Nonton Inggris pada Piala Dunia Ternyata Bisa Bahayakan Jantung
Penelitian Mengungkap Dampak Emosional pada Tubuh Penonton
Key Strategy – Menonton pertandingan sepak bola di Piala Dunia 2026 ternyata memiliki dampak yang lebih dari sekadar hiburan. Seorang jurnalis BBC, James Gallagher, menjadi subjek eksperimen ilmiah untuk mengamati reaksi fisik dan emosional yang muncul saat menyaksikan laga Inggris. Eksperimen ini menggunakan berbagai alat medis, termasuk sensor detak jantung, elektroda tubuh, dan perangkat pengukur aliran darah ke otak. Selain itu, ia juga diminta memberikan sampel air liur untuk mengetahui perubahan kadar hormon stres kortisol sebelum dan sesudah pertandingan. Hasilnya menunjukkan bahwa menonton pertandingan bisa memicu respons tubuh yang signifikan, bahkan lebih ekstrem dari aktivitas fisik sehari-hari.
Reaksi Fisiologis yang Terukur
Dalam eksperimen, James Gallagher mengalami peningkatan denyut jantung yang mencolok. Awalnya, detak jantungnya berada di angka 54 denyut per menit, tetapi hanya dalam setengah detik, angka itu melonjak menjadi 69 denyut setelah Inggris mencetak gol. Ini menunjukkan bagaimana emosi penonton bisa memengaruhi fungsi kardiovaskular secara langsung. Selain itu, tekanan darahnya juga meningkat, sementara kadar karbon dioksida dalam darah turun, mengindikasikan hiperventilasi ringan. Perubahan ini berdampak pada aliran darah ke otak, yang secara sementara terganggu.
“Saya ingin melihat respons stres, emosi, kecemasan, ketakutan, teriakan, lupa bernapas, atau justru bernapas berlebihan, semuanya,” kata Profesor Damian Bailey dari University of South Wales, dikutip dari BBC pada Selasa, 23 Juni 2026.
Menurut Bailey, reaksi tubuh saat menonton pertandingan bisa dianggap sebagai bentuk stres positif. Dari perspektif evolusi, respons ini membantu manusia tetap waspada dan responsif, meskipun dalam konteks modern, dampaknya bisa menjadi bumerang untuk orang dengan kondisi kesehatan tertentu. Ia menjelaskan bahwa stres bukanlah hal negatif, melainkan alat yang membuat tubuh tetap aktif. “Stres adalah hal yang membuat kita tetap hidup,” ujarnya. Bagi sebagian orang, menonton pertandingan bisa seperti latihan fisik ringan tanpa menguras energi.
Kondisi Tubuh yang Menentukan Dampaknya
Hasil pengukuran menunjukkan perbedaan respons di antara individu. Beberapa penonton memiliki reaksi yang lebih kuat, dengan lonjakan detak jantung mencapai 50–60 denyut per menit. Fenomena ini terjadi karena perbedaan tingkat sensitivitas terhadap emosi yang diakibatkan pertandingan. Para peneliti menyatakan bahwa efek menonton pertandingan sangat bergantung pada kondisi kardiovaskular atau gangguan pembuluh darah seseorang. Jika tubuh tidak siap menghadapi respons ini, risiko kesehatan meningkat, termasuk kejadian pingsan atau masalah jantung.
Meski terlihat seperti stres negatif, fenomena ini justru memberi manfaat untuk tubuh. Stres positif membantu meningkatkan kewaspadaan, baik secara mental maupun fisik. Namun, efek ini bisa berubah menjadi bahaya jika seseorang tidak memiliki sistem penyaringan yang memadai. Misalnya, bagi yang mengalami hipertensi atau penyakit jantung koroner, tekanan pada tubuh selama menonton pertandingan bisa memicu komplikasi serius. Maka, penting bagi penonton untuk memahami bagaimana respons mereka terhadap emosi olahraga.
Eksperimen Ilmiah yang Memicu Perdebatan
James Gallagher, sebagai bagian dari penelitian ini, mengalami perubahan hormonal yang nyata. Kadar kortisol dalam air liurnya meningkat dari 4,19 nmol/L menjadi 5,15 nmol/L setelah pertandingan selesai. Perubahan ini menggambarkan bagaimana emosi yang tinggi, seperti kegembiraan atau ketakutan, bisa memengaruhi kesehatan secara langsung. Meskipun penelitian ini fokus pada laga Inggris, hasilnya bisa berlaku untuk pertandingan sepak bola lainnya, terutama pada penonton yang sangat menikmati atau cemas terhadap hasil laga.
Penelitian ini memicu perdebatan tentang peran emosi dalam kesehatan jantung. Apakah menonton olahraga secara intensif bisa dikategorikan sebagai aktivitas yang berisiko, ataukah hanya bagian dari kehidupan normal? Dari sisi fisiologi, respons stres selama menonton pertandingan berlangsung nyata. Namun, untuk kehidupan sehari-hari, efek ini bisa diminimalkan dengan teknik relaksasi atau pengaturan emosi. Bailey menekankan bahwa perbedaan respons ini membuat setiap orang harus memantau dampak menonton olahraga secara individu.
Perspektif Kesehatan dan Peringatan untuk Penonton
Para peneliti menegaskan bahwa kejadian stres selama menonton pertandingan sepak bola bisa menjadi alat untuk meningkatkan kesehatan, asalkan dikelola dengan baik. Untuk penonton yang sehat, ini bisa menjadi cara menyenangkan untuk tetap aktif secara mental. Namun, bagi individu dengan riwayat penyakit jantung atau gangguan peredaran darah, efeknya bisa menjadi bahaya. Maka, penting bagi mereka untuk tidak menonton pertandingan dalam kondisi emosional ekstrem atau menggunakan strategi pengendalian stres sebelum dan selama pertandingan.
Studi ini juga membuka ruang diskusi tentang bagaimana media massa memainkan peran dalam menyebarkan stres kepada penonton. Sepak bola, sebagai olahraga yang paling diminati di seluruh dunia, mampu memicu reaksi emosional yang kuat. Maka, perlu edukasi lebih lanjut untuk menjaga kesehatan penonton, terutama selama masa penyiaran pertandingan besar. Dengan memahami mekanisme respons tubuh, masyarakat bisa lebih bijak dalam menikmati pertandingan tanpa mengorbankan kesehatan.
Sebagai tambahan, para peneliti menyoroti bahwa perubahan hormon dan fisiologi selama menonton pertandingan tidak selalu negatif. Stres positif bisa menjadi motivasi untuk tetap waspada dan fokus, seperti saat mempersiapkan diri untuk tugas berat. Namun, kuncinya adalah menyeimbangkan antara kegembiraan dan pengendalian diri. Bagi penonton yang sehat, menonton pertandingan bisa menjadi pengalaman yang bermanfaat. Tapi bagi yang rentan, perlu hati-hati dan memantau kondisi fisik setelah menonton lama.
