Internasional

Menlu Inggris: Israel Makin Kehilangan Sekutu

codex-39b4b6487c8f4caba55f94147f9e2434

Inggris Perketat Sikap terhadap Permukiman Israel di Wilayah Palestina

Amalzakat.com – London mengambil langkah lebih tegas terhadap aktivitas permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki, seiring kekhawatiran bahwa peluang pembentukan negara Palestina semakin tergerus. Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband menyatakan tindakan Israel di Gaza dan Tepi Barat membuat negara itu kehilangan dukungan dari sahabat maupun sekutu di berbagai kawasan.

Dalam perbincangan pada 15 September 2026, Miliband menilai pemerintah Israel tidak sedang memperluas dukungan internasional. Sebaliknya, kebijakan yang dijalankan dinilainya menjauhkan Israel dari negara-negara yang sebelumnya memiliki hubungan dekat dengannya.

“Pemerintah Israel kehilangan teman. Mereka tidak mendapatkan sekutu baru, mereka justru kehilangan sekutu. Mereka kehilangan sekutu di berbagai tempat.”

Pernyataan itu muncul tidak lama setelah pemerintah Inggris, pada 8 September 2026, mengumumkan kebijakan baru terhadap permukiman ilegal Israel. Paket kebijakan tersebut mencakup pelarangan impor produk dari permukiman ilegal, tindakan terhadap perusahaan serta individu yang membantu aktivitas permukiman, dan sanksi tambahan bagi ekstremis Israel di wilayah pendudukan yang dituduh mendukung atau menghasut kekerasan terhadap warga Palestina.

Tekanan untuk Menjaga Solusi Dua Negara

Inggris menyatakan langkah tersebut diarahkan untuk mempertahankan kemungkinan solusi dua negara bagi Palestina dan Israel. Miliband menekankan bahwa sanksi itu tidak dimaksudkan untuk meniadakan atau mendelegitimasi Israel sebagai negara, melainkan untuk memberi tekanan terhadap pendudukan dan perluasan permukiman yang dianggap melanggar hukum.

“Semua langkah tersebut bertujuan membuat perubahan, termasuk rezim sanksi yang menargetkan pendudukan ilegal, bukan menargetkan atau mendelegitimasi negara Israel dengan cara apa pun.”

Ia menilai keadaan saat ini tidak dapat dipertahankan. Bagi Inggris, proyek perluasan permukiman di kawasan E1 menjadi perhatian utama karena wilayah itu telah lama dianggap sebagai batas penting oleh komunitas internasional. Pengembangan di E1 berpotensi memisahkan Yerusalem Timur dari Tepi Barat dan membuat terbentuknya negara Palestina yang berkesinambungan secara wilayah semakin sulit diwujudkan.

“Status quo tidak berjalan.”

Kawasan Tepi Barat memiliki arti sentral dalam perdebatan mengenai masa depan Palestina. Permukiman Israel yang dibangun di wilayah pendudukan menjadi salah satu hambatan terbesar dalam perundingan politik, sebab keberadaannya memengaruhi akses, ruang hidup warga Palestina, dan kemungkinan penataan perbatasan bagi dua negara yang berdampingan.

Putusan ICJ dan Pengusiran Warga Palestina

Miliband menyebut sejumlah pertimbangan yang mendorong keputusan pemerintah Inggris. Salah satunya adalah putusan Mahkamah Internasional atau ICJ pada 2024, yang memerintahkan Israel untuk mengakhiri pendudukan, membongkar permukiman, serta membayar reparasi. Faktor lain mencakup panjangnya pendudukan di wilayah Palestina dan terusirnya banyak warga Palestina dari rumah mereka.

Ia menggunakan istilah keras untuk menggambarkan kekerasan yang terjadi di Tepi Barat. Miliband menyebut perlunya menghadapi “terorisme pemukim” dan menyatakan situasi tersebut tidak boleh dibiarkan berlanjut. Dalam pandangannya, kestabilan jangka panjang di Timur Tengah tidak akan tercapai tanpa penyelesaian dua negara.

“Kita harus menghentikan terorisme pemukim, terorisme yang sebenarnya. Saya menggunakan istilah itu, pembersihan etnis oleh teroris pemukim. Itulah yang sedang terjadi.”

Pesan Inggris tidak hanya diarahkan kepada pemerintah Israel, tetapi juga kepada masyarakat Israel menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober. Miliband mengatakan komunitas internasional perlu menunjukkan bahwa pendudukan yang terus berjalan tidak akan diterima sebagai keadaan normal.

“Lihat, komunitas internasional tidak akan tinggal diam ketika pendudukan ini terus berlangsung.”

Gaza dan Krisis Kemanusiaan

Selain menyoroti Tepi Barat, Miliband berbicara tentang kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza. Ia mengatakan dirinya baru-baru ini bertemu sejumlah orang, termasuk dokter yang pernah bekerja di wilayah tersebut. Pengalaman dan cerita yang diterimanya digambarkan sebagai sesuatu yang sangat mengerikan dan sulit diungkapkan.

Ia juga menilai penghalangan bantuan kemanusiaan memasuki Gaza tampak dilakukan secara sengaja. Kritik itu memperlihatkan bahwa isu bantuan, keselamatan warga sipil, dan akses kebutuhan dasar tetap menjadi bagian penting dalam tekanan diplomatik terhadap Israel.

“Situasi di lapangan sangat buruk. Tidak ada yang dapat membenarkan apa yang terjadi di Gaza.”

Miliband menyebut 1.200 warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata yang disebut-sebut berlangsung. Angka itu, katanya, menunjukkan penghentian kekerasan tersebut belum memiliki arti nyata bagi keselamatan warga sipil.

“Sejak gencatan senjata yang disebut-sebut itu, 1.200 warga Palestina telah tewas. Itu bukan gencatan senjata yang berarti.”

Dalam penjelasannya, Miliband turut mengenang ibunya yang meninggal pada Mei lalu. Ia membayangkan ibunya akan meminta perhatian terhadap penderitaan warga Palestina dan menyebut kondisi yang mereka hadapi sebagai sesuatu yang salah.

“Dia akan berkata, ‘Lihat apa yang terjadi pada warga Palestina! Lihat apa yang terjadi pada orang-orang malang ini; ini salah.’”

Kebijakan Inggris menandai perubahan yang lebih nyata dalam respons terhadap aktivitas permukiman di Tepi Barat. Larangan impor dan sanksi terhadap pihak yang memfasilitasi perluasan permukiman dirancang sebagai tekanan politik dan ekonomi, sambil menegaskan kembali dukungan London terhadap masa depan yang memungkinkan Palestina dan Israel hidup dalam kerangka dua negara.

Frequently Asked Questions

What is Menlu Inggris?

Menlu Inggris is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menlu Inggris matter?

Menlu Inggris matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *