Militer Iran Ancam Bombardir Wilayahnya Sendiri, Kenapa?

1 hari ago  ·  3 min read
By Fajar Hakim - amalzakat.com
khrisna-gen-1784683487-222fd27fb4

Iran Siap Menyerang Wilayah Sendiri Jika AS Melancarkan Invasi

Amalzakat.com – Ketegangan diplomatik antara Teheran dan Washington kembali memanas setelah militer Iran mengeluarkan pernyataan tegas yang mengejutkan banyak pihak. Brigadir Jenderal Mohammad Akrami-Nia, juru bicara angkatan bersenjata Iran, menyatakan bahwa negaranya tidak akan ragu untuk membombardir wilayahnya sendiri apabila pasukan Amerika Serikat melakukan invasi darat. Pernyataan kontroversial ini muncul di tengah diskusi intensif di Gedung Putih mengenai berbagai skenario operasi militer yang mungkin dilakukan terhadap Iran. Militer Iran Ancam Bombardir Wilayahnya sebagai bagian dari strategi pertahanan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah konflik modern.

“Jika Amerika menduduki wilayah kami, kami bahkan akan membom wilayah kami sendiri. Inilah logika perang,” tegas Akrami-Nia dalam siaran televisi negara pada hari Selasa, 21 Juli 2026.

Komando Pusat Amerika Serikat saat ini telah memasuki hari kesepuluh serangan terhadap berbagai sasaran di Iran. Situasi ini mendorong Presiden Donald Trump untuk segera menentukan langkah selanjutnya dalam beberapa hari ke depan. Salah satu opsi yang kini mulai dibahas secara terbuka adalah kemungkinan operasi darat yang melibatkan pasukan Amerika di wilayah Iran. Langkah ini merupakan bagian dari eskalasi yang semakin serius antara kedua negara superpower.

Opsi Operasi Darat Pentagon

Laporan dari The Washington Post mengungkap bahwa Pentagon sedang menyiapkan sejumlah alternatif operasi darat di Iran. Rencana tersebut tidak mengarah pada invasi skala penuh, namun berpotensi melibatkan ribuan personel militer selama periode yang bisa mencapai berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Gedung Putih menegaskan bahwa Pentagon hanya diminta menyiapkan berbagai alternatif dan belum ada keputusan final dari Presiden Trump. Keputusan akhir akan bergantung pada perkembangan situasi di lapangan dan evaluasi strategis yang komprehensif.

Di sisi lain, Manouchehr Mottaki, mantan menteri luar negeri Iran yang kini duduk sebagai anggota parlemen, mendorong pemerintahnya untuk mengambil sikap lebih agresif terhadap Amerika Serikat. Ia menyoroti bahwa ancaman dari Washington semakin meningkat, termasuk klaim bahwa AS akan merebut Pulau Kharg dan mengambil alih fasilitas minyak strategis Iran. Sikap keras ini mencerminkan perubahan paradigma pertahanan Iran dalam menghadapi tekanan internasional.

“Ancaman AS semakin intensif, dan mereka mengatakan akan merebut Pulau Kharg dan mengambil alih fasilitas minyak Iran,” ujar Mottaki.

Mottaki bahkan mengusulkan agar Iran tidak hanya menyerang pangkalan militer AS di kawasan, tetapi juga menangkap prajurit Amerika. “Saya sudah lama menganjurkan perang darat. Kita harus merebut salah satu pangkalan AS di wilayah tersebut, menangkap pasukannya, dan membawa mereka kembali ke negara kita,” tambahnya. Usulan ini sejalan dengan pernyataan awal bahwa Militer Iran Ancam Bombardir Wilayahnya sebagai respons terhadap kemungkinan invasi.

Respons Strategis Iran

Ahmad Bakhshayesh Ardestani, anggota parlemen Iran, menyebutkan bahwa negaranya dapat mempertimbangkan operasi darat ke Kuwait dan Bahrain apabila AS benar-benar menginvasi wilayah Iran. Menurutnya, apabila AS berhasil menguasai Pulau Kharg, penguasaan tersebut hanya akan berlangsung sementara karena pulau itu tetap berada dalam jangkauan rudal Iran. Strategi ini menunjukkan bahwa Iran memiliki kemampuan untuk mempertahankan wilayah strategisnya meskipun menghadapi tekanan militer yang signifikan.

“Rudal Iran dari Semnan, Zahedan, Isfahan, dan tempat lain dapat mencapainya. Menduduki Pulau Kharg akan mengubahnya menjadi target bagi Iran,” kata Ardestani.

Di tengah meningkatnya ketegangan, muncul pula spekulasi mengenai kemungkinan operasi Iran ke Pulau Bubiyan, Kuwait. Sejumlah tokoh politik Iran dan akun media sosial membahas skenario penggunaan pasukan elite Saberin dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melalui wilayah Irak selatan apabila AS melakukan operasi di Iran. Meski demikian, laporan mengenai pergerakan militer Iran menuju perbatasan Kuwait belum dapat diverifikasi secara independen. Perkembangan ini menambah kompleksitas situasi regional yang sedang berlangsung.

Sebelumnya, pada 1 Mei 2026, otoritas Kuwait mengeklaim telah menangkap empat orang yang mengaku anggota IRGC setelah mendarat di Pulau Bubiyan menggunakan kapal nelayan. Pemerintah Iran membantah tuduhan tersebut dan menyatakan para perwira memasuki perairan Kuwait akibat gangguan sistem navigasi. Insiden ini menjadi salah satu indikator ketegangan yang semakin meningkat di kawasan Teluk Persia.

Trump sebelumnya juga memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi lebih besar apabila terus menyerang kepentingan AS di kawasan. “Setiap kali Iran membunuh seorang tentara AS, mereka akan membayar pembunuhan itu berkali-kali lipat,” tulis Trump melalui media sosial Truth Social. Pernyataan ini menegaskan bahwa Militer Iran Ancam Bombardir Wilayahnya bukan hanya retorika, tetapi bagian dari strategi pertahanan yang serius. Dengan demikian, dunia kini menyaksikan salah satu episode paling dramatis dalam hubungan Iran-Amerika Serikat dalam beberapa dekade terakhir.

MORE FROM THIS CATEGORY