Program Terbaru: China berharap ada negosiasi damai, meski perundingan Islamabad gagal
China Harapkan Negosiasi Damai, Meski Perundingan Islamabad Gagal
Pemerintah Tiongkok masih yakin bahwa konflik Timur Tengah dapat diselesaikan melalui dialog, meski perundingan antara AS dan Iran di Islamabad gagal mencapai kesepakatan. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing, Senin (13/4), menegaskan bahwa langkah AS-Iran di Islamabad adalah bagian dari upaya meredam konflik. “Kita berharap gencatan senjata tetap dipertahankan, dengan perselisihan diatasi secara politik dan diplomatik,” ujarnya.
Perundingan yang Tidak Berhasil
Perundingan damai antara AS dan Iran di Islamabad, 10-11 April 2026, tidak menghasilkan kesepakatan, dengan isu Selat Hormuz menjadi fokus utama perbedaan. “Negosiasi lebih baik dibanding menyulut kembali perang, dan situasi akan memungkinkan pemulihan perdamaian di Teluk secepatnya,” tambah Guo Jiakun.
“Kami hampir mencapai ‘MoU Islamabad’, namun terhenti karena maksimalisme, tuntutan yang berubah-ubah, serta ancaman blokade. Tidak ada pelajaran yang dipetik. Niat baik akan dibalas dengan niat baik. Permusuhan akan melahirkan permusuhan,” kata Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, dalam unggahan di platform X, Senin (13/4).
Wakil Presiden AS, J.D. Vance, mengatakan bahwa tidak ada kesepakatan yang tercapai setelah memimpin delegasi AS dalam pertemuan tatap muka dengan pihak Iran. Iran diwakili oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf. Menurut Qalibaf, tuntutan maksimalis dan ancaman blokade dari Angkatan Laut AS menggagalkan perjanjian yang diharapkan.
Dampak Blokade Selat Hormuz
Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran sejak akhir Februari 2026 menyebabkan gangguan signifikan pada pasar global dan meningkatkan harga energi. Jalur sempit ini menjadi jalur penting bagi distribusi minyak mentah, gas alam cair, serta pupuk ke Asia dan wilayah lainnya. Dalam kondisi normal, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati rute strategis tersebut.
AS dan Iran sebenarnya sepakat melakukan gencatan senjata sementara pada 8 April 2026, tetapi kondisi tersebut dinilai rapuh karena Israel masih menyerang Hizbullah di Lebanon. Iran menyatakan isu Lebanon sudah termasuk dalam perjanjian gencatan senjata, sementara AS mengambil pendapat berbeda.
Selat Hormuz tetap menjadi topik utama dalam perundingan yang dimediasi Pakistan. Angkatan Laut AS mengklaim dua kapal perusaknya telah melewati jalur tersebut sebagai persiapan operasi pembersihan ranjau, klaim yang ditentang oleh Iran. Ranjau yang dipasang Korps Garda Revolusi Islam Iran menimbulkan kekhawatiran bahwa waktu diperlukan untuk memastikan keamanan bagi kapal tanker, bahkan jika blokade berakhir.


