Forum Peradilan BRICS di New Delhi: Rusia Angkat Suara soal Peran Hukum dalam Tatanan Dunia Baru
Amalzakat.com – Di tengah percepatan pergeseran kekuatan geopolitik global, para pemimpin lembaga peradilan dari blok BRICS berkumpul di ibu kota India untuk membahas satu pertanyaan mendasar: bagaimana sistem hukum negara-negara besar dapat menjadi jangkar stabilitas ketika arsitektur internasional sedang ditulis ulang. Forum Ketua Mahkamah Agung BRICS yang digelar di New Delhi pada Sabtu (5/9/2026) menjadi panggung bagi diskusi tersebut, dengan Ketua Mahkamah Agung Rusia Igor Krasnov tampil sebagai salah satu suara paling vokal dalam menegaskan posisi strategis lembaga peradilan di era multipolar.
Peradilan sebagai Penjamin Stabilitas, Bukan Sekadar Penegak Hukum Domestik
Krasnov membuka forum dengan argumen yang melampaui batas-batas konvensional fungsi pengadilan. Baginya, lembaga peradilan di negara-negara BRICS tidak lagi sekadar instrumen penegakan hukum internal masing-masing yurisdiksi. Dalam lanskap global yang berubah dengan kecepatan belum pernah terjadi sebelumnya, sistem peradilan blok ini menempati posisi yang ia sebut sebagai salah satu penjamin terpenting bagi stabilitas dan keadilan.
“Pada saat yang sama, sistem peradilan negara-negara kita (BRICS) menjadi salah satu penjamin terpenting bagi stabilitas dan keadilan dalam konteks terbentuknya dunia multipolar.”
Pernyataan ini bukan sekadar retorika diplomatik. Ia mencerminkan pergeseran paradigma di mana negara-negara BRICS — yang secara kolektif mewakili lebih dari separuh populasi dunia dan hampir sepertiga produk domestik bruto global — memandang institusi hukum sebagai instrumen aktif dalam membentuk tatanan internasional, bukan sekadar meresponsnya secara reaktif.
Tantangan Kompleks dan Kebutuhan Respons Bersama
Krasnov menekankan bahwa dinamika global kontemporer menghadirkan spektrum ancaman yang belum pernah dihadapi secara simultan: fragmentasi rantai pasok, ketegangan teknologi, krisis iklim, serta erosi norma-norma hukum internasional yang selama puluhan tahun ditopang oleh satu kutub hegemonik. Dalam konteks inilah, ia menyebut kebutuhan negara-negara BRICS untuk merespons secara kolektif.
“Di dunia modern, sejumlah negara BRICS dituntut untuk memberikan respons bersama terhadap berbagai tantangan dan ancaman paling kompleks, sekaligus memastikan supremasi hukum di tengah era transformasi global yang berlangsung cepat.”
Penekanan pada supremasi hukum dalam kutipan tersebut bukan kebetulan. Ia menggarisbawahi bahwa bagi Moskow — dan secara implisit bagi mitra BRICS lainnya — penguatan kerangka hukum bukan hambatan terhadap kedaulatan nasional, melainkan prasyarat bagi keteraturan dalam interaksi antarnegara yang semakin kompleks.
India sebagai Tuan Rumah dan Fasilitator Dialog
Pemilihan New Delhi sebagai lokasi forum bukan tanpa makna strategis. India, sebagai anggota BRICS dengan tradisi hukum Anglo-Saxon yang beririsan dengan sistem hukum kontinental Eropa, menyediakan titik temu yang memungkinkan pertukaran perspektif yuridis lintas tradisi. Krasnov secara eksplisit mengapresiasi peran tuan rumah dalam membangun suasana yang mendukung dialog terbuka antarlembaga peradilan.
Ia mencatat bahwa forum tersebut dilandasi kepercayaan dalam membahas persoalan-persoalan yang berkaitan langsung dengan aktivitas operasional lembaga peradilan masing-masing negara. Tingkat kepercayaan ini menjadi prasyarat bagi pertukaran pandangan yang jujur mengenai tantangan hukum yang dihadapi — mulai dari yurisdiksi lintas batas, penegakan putusan asing, hingga harmonisasi standar perlindungan hak-hak fundamental dalam konteks ekonomi digital.
Implikasi bagi Arsitektur Hukum Internasional
Forum ini harus dibaca dalam konteks yang lebih luas. Sejak BRICS memperluas keanggotaannya, blok ini tidak lagi sekadar forum ekonomi informal. Ia bergerak menuju pembentukan institusi-institusi permanen yang menyaingi atau melengkapi mekanisme yang selama ini didominasi oleh lembaga-lembaga Barat. Dalam lanskap tersebut, koordinasi peradilan antaranggota BRICS menjadi salah satu pilar yang menentukan apakah blok ini akan berfungsi sebagai alternatif tata kelola global atau sekadar forum retorika.
Dialog yang difasilitasi di New Delhi diharapkan menghasilkan kerangka kerja sama yang memungkinkan negara-negara anggota memperkuat supremasi hukum secara simultan dengan meningkatkan kontribusi sistem peradilan terhadap stabilitas kawasan dan global. Jika berhasil, forum semacam ini dapat menjadi preseden bagi koordinasi hukum multilateral yang tidak lagi bergantung pada satu pusat gravitasi institusional.
Latar Belakang: BRICS dan Evolusi Kerja Sama Hukum
Blok BRICS — yang kini mencakup Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, serta negara-negara anggota baru — telah lama berfokus pada koordinasi kebijakan moneter, perdagangan, dan pembangunan infrastruktur. Namun dimensi hukum dan peradilan selama ini relatif berada di bayang-bayang agenda ekonomi. Forum Ketua Mahkamah Agung yang digelar secara berkala menandai pengakuan eksplisit bahwa tanpa sinkronisasi kerangka hukum, ambisi ekonomi dan geopolitik blok akan terhambat oleh friksi yuridis yang tidak terselesaikan.
Keberlangsungan forum di New Delhi, dengan partisipasi langsung para ketua mahkamah agung dari negara-negara anggota, mengirimkan sinyal bahwa koordinasi tingkat tertinggi dalam hierarki peradilan kini menjadi agenda rutin, bukan pengecualian. Bagi pembaca yang mengikuti dinamika hukum internasional, perkembangan ini layak dipantau sebagai indikator sejauh mana tatanan multipolar yang diadvokatkan oleh BRICS akan memperoleh substansi institusional yang konkret.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Rusia Yakinkan Sistem Peradilan BRICS Jamin?
Rusia Yakinkan Sistem Peradilan BRICS Jamin is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Rusia Yakinkan Sistem Peradilan BRICS Jamin matter?
Rusia Yakinkan Sistem Peradilan BRICS Jamin matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

