Jihan Meraih Masa Depan Cerah Lewat Program Sekolah Rakyat di Jepara
Dari Rumah Beralas Tanah Jihan Menjemput – Di wilayah Desa Troso yang terletak di Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, terdapat sebuah keluarga yang menyimpan harapan mendalam melalui program pendidikan rakyat. Rumah kayu sederhana dengan lantai tanah menjadi saksi bisu perjalanan hidup pasangan Ali Mukson dan Isnani yang rela mengorbankan kenyamanan demi masa depan anak-anak mereka. Di tengah keterbatasan finansial yang melanda kehidupan sehari-hari, kedua orang tua ini memutuskan untuk memisahkan diri dari putri mereka sebagai investasi terbaik untuk generasi mendatang.
Ali Mukson menjalani profesi sebagai buruh serabutan yang juga menangani perbaikan berbagai peralatan elektronik. Sementara itu, Isnani menghidupi keluarga dengan keterampilan merajut tenun khas Troso yang telah menjadi warisan lokal. Penghasilan yang fluktuatif membuat mereka harus bekerja keras memenuhi kebutuhan empat orang anak. Titik balik kehidupan keluarga ini datang ketika Jihan Aliya Ramadani, anak kedua berusia sembilan tahun, berhasil diterima sebagai peserta sekolah rakyat.
Program yang Meringankan Beban Keluarga
Program pendidikan tersebut memberikan manfaat luar biasa bagi keluarga ini. Seluruh biaya pendidikan, fasilitas tempat tinggal, hingga kebutuhan makan sehari-hari ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Hal ini secara signifikan mengurangi beban ekonomi yang selama ini dirasakan Isnani. Ibu dari empat anak ini menyampaikan rasa syukurnya dengan penuh kebahagiaan.
“Sangat terbantu sekali, pak. Soalnya saya punya empat anak. Alhamdulillah beban hidup jadi lebih ringan karena kebutuhan Jihan sudah ditanggung di sekolah rakyat,” ujar Isnani pada Sabtu (18/7/2026).
Sebelum bergabung dengan sekolah rakyat tahun 2025, Jihan menempuh pendidikan di sekolah dasar yang lokasinya tidak jauh dari rumah mereka. Kini, kehidupan Jihan berubah total. Ia tinggal di asrama dan hanya kembali ke rumah saat masa libur semester atau ketika Hari Raya Idulfitri tiba. Perubahan ini membawa dampak emosional yang mendalam bagi sang ibu.
Rasa Rindu yang Tak Terkatakan
Meskipun mendukung penuh keputusan untuk menyekolahkan Jihan di tempat yang lebih jauh, Isnani tidak bisa menyembunyikan rasa kangen yang semakin hari semakin kuat. Jihan dikenal sebagai anak yang sangat membantu dalam pekerjaan rumah tangga dan selalu patuh terhadap setiap permintaan orang tuanya. Kehadiran Jihan selama ini memberikan kehangatan tersendiri bagi rumah mereka.
“Kangen sekali. Dahulu apa saja yang saya suruh pasti mau. Nyapu, bantu pekerjaan rumah, semuanya dilakukan. Sekarang rumah terasa sepi tanpa Mbak Jihan,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Kerinduan itu semakin terasa karena aturan asrama membatasi kunjungan orang tua. Selain itu, pemberian uang saku dalam jumlah besar juga tidak diperbolehkan. Sekolah menerapkan kebijakan agar seluruh siswa mendapatkan perlakuan yang sama tanpa terkecuali. Meski berat hati harus berpisah dengan anak yang masih sangat kecil, Isnani memilih untuk mengesampingkan kesedihannya pribadi.
“Saya sebenarnya kasihan. Anak sekecil itu harus tinggal jauh dari rumah, tetapi semua ini demi masa depannya. Demi kebaikannya saya ikhlas, walaupun hati saya tetap sedih,” ucapnya sambil menangis.
Harapan untuk Generasi Mendatang
Sebagai seorang ibu, Isnani menyadari bahwa keterbatasan ekonomi bisa menjadi penghalang besar bagi pendidikan anak-anaknya. Oleh karena itu, ia memiliki satu harapan utama yaitu Jihan dapat melanjutkan studi hingga jenjang perguruan tinggi. Ia ingin anak perempuannya meraih kehidupan yang lebih baik dibandingkan dirinya sendiri.
“Harapan saya cuma satu, semoga Jihan bisa sekolah setinggi-tingginya dan masa depannya jauh lebih baik daripada saya. Jangan sampai hidupnya susah seperti orang tuanya,” katanya.
Selain manfaat pendidikan, keluarga ini juga menerima bantuan peralatan servis elektronik yang mendukung usaha Ali Mukson. Namun, kondisi ekonomi mereka masih tergolong pas-pasan. Isnani berharap program bantuan pemerintah dapat terus menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Ia yakin bahwa bantuan yang tepat sasaran akan membantu keluarga kurang mampu meningkatkan taraf hidup mereka secara berkelanjutan.
“Semoga pemerintah terus memperhatikan keluarga yang benar-benar miskin seperti kami. Program seperti ini sangat membantu, asal tepat sasaran,” pungkasnya.
