BYD Diprediksi Makin Dominan, Pabrik di Indonesia Jadi Faktor Kunci
Key Strategy – Jakarta, Beritasatu.com – Produsen mobil listrik asal Tiongkok, BYD, mendapat apresiasi positif dari Citic Securities, salah satu bank investasi terbesar di negara tersebut. Laporan terbaru yang diterbitkan pada Selasa, 16 Juni 2026, melalui sumber Car News China, menyoroti prospek pertumbuhan jangka panjang perusahaan yang dinilai sangat kuat. Berdasarkan evaluasi Citic, faktor utama yang mendukung kenaikan penjualan BYD adalah ekspansi pasar internasional dan kemajuan teknologi yang terus dilakukan.
Proyeksi Pertumbuhan Berdasarkan Laporan Citic Securities
Laporan Citic Securities menekankan bahwa BYD memiliki peluang besar untuk menguasai sektor kendaraan listrik global. Perusahaan tersebut menargetkan ekspor sebanyak 1,6 juta unit kendaraan pada 2026, angka yang meningkat 52,4% dibandingkan volume penjualan di luar negeri tahun 2025 sebesar 1.046.083 unit. Analis menilai bahwa peningkatan ini akan membantu BYD memperkuat posisinya di pasar internasional, terutama di Eropa dan pasar lain yang sedang berkembang.
Peluncuran Teknologi Inovatif sebagai Pendorong Penjualan
Dalam laporan terbaru, Citic juga memprediksi bahwa model-model terbaru BYD, yang menggunakan baterai blade generasi kedua dan sistem pengisian daya super cepat (flash charging), akan menjadi salah satu penentu utama pertumbuhan penjualan perusahaan. Diperkirakan, penjualan bulanan kendaraan dengan teknologi ini mencapai 20.000 hingga 30.000 unit, dan berkontribusi sekitar 30% terhadap total penjualan tahunan BYD.
Datangnya teknologi ini diperkirakan akan memberikan keunggulan kompetitif bagi BYD, terutama di tengah persaingan ketat industri kendaraan listrik. Menurut Citic, kehadiran teknologi flash charging bukan hanya meningkatkan kecepatan pengisian baterai, tetapi juga mengurangi biaya operasional pengguna akhir. Hal ini diharapkan mampu mengamankan pangsa pasar di wilayah dengan permintaan tinggi, seperti Eropa.
Ekspansi Pabrik di Indonesia dan Hungaria
Sebagai bagian dari strategi ekspansi global, BYD sedang membangun fasilitas produksi di Indonesia dan Hungaria. Laporan Citic Securities menyatakan bahwa pembangunan pabrik tersebut dijadwalkan mulai beroperasi tahun ini, dan akan berdampak signifikan pada efisiensi produksi serta peningkatan margin keuntungan perusahaan dalam jangka panjang. Pabrik baru di Indonesia dianggap sebagai faktor kunci yang mendorong dominasi BYD di pasar Asia Tenggara.
Dengan kehadiran pabrik di dua negara, BYD dapat mengurangi ketergantungan pada ekspor langsung, sekaligus menjangkau konsumen lokal lebih cepat. Pabrik di Indonesia, misalnya, diharapkan meningkatkan aksesibilitas produk perusahaan, terutama di wilayah yang belum sepenuhnya dijangkau oleh rantai pasok global. Sementara itu, pabrik di Hungaria akan memberikan dukungan untuk memenuhi permintaan di Eropa, yang merupakan pasar utama untuk teknologi baterai dan pengisian daya BYD.
Kontribusi Penjualan Domestik di Tiongkok
Menurut data dari China EV DataTracker, pada Mei 2026, BYD berhasil menjual 9.916 unit SUV Song Ultra di pasar Tiongkok. Model lain seperti Fang Cheng Bao Ti3 terjual sebanyak 6.086 unit, sementara Denza Z9 GT mencatatkan penjualan sebanyak 5.842 unit. Ketiga produk tersebut sudah didukung teknologi pengisian daya flash charging, yang menjadi andalan BYD dalam meningkatkan daya tarik produk di pasar domestik maupun internasional.
Selain itu, Citic Securities menyoroti bahwa BYD telah mengembangkan jaringan pengisian daya super cepat di Eropa. Jaringan ini akan memperkuat daya jual produk perusahaan di luar negeri, terutama di wilayah yang menerapkan regulasi ketat terhadap emisi karbon. Dengan membangun infrastruktur ini, BYD dapat memastikan konsumen di Eropa memiliki akses mudah ke teknologi terbaru yang ditawarkan.
Persaingan dalam Pengembangan ADAS Level Tinggi
Dalam laporan yang sama, Citic menyebutkan bahwa BYD berada di posisi strategis dalam pengembangan sistem bantuan mengemudi tingkat lanjut, yaitu ADAS level L3 dan L4. Teknologi ini diperkirakan menjadi pembeda penting bagi BYD di tengah persaingan industri kendaraan listrik yang semakin ketat. Namun, perusahaan lain dari Tiongkok juga tidak kalah dalam pengembangan teknologi serupa, seperti Geely dengan G-ASD, Chery dengan Falcon Pilot, dan Huawei yang menawarkan sistem ADS.
“Teknologi ADAS level L3 dan L4 akan menjadi kunci dalam menghadapi persaingan global, karena menawarkan kenyamanan dan keamanan berkendara yang lebih tinggi dibandingkan teknologi konvensional,” kata analis Citic Securities.
Meski memiliki kemajuan signifikan, BYD tetap menghadapi tantangan dari produsen otomotif Tiongkok lainnya yang terus berinovasi. Namun, Citic yakin bahwa perusahaan akan terus mempertahankan keunggulan di sektor ini dengan kombinasi
