Official Announcement: KPK sebut penanganan kasus proyek Whoosh masih di tahap penyelidikan

KPK Sebut Penanganan Kasus Proyek Whoosh Masih Di Tahap Penyelidikan

Official Announcement – Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih memproses dugaan tindak pidana korupsi terkait proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, yang dikenal sebagai Whoosh, dalam lingkup PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Pernyataan ini disampaikan oleh Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, saat memberikan keterangan kepada sejumlah wartawan di Jakarta pada Selasa. Menurut Budi, hingga saat ini, proses investigasi masih berjalan di tahap awal.

Manajemen Perkara Jadi Faktor Penundaan

Dalam wawancara tersebut, Budi menjelaskan alasan KPK belum menaikkan kasus Whoosh ke tahap penyidikan. “Ini manajemen penanganan perkara saja karena memang saat ini banyak perkara yang sedang ditangani oleh KPK,” ungkapnya. Ia menyebutkan, selama beberapa bulan terakhir, lembaga anti-korupsi tersebut fokus pada berbagai penyelidikan tertutup dan operasi tangkap tangan di berbagai daerah. “Misalnya, beberapa kegiatan penyelidikan tertutup atau tangkap tangan yang dilakukan KPK dalam beberapa bulan terakhir,” tambah Budi. Meski demikian, dia menegaskan bahwa penyelidikan terhadap proyek tersebut belum berhenti dan tetap berlangsung.

Budi menambahkan bahwa KPK masih terus mengumpulkan data dan memproses berbagai aspek dugaan korupsi terkait Whoosh. “Penyelidikan ini masih terus berprogres. Beberapa hal juga dilakukan oleh kawan-kawan penyelidik,” jelasnya. Dengan kata lain, lembaga tersebut belum mencapai titik akhir penyelidikan karena memerlukan waktu untuk memastikan semua bukti terkumpul dan analisis yang menyeluruh.

Dugaan Korupsi Ditemukan Mahfud MD

Sebelumnya, Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, telah mengungkapkan adanya indikasi tindak pidana korupsi dalam proyek Whoosh melalui video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya pada 14 Oktober 2025. Dalam video tersebut, Mahfud menyebutkan adanya penggelembungan anggaran atau mark up di proyek tersebut.

“Menurut perhitungan pihak Indonesia, biaya per satu kilometer kereta Whoosh itu 52 juta dolar Amerika Serikat. Akan tetapi, di China sendiri, hitungannya 17-18 juta dolar AS. Naik tiga kali lipat,” kata Mahfud MD dalam video yang ia bagikan.

Mahfud melanjutkan bahwa perbedaan angka ini menciptakan pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab atas kenaikan biaya tersebut. “Ini siapa yang menaikkan? Uangnya ke mana? Naik tiga kali lipat. 17 juta dolar AS ya, dolar Amerika nih, bukan rupiah, per kilometer-nya menjadi 52 juta dolar AS di Indonesia. Nah itu mark up. Harus diteliti siapa yang dulu melakukan ini,” tambahnya.

KPK Meminta Laporan dari Mahfud MD

Pasca-pengungkapan Mahfud, KPK langsung mengambil langkah untuk meminta laporan lebih lanjut terkait dugaan korupsi dalam proyek Whoosh. Pada 16 Oktober 2025, lembaga anti-korupsi itu mengimbau Mahfud untuk menyampaikan informasi mengenai masalah tersebut. Setelahnya, Mahfud dan KPK saling berkomunikasi mengenai permasalahan yang dianggap berkaitan dengan proyek kereta cepat tersebut.

Hingga 26 Oktober 2025, Mahfud menyatakan siap dipanggil KPK untuk memberikan keterangan terkait dugaan korupsi proyek Whoosh. “Saya siap dipanggil KPK untuk menjelaskan lebih lanjut,” ujarnya. Dalam waktu yang sama, KPK terus melakukan investigasi dan mengumpulkan bukti-bukti yang relevan.

Proses Penyelidikan Mulai Berjalan Sejak Awal 2025

Dalam pemberitaan terbaru, KPK mengungkapkan bahwa dugaan korupsi proyek Whoosh sudah naik ke tahap penyelidikan sejak awal 2025. Pernyataan ini diumumkan pada 27 Oktober 2025, setelah sebelumnya menerima laporan dari Mahfud MD. Meski demikian, KPK menekankan bahwa penanganan kasus ini tidak langsung berubah menjadi penyidikan karena prosesnya masih memerlukan waktu untuk diverifikasi.

KPK juga menjelaskan bahwa penyelidikan proyek Whoosh melibatkan tim khusus yang fokus pada pengelolaan keuangan dan manajemen kontrak. “Kita sedang mengecek aspek-aspek teknis dan keuangan untuk memastikan ada indikasi kecurangan yang jelas,” kata Budi Prasetyo. Ia menegaskan bahwa KPK tidak menunda proses karena ketidaktahuan, melainkan untuk memastikan keakuratan data yang digunakan.

Selain itu, KPK menyebutkan bahwa proyek Whoosh adalah salah satu dari beberapa proyek besar yang menjadi fokus investigasinya. “Kasus ini bagian dari upaya KPK untuk memastikan transparansi dalam penggunaan dana publik,” jelas Budi. Proyek kereta cepat ini juga mendapat perhatian luas karena melibatkan kerja sama antara pemerintah Indonesia dan perusahaan China, yang membuatnya menjadi titik perhatian dalam hal regulasi dan kebijakan pengadaan.

KPK dan Mahfud MD Tetap Koordinasi

Mahfud MD, yang sebelumnya menyampaikan dugaan korupsi dalam proyek tersebut, tetap menjaga komunikasi dengan KPK. Ia berharap proses penyelidikan bisa berjalan cepat dan transparan. “Saya yakin KPK akan menemukan fakta-fakta yang jelas,” ujar Mahfud. Meski demikian, ia juga menyatakan bahwa proses investigasi perlu didukung oleh berbagai pihak, termasuk data yang berasal dari laporan keuangan dan kontrak.

Sebagai respons terhadap laporan Mahfud, KPK memastikan bahwa tim investigasinya sudah memulai pengecekan dokumen dan mengumpulkan bukti-bukti yang relevan. “Kita sudah menerima berbagai informasi dari pihak terkait dan sedang memprosesnya,” kata Budi. Ia menegaskan bahwa KPK tidak hanya bergantung pada laporan publik, tetapi juga pada data internal yang lebih dalam.

Proses penyelidikan ini diharapkan bisa selesai dalam waktu yang cukup singkat, terutama karena berbagai indikasi kecurangan sudah terlihat jelas. “KPK akan terus mengawal kasus ini hingga menemukan hasil yang memuaskan,” pungkas Budi. Dengan demikian, kasus Whoosh masih menjadi fokus utama dalam upaya pemberantasan korupsi di sektor infrastruktur.