Inklusi Keuangan Indonesia Capai 93,61 Persen pada 2026
Amalzakat.com – Jangkauan layanan keuangan formal di Indonesia terus melebar hingga mencakup sebagian besar masyarakat. Otoritas Jasa Keuangan mencatat indeks inklusi keuangan nasional telah mencapai 93,61% pada 2026, sementara indeks literasi keuangan berada di level 69,57%.
Angka tersebut memperlihatkan perbedaan penting antara akses dan pemahaman. Inklusi keuangan mencerminkan kemampuan masyarakat memperoleh serta memakai produk keuangan formal, sedangkan literasi keuangan menggambarkan pengetahuan masyarakat dalam memahami produk, manfaat, risiko, dan layanan yang tersedia.
Capaian inklusi 93,61% juga telah melewati sasaran 93% yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional untuk 2029. Perkembangan ini menunjukkan bahwa perluasan layanan keuangan tidak hanya berlangsung di pusat ekonomi, tetapi juga diarahkan hingga tingkat provinsi, kabupaten, dan kota.
Kolaborasi lintas lembaga dan daerah
Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi menyampaikan bahwa pencapaian tersebut lahir dari kerja bersama pemerintah, OJK, Bank Indonesia, pemerintah daerah, serta pelaku industri jasa keuangan. Sinergi itu menjadi fondasi untuk memperluas penggunaan layanan formal di berbagai lapisan masyarakat.
Tentu saja ini merupakan hasil kerja sama yang sangat baik antara pemerintah, kemudian OJK, Bank Indonesia dan juga seluruh pemerintah daerah, kabupaten, dan kota di Indonesia. Hasilnya sangat nyata.
Pernyataan itu disampaikan Friderica dalam Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah atau Rakornas TPAKD di Jakarta pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Indonesia kini memiliki 552 Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah yang tersebar di seluruh wilayah provinsi, kabupaten, dan kota. TPAKD berperan sebagai ruang koordinasi antara pemerintah daerah dan industri jasa keuangan untuk membuka akses yang lebih luas terhadap produk keuangan formal.
Keberadaan tim ini tidak semata berkaitan dengan pembukaan rekening atau penyaluran kredit. Akses terhadap layanan keuangan juga berkaitan dengan upaya pemerataan ekonomi, pengurangan kemiskinan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ketika kelompok usaha kecil, pelajar, petani, maupun pekerja informal dapat menggunakan layanan yang sesuai kebutuhan, peluang mereka untuk mengelola pendapatan dan memperoleh pembiayaan menjadi lebih terbuka.
Program pembiayaan menjangkau berbagai kelompok
Perluasan akses tersebut didukung sejumlah program yang menyasar kelompok masyarakat secara langsung. Salah satunya, Kredit Pembiayaan Melawan Rentenir telah menyalurkan pembiayaan senilai Rp64,8 triliun kepada 2,3 juta debitur. Program ini diarahkan untuk menyediakan pilihan pembiayaan formal bagi masyarakat yang membutuhkan dana usaha atau kebutuhan produktif.
Pada sektor prioritas, kredit dan pembiayaan yang telah disalurkan mencapai Rp5,4 triliun untuk lebih dari 103.000 debitur. Penyaluran pembiayaan menjadi bagian penting dalam memperkuat aktivitas ekonomi kelompok yang membutuhkan akses modal secara lebih terjangkau dan terstruktur.
OJK juga mendorong program Satu Rekening Satu Pelajar melalui pembukaan rekening Simpanan Pelajar atau SimPel. Rekening ini dapat dibuka dengan setoran awal Rp5.000. Program tersebut memberi ruang bagi pelajar untuk mengenal kebiasaan menabung serta layanan perbankan sejak dini.
Selama Agustus hingga Oktober 2026, program percepatan akses keuangan telah menyalurkan kredit dan pembiayaan sebesar Rp53 triliun kepada 2,1 juta penerima. Jangkauannya mencakup beragam profesi dan kegiatan usaha, termasuk pengemudi ojek daring, petani kopi, hingga pembudidaya ikan nila.
Ragam penerima manfaat ini menunjukkan bahwa kebutuhan layanan keuangan tidak seragam. Pelaku usaha pertanian membutuhkan dukungan yang berbeda dari pekerja transportasi berbasis aplikasi atau pembudidaya perikanan. Karena itu, perluasan akses perlu diikuti dengan produk yang mudah dipahami, sesuai kebutuhan, dan dapat digunakan secara berkelanjutan.
Literasi tetap menjadi pekerjaan penting
Meski indeks inklusi telah menembus lebih dari 93%, tingkat literasi keuangan masih berada pada 69,57%. Selisih tersebut menandakan bahwa sebagian masyarakat sudah memiliki akses terhadap layanan keuangan, namun belum tentu memiliki pemahaman yang sama kuatnya dalam memilih dan mengelola produk keuangan.
Literasi menjadi penting agar masyarakat dapat mempertimbangkan manfaat, kewajiban, biaya, serta risiko dari setiap layanan yang digunakan. Pemahaman yang lebih baik dapat membantu pengguna mengambil keputusan keuangan secara lebih hati-hati, baik saat menabung, menggunakan pembiayaan, maupun memanfaatkan layanan digital.
Friderica juga menyampaikan bahwa capaian literasi dan inklusi keuangan Indonesia telah melampaui rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development atau OECD. Hasil tersebut memperlihatkan dampak dari kerja sama pemerintah pusat, Bank Indonesia, pemerintah daerah, OJK, dan industri jasa keuangan dalam memperluas jangkauan layanan formal.
Tantangan global dan kondisi ekonomi domestik
Di tengah kemajuan akses keuangan, industri jasa keuangan nasional masih berhadapan dengan lingkungan global yang penuh tekanan. Ketegangan geopolitik, inflasi yang tinggi, dan suku bunga yang bertahan di level tinggi menjadi faktor yang perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi aktivitas ekonomi dan pasar keuangan.
Namun, perekonomian Indonesia pada semester I 2026 tetap tumbuh 5,4%. Kredit perbankan tercatat meningkat 13,69%, sedangkan dana pihak ketiga mencapai sekitar Rp10.400 triliun. Perkembangan ini menunjukkan besarnya peran perbankan dan sektor keuangan dalam mendukung aktivitas ekonomi nasional.
Ke depan, tantangan utamanya bukan hanya meningkatkan jumlah masyarakat yang terhubung dengan layanan keuangan formal. Kualitas pemanfaatan layanan tersebut juga perlu terus diperkuat, agar akses yang luas dapat benar-benar membantu masyarakat mengelola keuangan, membangun usaha, dan meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Akses Keuangan Makin Luas OJK Catat?
Akses Keuangan Makin Luas OJK Catat is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Akses Keuangan Makin Luas OJK Catat matter?
Akses Keuangan Makin Luas OJK Catat matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
