Dunia Dilanda Perang Bertubi-tubi – Harga Perak Melonjak Drastis

Ads
RumahBerkat - Post

Dunia Dilanda Perang Bertubi-tubi, Harga Perak Melonjak Drastis

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga perak (XAG) diperkirakan akan mengalami fluktuasi tinggi dan kenaikan signifikan pada perdagangan awal pekan ini. Lonjakan ini didorong oleh dua faktor utama, yakni meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan defisit pasokan fisik global. Data perdagangan akhir bulan Februari 2026 menunjukkan tren kuat harga perak, dengan level tertinggi mencapai US$ 93,81 per troy ons pada Jumat (27/2/2026).

Defisit Pasokan dan Tekanan Teknologi

Berbeda dengan kondisi sebelumnya, pada pertengahan bulan harga perak masih berada di US$ 73,45 per troy ons akibat koreksi pasar. Namun, kepanikan akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memberi dorongan kuat pada harga. Pembaca juga dapat mengacu pada artikel terkait yang menjelaskan tentang dominasi China dalam perdagangan logam mulia, di mana harga mencapai Rp10 miliar per ton.

Konflik Geopolitik Memicu Ketidakpastian

Konflik antara AS, Israel, dan Iran menjadi sorotan utama, terutama setelah klaim dari Presiden Donald Trump menyebutkan kematian Ayatollah Ali Khamenei. Sentimen pasar merespons cepat, dengan aset kripto berbasis emas melonjak hampir 4% akhir pekan lalu, meski bursa tradisional sedang libur. Situasi ini memicu kecemasan di pasar keuangan, mengarah pada peningkatan permintaan terhadap aset aman seperti perak.

Kenaikan Harga Akibat Ketegangan Global

Dalam kondisi krisis besar, perak sering kali menjadi pilihan utama investor untuk melindungi aset. Penurunan pasokan global yang terjadi hampir di seluruh belahan dunia, terutama di Timur Tengah dan AS, berpotensi memperkuat permintaan. Permintaan tinggi dari sektor teknologi, seperti infrastruktur data center, AI, kendaraan listrik, dan panel surya, memperparah ketegangan pasokan.

Ads
RumahBerkat - Post

Produksi perak dibatasi dan tidak fleksibel terhadap permintaan. Mayoritas pasokan global berasal dari produk sampingan tambang emas dan tembaga, yang menyebabkan defisit struktural hingga 200 juta ons per tahun. Industri ritel AS melaporkan persediaan perak batangan terus berkurang, dengan cepat diserap oleh konsumen.

Analisis terkini menunjukkan potensi kenaikan harga perak yang lebih tinggi, bahkan mungkin menyentuh angka tiga digit jika kondisi ini tidak segera membaik. Kenaikan ini didasari oleh faktor pasokan yang ketat dan ketegangan geopolitik yang berkelanjutan.

Artikel ini merupakan hasil jurnalistik dari CNBC Indonesia Research. Analisis tidak bertujuan menyarankan pembaca untuk membeli, menjual, atau menyimpan produk atau sektor investasi tertentu. Keputusan akhir tetap berada di tangan pembaca, sehingga CNBC Indonesia Research tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul.

CBNc INDONESIA RESEARCH [email protected] (gls/gls) Tambahkan sebagai sumber preferensi di Google