Rencana Khusus: Rusia sebut peluang kerja sama antariksa dengan ASEAN

Rusia dan ASEAN: Potensi Kolaborasi di Bidang Antariksa

Jakarta – Duta Besar Rusia untuk ASEAN, Evgeny Zagaynov, menyatakan bahwa terdapat peluang kerja sama di bidang antariksa antara Rusia dengan konsorsium negara-negara Asia Tenggara. Pernyataan ini dibuat dalam acara peletakan bunga di Monumen Yuri Gagarin, Jakarta, pada hari Sabtu. Dubes Zagaynov menambahkan bahwa Sekretaris Jenderal ASEAN telah menyebutkan rencana penyusunan pernyataan mengenai kerja sama antariksa, yang mungkin menjadi bidang kolaborasi strategis di masa depan.

Seminar Kesadaran Situasional dan Manajemen Lalu Lintas Antariksa

Sebelumnya, pada 12 Maret, Badan Antariksa Filipina, Badan Pengembangan Teknologi Geo-Informatika dan Ruang Angkasa Thailand, serta UNOOSA mengadakan seminar mengenai Kesadaran Situasi Ruang Angkasa (SSA) dan Manajemen Lalu Lintas Ruang Angkasa (STM) ASEAN di Manila. Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn, menekankan pentingnya memperkuat kerja sama regional terkait keamanan dan pengelolaan ruang angkasa.

“ASEAN adalah rumah bagi 684 juta penduduk dan menanggung hampir 40 persen dari bencana alam di dunia. Dalam konteks ini, data satelit real-time bukan sekadar kemudahan teknis, melainkan infrastruktur yang dapat menyelamatkan nyawa,” jelas Kao Kim Hourn.

Kao menegaskan bahwa SSA dan STM diperlukan untuk menjaga sistem pemantauan serta respons bencana ASEAN tetap berfungsi optimal. “Tanpa SSA yang efektif, kita tidak memiliki gambaran jelas mengenai objek yang bergerak di atas kita. Tanpa STM yang dioptimalkan, tabrakan antar objek bisa mengganggu keandalan data tersebut secara total,” ujarnya.

Menurut Kao, ASEAN telah terlibat dalam pengembangan teknologi antariksa sejak lama. Salah satunya adalah program kerja sama antara ASEAN dan India. Di bawah program tersebut, stasiun telemetri, pelacakan, dan komando sedang dibangun di Biak, Indonesia, sementara fasilitas penerimaan dan pengelolaan data satelit berkembang di Ho Chi Minh, Vietnam.

Kao menyampaikan bahwa setelah selesai pada 2029, fasilitas-fasilitas ini akan meningkatkan kapasitas regional dalam berbagi data antariksa. Contohnya, dalam bidang manajemen bencana, pemantauan lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan. Ia pun mendorong para pemangku kepentingan untuk mengubah diskusi menjadi tindakan konkret, sebagai masukan untuk Deklarasi Pemimpin ASEAN tentang Kerja Sama Ruang Angkasa yang akan diadopsi pada KTT ASEAN tahun ini di Filipina.