New Policy: CFD Rasuna Said ditiadakan sementara, digelar kembali pada Juni

CFD Rasuna Said Ditiadakan Sementara, Digelar Kembali Pada Juni

New Policy – Sebagai bagian dari new policy terbaru, Pemprov DKI Jakarta mengumumkan penghentian sementara pelaksanaan Car Free Day (CFD) di Jalan HR Rasuna Said pada Minggu (17 Mei), sebagai respons terhadap evaluasi keberlanjutan aktivitas tersebut. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Syafrin Liputo, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah analisis menyeluruh terhadap dampak dan potensi masalah yang muncul dari pelaksanaan HBKB di koridor tersebut.

Evaluasi dan Penyesuaian Keberlanjutan

Menurut Syafrin, hasil evaluasi menunjukkan bahwa new policy ini diperlukan untuk mengoptimalkan penggunaan ruang publik dan menghindari kepadatan yang mungkin mengganggu kegiatan sehari-hari masyarakat. Selain itu, aktivitas HBKB di Rasuna Said yang menurun drastis pada akhir Mei 2026, dari 29.256 orang menjadi 13.759 orang, menjadi indikator bahwa kebijakan tersebut perlu disesuaikan. “Pengurangan jumlah pengunjung menunjukkan bahwa HBKB di sini mampu mengalihkan arus lalu lintas ke kawasan lain, seperti Sudirman-Thamrin,” tutur Syafrin.

“Dengan new policy ini, kita ingin memastikan bahwa ruang publik tidak hanya menjadi tempat untuk berolahraga, tetapi juga bisa digunakan secara efektif untuk kebutuhan sehari-hari warga Jakarta,” ujar Syafrin di Jakarta pada Sabtu.

Penghentian Sementara dan Replikasi di Bulan Juni

Pelaksanaan CFD pada koridor Rasuna Said akan dihentikan sementara hingga akhir Mei, sebelum digelar kembali pada Juni 2026. Jadwal ulang akan dimulai pada pukul 05.30 hingga 09.00 WIB setiap Minggu. Syafrin menegaskan bahwa penyesuaian ini bertujuan agar new policy bisa lebih berkelanjutan, tanpa mengorbankan akses masyarakat terhadap ruang terbuka. “Kita sedang memperbaiki infrastruktur dan pengaturan kegiatan agar pelaksanaan HBKB lebih terstruktur dan memberikan manfaat maksimal,” tambahnya.

Proses evaluasi terhadap CFD juga mencakup pengecekan terhadap kualitas udara, yang menunjukkan peningkatan signifikan selama pelaksanaan HBKB. Namun, ada beberapa kritik yang muncul, seperti ketidaksempurnaan pembatas jalur Transjakarta dan masalah parkir liar di sekitar koridor. Syafrin menyatakan bahwa new policy akan memperbaiki hal-hal tersebut dengan penyempurnaan sistem pengelolaan ruang dan pengaturan kegiatan pedagang.

Adapun, penghentian sementara CFD di Rasuna Said tidak berarti kebijakan tersebut ditolak. Justru, ini menjadi langkah strategis untuk mengevaluasi efektivitas new policy dan menyesuaikannya dengan kondisi terkini. “Kita perlu memastikan bahwa setiap perubahan memiliki dampak yang positif dan berkelanjutan, baik untuk lingkungan maupun pengguna jalan,” jelas Syafrin. Dalam waktu dekat, Dishub DKI juga akan mengeluarkan regulasi yang menjadi dasar pelaksanaan new policy ini, agar kegiatan HBKB dapat dijalankan dengan lebih terarah.

Selain memperbaiki fasilitas, new policy juga menargetkan peningkatan pengalaman pengunjung melalui penerapan sistem yang lebih baik. Penataan UMKM di sepanjang koridor, misalnya, akan diperketat untuk mencegah penggunaan lahan secara tidak optimal. Hal ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan fungsi ruang publik sebagai tempat rekreasi. “Kita ingin menciptakan suasana yang nyaman, sejuk, dan minim gangguan, sehingga masyarakat lebih antusias mengikuti kegiatan HBKB,” tambah Syafrin.

Dengan new policy yang diterapkan, Pemprov DKI Jakarta berharap dapat memperkuat komitmen terhadap pengembangan kota yang ramah lingkungan dan ramah pengguna. Keputusan penghentian sementara CFD menjadi langkah awal dalam perbaikan sistem yang lebih berkelanjutan. Selama masa penyempurnaan, masyarakat akan tetap dapat menikmati ruang terbuka di kawasan lain, seperti Sudirman-Thamrin, yang masih menjadi koridor utama HBKB.

Pelaksanaan new policy ini juga memperhatikan keterlibatan seluruh sektor terkait. Dishub DKI Jakarta berkolaborasi dengan perangkat daerah lainnya untuk memastikan kegiatan HBKB tidak hanya menyenangkan, tetapi juga aman dan tertib. Syafrin menegaskan bahwa penyesuaian ini akan terus dilakukan sesuai dengan umpan balik dan data yang diperoleh. “Kita ingin HBKB menjadi bagian dari kehidupan kota Jakarta yang lebih modern dan inklusif,” pungkasnya.