Key Issue: Kepulauan Seribu dorong budidaya rumput laut untuk peluang ekonomi
Kepulauan Seribu Dorong Budidaya Rumput Laut untuk Peningkatan Ekonomi
Key Issue – Jakarta – Upaya pengembangan budidaya rumput laut semakin mendapat perhatian serius oleh Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Kabupaten Kepulauan Seribu. Tujuan utama dari inisiatif ini adalah untuk memberikan peluang usaha baru kepada masyarakat pesisir, yang sekaligus berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan ekonomi daerah. Kepala Sudin KPKP Kepulauan Seribu, Nurliati, mengungkapkan bahwa potensi pengembangan rumput laut di wilayah ini masih belum tergarap secara optimal. “Kepulauan Seribu memiliki sumber daya alam yang memadai untuk mendukung pertumbuhan sektor budidaya rumput laut,” katanya pada Rabu, Jakarta. Ia menjelaskan bahwa pihaknya terus berupaya meningkatkan jumlah petani aktif serta memperkuat sistem pemasaran agar hasil panen bisa memberikan nilai jual yang lebih tinggi.
Menurut Nurliati, meskipun ada tantangan dalam menstabilkan harga jual, budidaya rumput laut tetap menunjukkan hasil yang menjanjikan. Ia menekankan bahwa keberlanjutan usaha ini memerlukan dukungan bersinergi antara pemangku kebijakan dan masyarakat. “Kami berharap ada kerja sama yang lebih intensif antara pemerintah dan para nelayan lokal untuk mewujudkan keberhasilan jangka panjang,” tambahnya. Salah satu contoh keberhasilan dapat dilihat dari kelompok binaan Sudin KPKP, yaitu Kelompok Budidaya Rumput Laut Cottoni Jaya di Kelurahan Pulau Pari, Kepulauan Seribu Selatan. Kelompok ini diketahui mencatat hasil panen yang cukup signifikan sepanjang awal tahun 2026.
“Dari Januari hingga Maret, hasil panen rumput laut kering mencapai sekitar empat ton. Sementara dari Maret hingga saat ini, tercatat sekitar dua ton,” kata Nurliati. Angka tersebut menunjukkan bahwa kelompok ini secara bertahap mampu meningkatkan produktivitas. Meski demikian, ia menyebutkan bahwa hanya empat dari sepuluh anggota kelompok yang aktif melakukan penanaman saat ini. “Kami masih dalam proses pembinaan untuk meningkatkan partisipasi anggota,” tambahnya.
Sebagai bagian dari upaya pengembangan, Nurliati menekankan bahwa jenis rumput laut yang paling sesuai untuk dikembangkan di wilayah Pulau Pari adalah cottonii dan spinosum. Jenis-jenis ini dinilai memiliki daya tahan tinggi dan nilai ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan rumput laut lainnya. Sementara itu, jenis sargassum lebih banyak ditemukan secara alami di perairan sekitar, sehingga memudahkan akses bagi masyarakat yang ingin memanfaatkannya. Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya sedang melakukan kajian lebih lanjut untuk memastikan jenis-jenis rumput laut yang ditanam selaras dengan kondisi lingkungan serta kebutuhan pasar.
Kelompok Cottoni Jaya Optimis Tingkatkan Produksi
Ketua Kelompok Budidaya Rumput Laut Cottoni Jaya, Furkon, menambahkan bahwa keberhasilan kelompoknya hingga kini didukung oleh kesadaran anggota dalam menjalankan usaha secara konsisten. “Kami terus berupaya meningkatkan kualitas hasil panen, termasuk pengaturan waktu pemanenan yang tepat untuk memastikan hasil maksimal,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa saat ini hasil panen utamanya dipasarkan ke wilayah Tangerang, dengan harga jual rumput laut kering asin berkisar Rp12.000 per kilogram dan rumput laut kering tawar mencapai Rp40.000 per kilogram.
“Harga jual yang stabil masih menjadi tantangan utama bagi kami, terutama dalam menjangkau pasar yang lebih luas,” kata Furkon. Meski demikian, ia optimis bahwa dengan dukungan pemerintah, kelompok ini bisa terus berkembang. “Kami berharap ada kebijakan yang lebih mendukung, seperti pemberian subsidi benih atau pelatihan teknik budidaya yang lebih efisien,” tambahnya. Furkon juga menyebutkan bahwa pelaku usaha sejenis di Kepulauan Seribu perlu terus meningkatkan keterampilan dan kreativitas dalam memasarkan produk mereka, agar bisa bersaing di pasar regional maupun nasional.
Kelompok Cottoni Jaya merupakan contoh nyata bagaimana budidaya rumput laut bisa menjadi alternatif penghasil pendapatan bagi masyarakat pesisir yang menghadapi keterbatasan akses ke pasar tradisional. Dengan kondisi alam yang sejuk dan air laut yang bersih, wilayah Pulau Pari memiliki potensi menjadi pusat produksi rumput laut yang berkelanjutan. Nurliati menyatakan bahwa keberhasilan kelompok ini menjadi bukti bahwa sektor ini mampu berkontribusi signifikan terhadap perekonomian lokal. “Kami akan terus memfasilitasi pengembangan teknologi dan sumber daya manusia untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Nurliati, selain mengembangkan kelompok binaan yang sudah ada, pihaknya juga sedang mencari mitra baru untuk memperluas cakupan budidaya rumput laut di Kepulauan Seribu. “Banyak desa dan kelurahan di sekitar kita memiliki kondisi yang mendukung, hanya butuh pemantauan dan bimbingan lebih lanjut,” katanya. Ia menegaskan bahwa budidaya rumput laut tidak hanya menawarkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan. “Rumput laut bisa menjadi penyerap karbon serta menjaga keseimbangan ekosistem perairan,” tambahnya.
Kepulauan Seribu, sebagai daerah kepulauan dengan banyak pulau dan sumber daya alam yang melimpah, memiliki peluang besar untuk mengembangkan sektor ini menjadi salah satu pilar ekonomi. Nurliati berharap bahwa pemerintah bisa memberikan bantuan infrastruktur, seperti fasilitas pengeringan dan pengemasan, agar produk hasil budidaya rumput laut bisa lebih mudah dijual. “Dengan dukungan tersebut, kami yakin industri rumput laut bisa berkembang lebih pesat dan mengurangi ketergantungan masyarakat pada sektor lain yang lebih rentan terhadap perubahan iklim,” ujarnya.
Menurut data terkini, sektor rumput laut di Kepulauan Seribu telah menunjukkan peningkatan permintaan pasar, terutama dari industri makanan dan kosmetik yang membutuhkan bahan baku alami. Nurliati menambahkan bahwa pihaknya sedang berupaya membangun jaringan pemasaran yang lebih luas, termasuk melibatkan perusahaan besar dan mitra ekspor. “Selain itu, kami juga berencana menyelenggarakan pelatihan teknis untuk memperkuat kapasitas masyarakat,” katanya. Ia menilai bahwa budidaya rumput laut bisa menjadi solusi yang efektif untuk meningkatkan ketahanan ekonomi, terutama di daerah yang secara geografis sulit mengakses pasar besar.
Dengan melibatkan masyarakat secara aktif, KPKP Kabupaten Kepulauan Seribu berharap bahwa budidaya rumput laut bisa menjadi motor penggerak ekonomi yang berkelanjutan. Nurliati juga mengingatkan bahwa keberhasilan usaha ini memerlukan kepatuhan terhadap standar kualitas dan kebersihan lingkungan. “Kami akan terus mengawasi proses budidaya agar tidak merusak ekosistem perairan,” ujarnya. Selain itu, ia menekankan bahwa pengembangan sektor ini juga perlu disertai dengan inovasi dalam pemasaran, seperti memanfaatkan media digital atau membangun merek lokal