Hipertensi yang Tidak Terkendali Lebih Berisiko Merusak Ginjal
Amalzakat.com – Kekhawatiran bahwa obat tekanan darah tinggi yang diminum dalam waktu lama dapat merusak ginjal masih membuat sebagian pasien ragu menjalani terapi. Padahal, risiko yang lebih besar justru muncul ketika hipertensi dibiarkan tinggi karena obat dihentikan sendiri atau dikonsumsi tidak teratur.
Dokter spesialis jantung konsultan aritmia dan kardiologi intervensi, Prof Yoga Yuniadi, menegaskan bahwa pengobatan hipertensi perlu dijalankan sesuai arahan dokter. Tujuannya adalah menjaga tekanan darah tetap pada sasaran dan mengurangi peluang munculnya gangguan pada organ penting, termasuk ginjal.
“Orang Indonesia kalau ketahuan hipertensi itu bilang, ‘Saya makan obat terus-terusan nanti sakit ginjal’. Padahal yang terus berhenti minum obatnya atau belang-betong (tidak teratur), dia yang sakit ginjal,” kata Yoga di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu (30/9/2026).
Pesan ini penting karena hipertensi kerap tidak memunculkan keluhan yang jelas. Seseorang bisa tetap merasa bugar, sementara tekanan darahnya telah tinggi dalam waktu panjang. Tanpa pemantauan dan pengendalian yang baik, kondisi tersebut dapat memberi beban terus-menerus pada pembuluh darah serta organ tubuh.
Obat Membantu Menjaga Tekanan Darah
Prof Yoga, yang juga guru besar kardiologi dan aritmia Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa masalah utama bukan penggunaan obat untuk mengontrol tekanan darah. Yang perlu diwaspadai ialah hipertensi yang kembali meningkat akibat terapi tidak dijalankan secara konsisten.
“Yang bikin sakit ginjal, hipertensinya yang tidak terkontrol, bukan karena minum obat yang membuat tensinya jadi terkontrol dan dia jadi tidak sakit ginjal,” ujarnya.
Dalam praktik sehari-hari, ketakutan terhadap efek samping dapat mendorong pasien mengurangi dosis, melewatkan jadwal minum obat, atau menghentikannya tanpa berkonsultasi. Keputusan seperti itu dapat membuat tekanan darah kembali melonjak dan menghilangkan manfaat perlindungan yang seharusnya diperoleh dari terapi.
Pengobatan hipertensi tidak semestinya dipandang sebagai tindakan sementara yang dapat dihentikan ketika badan terasa lebih baik. Karena penyakit ini sering berlangsung tanpa gejala, rasa sehat tidak selalu berarti tekanan darah sudah aman. Evaluasi rutin bersama tenaga kesehatan diperlukan untuk menilai apakah terapi tetap sesuai, perlu disesuaikan, atau membutuhkan pemeriksaan tambahan.
Tantangan Pengendalian Hipertensi di Indonesia
Prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai sekitar 32% dari populasi. Namun, jumlah orang yang telah terdiagnosis baru sekitar 27% dari seluruh penderita. Tantangan berikutnya adalah memastikan pasien yang sudah mengetahui kondisinya benar-benar mendapat pengobatan dan berhasil mencapai target tekanan darah.
“Dan yang diobati yang kemudian mencapai target pengobatan, di kita cuma 4,2%,” katanya.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan pengendalian hipertensi tidak berhenti pada pemeriksaan awal atau pemberian resep. Kepatuhan minum obat, kontrol berkala, serta pemahaman pasien terhadap risiko penyakit menjadi bagian penting dari upaya menjaga tekanan darah.
Pemeriksaan tekanan darah secara rutin dapat membantu menemukan perubahan lebih dini. Langkah ini juga memberi kesempatan bagi pasien untuk menyampaikan keluhan, membahas kekhawatiran mengenai obat, dan mendapatkan penjelasan sebelum memutuskan perubahan terapi. Menghentikan obat secara sepihak dapat menimbulkan risiko yang tidak perlu.
Risiko Gangguan Irama Jantung dan Stroke
Pengendalian hipertensi juga berkaitan dengan pencegahan atrial fibrilasi atau AF, yaitu gangguan irama jantung. Kondisi ini menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kualitas hidup dan berkaitan dengan komplikasi serius, termasuk stroke.
Sekitar 50% pasien AF di Indonesia juga memiliki hipertensi. Karena itu, tekanan darah yang terjaga bukan hanya penting bagi ginjal, tetapi turut berperan dalam mengurangi faktor risiko gangguan irama jantung tersebut.
“Satu dari lima kasus AF itu bisa dicegah sebetulnya dengan cara mengontrol hipertensinya,” ujarnya.
Hipertensi yang dibiarkan tidak terkendali dapat menimbulkan dampak bertahap. Kerusakan tidak selalu terasa dalam waktu singkat, sehingga disiplin menjalani terapi menjadi sangat penting. Upaya ini mencakup minum obat sesuai resep, memeriksa tekanan darah secara teratur, dan mengikuti jadwal kontrol yang dianjurkan.
Bagi pasien yang khawatir tentang keamanan obat, langkah yang lebih aman adalah membicarakannya dengan dokter. Tenaga kesehatan dapat menilai kondisi pasien secara menyeluruh, termasuk tekanan darah, riwayat penyakit, dan kebutuhan pemeriksaan lanjutan. Dengan begitu, terapi dapat dipantau secara tepat tanpa mengorbankan pengendalian hipertensi.
Pesan utamanya, obat hipertensi tidak seharusnya dihentikan hanya karena ketakutan akan kerusakan ginjal. Menjaga tekanan darah tetap terkendali justru menjadi bagian penting untuk melindungi fungsi ginjal, menekan risiko atrial fibrilasi, serta membantu mencegah komplikasi lain seperti stroke.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Benarkah Minum Obat Hipertensi Jangka Panjang?
Benarkah Minum Obat Hipertensi Jangka Panjang is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Benarkah Minum Obat Hipertensi Jangka Panjang matter?
Benarkah Minum Obat Hipertensi Jangka Panjang matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
