Dari Mi Instan ke Donat Susu, Warmindo Wiwik Kian Laris
Program CSR Pertamina Dorong Kemajuan Usaha Rumahan
Amalzakat.com – Key Strategy – Terselip di tengah lingkungan pemukiman warga, sebuah warung makan sederhana menjadi tempat perjuangan Wiwik Utami (49), warga Jalan Pengadegan Utara, Jakarta Selatan. Usaha ini, yang dikenal sebagai warmindo, kini perlahan berkembang menjadi pilihan makanan yang diminati oleh banyak konsumen. Kehadiran Wiwik di sini terbukti tidak hanya menghidupkan bisnis keluarganya, tetapi juga menunjukkan bagaimana program sosial perusahaan Pertamina, UMiMAX, mampu menjadi penggerak utama bagi pelaku usaha mikro yang terpuruk. Program ini, yang merupakan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), dirancang untuk mendukung kelompok rentan seperti korban PHK, pekerja informal, hingga usaha kecil yang mengalami kesulitan dalam pengadaan modal.
“Sebenarnya sudah kepikiran (membuka usaha), tetapi terkendala di modal,”
Saat diwawancara Beritasatu.com pada Jumat (19/6/2026), Wiwik mengungkapkan bahwa ide untuk memulai usaha telah ada lama. Namun, kondisi ekonomi yang tidak menentu membuatnya sulit memperoleh dana. Kehilangan pekerjaan oleh suaminya memperparah situasi, sehingga pendapatan keluarga jauh berkurang. “Memang sebelumnya sudah pernah ada usaha, cuma berhenti. Terus sayang anggur, berhenti sama sekali. Berbarengan dengan berhentinya usaha saya, suami juga berhenti kerja, diberhentikan dari pekerjaan. Jadi memang dari situ ekonominya sudah mulai enggak stabil,” ujarnya.
Setelah mengalami masa sulit, Wiwik akhirnya menemukan harapan baru melalui program UMiMAX. Kebetulan, ia mendengar informasi tentang bantuan usaha dari Pertamina. Setelah mempertimbangkan berbagai pilihan, Wiwik memutuskan membuka warmindo karena melihat peluang pasar di sekitar rumahnya yang cukup ramai. “Kebetulan di sini kan pemukiman yang lumayan agak ramai, jadi berharapnya sih bisa dapat peluang usaha baru,” kata Wiwik.
Bantuan dari UMiMAX tidak hanya berupa alat dan bahan baku awal, tetapi juga pelatihan serta pendampingan rutin yang memperkuat kemampuan manajerial Wiwik. Awalnya, menu utama yang ditawarkan adalah mi instan. Namun, setelah beberapa waktu, ia menyadari bahwa inovasi diperlukan agar usahanya bisa bertahan dan berkembang. “Kita harus bisa beradaptasi dengan selera konsumen,” ujar Wiwik. Melalui pengamatan dan keinginan untuk menawarkan sesuatu yang berbeda, ia mulai menambahkan berbagai produk, mulai dari kue, makanan ringan, hingga minuman.
“Kitanya rinyayang kira-kira orang belum terlalu banyak jual,”
Salah satu inovasi yang sukses adalah donat susu. Menu ini dipilih karena belum banyak dijual di sekitar area usahanya. Wiwik menyediakan berbagai variasi rasa, seperti taburan susu, cokelat, green tea, dan stroberi, yang menjadi daya tarik bagi pelanggan. Selain donat susu, ia juga menawarkan es mambo, es lilin berbahan susu, gorengan, lontong, serta menu sarapan lainnya. Dengan strategi ini, konsumen yang datang ke warmindo Wiwik semakin beragam, dari anak-anak hingga orang dewasa.
Kehadiran warmindo milik Wiwik mulai dikenal masyarakat melalui promosi secara oral. Meski berlokasi di dalam gang, usahanya mampu menarik perhatian seiring berjalannya waktu. Ramadan menjadi momen penting yang mempercepat pertumbuhan bisnis. Saat itu, Wiwik menjual takjil dengan pesat, yang membawa omzet harian hingga mencapai Rp 2 juta pada beberapa periode. “Pertama kali buka memang agak berat ya. Mungkin orang juga belum banyak yang tahu kalau kita sudah mulai buka usaha warmindo. Apalagi kita kan jualannya agak di dalam gang, jadi jarang orang lihat,” ujarnya.
Hasil dari kerja keras Wiwik mulai terlihat. Saat ini, ia mampu memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp 500.000 per minggu. Pendapatan ini menjadi penyelamat bagi keluarganya, terutama dalam menjaga stabilitas ekonomi setelah penghasilan anaknya yang sudah bekerja tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pemasukan. Perlahan, usaha ini mampu memenuhi kebutuhan keluarga dan bahkan memberi ruang untuk berkembang lebih jauh.
Pengembangan produk yang dinamis juga memperlihatkan bagaimana Wiwik mampu merespons kebutuhan pasar. Dari awal hanya mi instan, ia sekarang menawarkan beragam pilihan yang disesuaikan dengan selera warga sekitar. Pengalaman ini menunjukkan bahwa dukungan dari program CSR Pertamina bukan hanya memberi alat, tetapi juga membuka wawasan dan membangun kepercayaan diri pelaku usaha. “Bantuan ini membuka peluang baru, tidak hanya dari sisi peralatan, tapi juga dari segi pemahaman tentang pemasaran dan pengelolaan bisnis,” tambah Wiwik.
Secara keseluruhan, program UMiMAX Pertamina telah mendukung 168 mitra usaha mikro sejak diluncurkan. Jumlah ini mencerminkan dampak positif program tersebut dalam memperkuat ekonomi masyarakat kecil. Dengan pendekatan yang berfokus pada pelatihan dan penyesuaian produk, Pertamina membantu pelaku usaha seperti Wiwik mengubah tantangan menjadi peluang. Usaha yang diawali dari tempat sederhana ini kini menjadi contoh inspiratif bagaimana inisiatif perusahaan dapat mendorong kemandirian ekonomi.
Kisah Wiwik juga menunjukkan pentingnya kreativitas dalam usaha rumahan. Dengan memperkenalkan donat susu dan es lilin, ia mampu menarik perhatian pelanggan dan membangun klien loyal. Meski sempat mengalami keterbatasan awal, kesabaran dan usaha yang terus-menerus membawa perubahan. Pemasukan tambahan dari bisnis ini telah menjadi tulang punggung pendapatan keluarga, mengurangi ketergantungan pada penghasilan anaknya. “Saya bersyukur bisa berdiri kembali. Tidak hanya memenuhi kebutuhan, tetapi juga bisa memberi kontribusi bagi ekonomi keluarga,” pungkas Wiwik.

