Lifestyle

Latest Program: Pengamat: Publik Makin Sadar Efek Buruk Medsos untuk Anak-anak

Pengamat: Publik Makin Sadar Efek Buruk Medsos pada Anak-Anak Latest Program - Jakarta, Beritasatu.com – Menurut Heru Sutadi, seorang ahli telekomunikasi

Desk Lifestyle
Published Juni 7, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Pengamat: Publik Makin Sadar Efek Buruk Medsos pada Anak-Anak

Latest Program – Jakarta, Beritasatu.com – Menurut Heru Sutadi, seorang ahli telekomunikasi, survei terbaru oleh Poltracking yang menunjukkan sebanyak 77,4% masyarakat Indonesia mendukung pembatasan penggunaan media sosial (medsos) bagi anak di bawah 16 tahun mencerminkan peningkatan kesadaran publik terhadap dampak negatif platform digital terhadap generasi muda. Survei ini, yang dilaporkan oleh Antara pada Sabtu (6/6/2026), menggarisbawahi kecemasan masyarakat akan berbagai risiko yang muncul akibat akses yang tak terbatas ke konten online. Heru menilai kekhawatiran tersebut berkembang karena adanya paparan terhadap bahan berbahaya, ancaman perundungan siber, serta kecanduan digital yang semakin mengemuka.

Kebijakan Pembatasan Usia Jadi Solusi Awal

Menurut Heru, meski dukungan publik terhadap pembatasan usia terhadap anak di medsos mencapai angka signifikan, kebijakan tersebut hanyalah langkah awal. Ia menekankan bahwa untuk mengurangi risiko eksploitasi daring dan gangguan kesehatan mental, pemerintah perlu menyusun regulasi yang lebih ketat. “Pembatasan usia bisa menjadi langkah penting, tapi efektivitasnya tergantung pada keandalan mekanisme verifikasi usia, kerja sama platform digital, serta pengawasan yang konsisten,” jelas Heru. Ia juga mengingatkan bahwa tanpa implementasi yang solid, aturan ini mungkin saja diakali oleh pengguna.

“Tingginya dukungan masyarakat menunjukkan adanya kekhawatiran yang semakin besar terhadap dampak negatif medsos bagi anak, mulai dari paparan konten berbahaya, perundungan siber, kecanduan digital, hingga ancaman eksploitasi daring,” tutur Heru saat diwawancara di Jakarta.

Kasus Meningkatkan Perhatian Terhadap Perlindungan Anak

Heru mengungkapkan bahwa berbagai insiden yang diangkat oleh media, seperti kekerasan siber, penipuan online, dan gangguan mental, telah mendorong publik untuk lebih waspada. Ia menyebutkan bahwa fenomena ini menunjukkan bahwa ruang digital saat ini dianggap tidak sepenuhnya aman bagi anak. Dalam survei serupa yang ia lakukan sebelumnya, angka dukungan mencapai 80%, yang menunjukkan tingkat kesadaran masyarakat terhadap risiko yang tersembunyi semakin tinggi.

Tantangan dari Banyaknya Aplikasi Digital

Menurut Heru, tantangan terbesar dalam membatasi akses anak ke medsos adalah jumlah aplikasi yang begitu banyak beroperasi di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa di negara ini, terdapat lebih dari 16.000 aplikasi digital, dengan sekitar 1.600 di antaranya memiliki potensi risiko tinggi bagi anak. “Ini berarti pemerintah harus lebih selektif dalam mengawasi aplikasi yang diakses oleh anak-anak,” imbuhnya. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya pendekatan komprehensif, yang tidak hanya berupa pembatasan, tetapi juga kombinasi dari edukasi, pengawasan, dan regulasi yang jelas.

Langkah Kombinasi untuk Perlindungan yang Efektif

Heru menegaskan bahwa kebijakan yang seimbang antara regulasi, pendidikan, dan pengawasan akan lebih berhasil dalam melindungi anak di ruang digital. Ia menilai bahwa edukasi orang tua dan guru berperan kritis dalam membantu anak memahami cara menggunakan media sosial secara bijak. “Kebiasaan berinteraksi di internet membutuhkan kesadaran yang ditingkatkan, dan itu bisa diwujudkan melalui pengajaran di sekolah serta pelatihan langsung kepada orang tua,” lanjut Heru. Selain itu, ia juga meminta platform digital untuk lebih transparan dalam menampilkan konten yang sesuai dengan usia pengguna.

Risiko yang Masih Tersembunyi

Heru menambahkan bahwa meski pembatasan usia menjadi langkah penting, keberhasilannya masih bergantung pada kepatuhan semua pihak. Ia mengingatkan bahwa tanpa pendekatan yang menyeluruh, kebijakan ini mungkin saja gagal mengatasi masalah yang lebih dalam, seperti pengaruh algoritma yang mempercepat paparan konten negatif, atau tuntutan ekonomi dari industri digital yang mengabaikan kesejahteraan anak. “Jika hanya fokus pada pembatasan, kita mungkin akan melewatkan faktor-faktor lain yang berkontribusi pada risiko ini,” paparnya.

Kesadaran Publik Masih Perlu Ditingkatkan

Heru mengatakan survei terbaru menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat terhadap efek jangka panjang medsos semakin tajam. Namun, ia juga menyebut bahwa kesadaran ini belum merata. “Banyak orang mungkin masih menganggap media sosial hanya sebagai alat hiburan, padahal dampaknya bisa sangat serius, terutama terhadap kognisi dan emosi anak-anak,” jelasnya. Ia berharap ada konsensus yang lebih luas di kalangan publik, agar kebijakan pembatasan usia dapat diterapkan secara efektif.

Masa Depan Anak-Anak dalam Ruang Digital

Kebijakan yang dibahas Heru ini menunjukkan bahwa perlindungan anak di ruang digital menjadi prioritas utama. Dengan 77,4% responden survei menyatakan dukungan terhadap pembatasan usia, pemerintah seharusnya segera mengambil langkah konkret. Namun, Heru mengingatkan bahwa kesuksesan kebijakan ini memerlukan kolaborasi antara pemerintah, platform digital, dan keluarga. “Tanpa kebersamaan, kebijakan yang baik hanya akan menjadi dokumen yang tercatat, bukan solusi nyata,” pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti yang terbaru melalui WhatsApp Channel Beritasatu. Selain itu, baca juga berita terkait seperti: Iran Kutuk Serangan AS karena Langgar Gencatan Senjata, Jonatan Christie Akhirnya Tembus Final Indonesia Open, WNI Tewas Ditikam Sesama Warga Indonesia di Jepang, 2 Orang Terluka, Kapal Tanker Jepang Berlabuh di Yokohama setelah Lewati Selat Hormuz, Ratu Sofya Mengaku Kehilangan Kontrak Kerja Akibat Kasus Dugaan Fitnah, Bea Cukai Optimalkan Pemeriksaan Fisik Barang Impor, serta Koordinasi Kebijakan Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah. Indonesia Libas Oman dalam Garuda Championship 2026, BPOM Temukan Jutaan Kosmetik Ilegal di Tangerang, Rupiah Tumbang, Ekonomi Terguncang, Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional, dan Negara yang Ikut Berkurban Membumikan “Opera” di Lintasan Khatulistiwa.

Leave a Comment