya. Ia menyebutkan bahwa sistem ini bisa menjadi contoh bagus untuk menghadapi masalah lalu lintas kereta api yang kompleks. “Kita harus belajar dari pengalaman masa lalu, agar kecelakaan seperti di Bekasi Timur tidak terulang lagi,” ujarnya.

Pengamat transportasi tersebut menegaskan bahwa DDT adalah solusi yang wajib diterapkan di seluruh jalur kereta api, terutama di daerah dengan kepadatan tinggi. “Ini bukan hanya tentang keselamatan, tapi juga tentang efisiensi dan keandalan sistem transportasi,” kata Darmaningtyas. Ia menambahkan bahwa proyek ini harus segera selesai agar manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat. “Jika DDT belum selesai, maka risiko kecelakaan akan tetap ada, dan penggunaan kereta api bisa terganggu,” pungkasnya.

Target Penerapan DDT

Riza mengatakan bahwa proyek DDT di Bekasi Timur adalah bagian dari rencana jangka panjang pemerintah untuk memperbaiki sistem transportasi umum. “KAJJ dan KRL adalah dua bagian penting dari jaringan kereta api, jadi jalur mereka harus terpisah agar bisa beroperasi secara optimal,” ujarnya. Ia menyebutkan bahwa DDT bisa menjadi langkah nyata untuk mengurangi kepadatan dan meningkatkan kenyamanan penumpang. “Selama jalur masih bersama, kepadatan bisa menyebabkan kecelakaan yang lebih sering,” kata Riza.

Menurut Darmaningtyas, DDT adalah kebutuhan mendesak untuk menghadapi tuntutan masyarakat yang semakin tinggi terhadap transportasi kereta api. “Dengan jalur terpisah, kecepatan perjalanan bisa lebih terjaga, dan penumpang tidak akan merasa kewalahan karena banyaknya kereta yang tiba dan berangkat,” tambahnya. Ia juga menyebutkan bahwa proyek DDT tidak hanya penting untuk Bekasi Timur, tapi juga untuk wilayah sekitarnya yang membutuhkan pengembangan infrastruktur transportasi.

Dari sisi teknis, Riza menilai bahwa DDT memungkinkan penggunaan jalur dengan cara yang lebih efisien. “KAJJ dan KRL bisa beroperasi di jalur yang berbeda, sehingga tidak saling mengganggu,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa dengan adanya DDT, pengaturan lalu lintas kereta bisa lebih terukur, dan risiko kecelakaan juga berkurang. “Saya percaya bahwa DDT akan menjadi solusi yang aman dan efektif untuk masyarakat,” tambah Riza.

Menurut Darmaningtyas, proyek