Ulah Baru Donald Trump Jadi Dokter AI untuk Serang Haters
Main Agenda – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memperlihatkan perhatiannya pada media sosial setelah membagikan video yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Video ini menampilkan dirinya sebagai seorang dokter, dengan mengenakan jas lengkap dan stetoskop, serta memperkenalkan diri sebagai “dr Trump.” Ia menampilkan versi dirinya sendiri yang seolah-olah memberikan pengobatan bagi sejumlah selebritas yang selama ini kerap menjadi kritikusnya, dengan kondisi fiktif yang disebut Trump Derangement Syndrome (TDS). Video tersebut dibagikan melalui akun media sosial @realdonaldtrumppada 1 Juli, memicu perdebatan terkait penggunaan teknologi AI, khususnya deepfake, dalam politik.
Konten AI yang Memperlihatkan Kritikus sebagai Pasien
Sebagaimana dilaporkan oleh The Guardian, video berdurasi singkat ini dimulai seperti iklan layanan kesehatan. Versi AI Trump memperkenalkan diri sebagai ahli di bidang medis, menyatakan bahwa ia memiliki solusi untuk mengatasi gejala TDS, istilah yang digunakan selama bertahun-tahun oleh Trump dan pendukungnya untuk menggambarkan kritik yang dianggap berlebihan terhadapnya. Dalam video, sejumlah tokoh publik yang kerap berdebat dengan Trump hadir sebagai pasien, di antaranya Whoopi Goldberg, Robert De Niro, Julia Roberts, Rosie O’Donnell, Edward Norton, dan John Leguizamo.
“Saya memberikan perawatan bagi mereka yang mengalami kondisi ini. Jika merasa cemas, cukup minum Diet Coke, berdoa, dan hentikan menonton berita palsu,” ujar versi AI Trump dalam video tersebut.
Konten ini hadir di tengah peningkatan kepedulian terhadap regulasi AI di AS, termasuk ketika pemerintahan Trump mulai mempertimbangkan pengawasan lebih ketat terhadap industri kecerdasan buatan. Meski demikian, pihak Gedung Putih belum memberikan penjelasan terkait apakah mereka sudah menghubungi para selebritas yang wajah dan kemiripannya digunakan dalam video AI.
Reaksi dari Rosie O’Donnell
Selain video tersebut, Rosie O’Donnell, salah satu tokoh yang hadir sebagai pasien dalam AI, menegaskan bahwa pandangannya terhadap Trump tetap sama. Dalam sebuah pernyataan, ia bahkan melontarkan kritik balik terhadap presiden. Menurut O’Donnell, kondisi Trump semakin memburuk dari hari ke hari. Ia menyinggung Amandemen ke-25 Konstitusi Amerika Serikat, yang memungkinkan pencopotan presiden apabila dinilai tidak mampu menjalankan tugasnya.
“Trump semakin memburuk. Jika tidak segera diambil tindakan, kita bisa memakzulkan dia,” tutur O’Donnell.
Sebagai respons, Gedung Putih menyatakan bahwa Trump berhak membagikan konten tersebut melalui media sosialnya. Juru Bicara Gedung Putih, Davis Ingle, menyebut TDS sebagai penyakit yang melemahkan, yang menurutnya telah memengaruhi cara berpikir banyak orang. Meski demikian, ia tidak menjelaskan apakah pihaknya sudah melakukan verifikasi terhadap kebenaran video tersebut sebelum dipublikasikan.
Kunjungan ke Perpustakaan Roosevelt dengan Teknologi AI
Di luar kontroversi video AI, Trump juga menunjukkan minat pada inovasi teknologi dalam kunjungannya ke Perpustakaan Kepresidenan Theodore Roosevelt yang baru dibuka di Medora, North Dakota. Perpustakaan ini memperkenalkan versi AI dari Presiden Theodore Roosevelt, yang memungkinkan pengunjung berinteraksi dengan arsip pidato, surat, foto, dan berbagai dokumen sejarah berkat dukungan Microsoft.
Dalam kunjungannya, Trump bertanya kepada Roosevelt versi AI apakah pembangunan Terusan Panama merupakan pencapaian terbesarnya. AI Roosevelt menjawab bahwa proyek tersebut memang menjadi salah satu prestasi paling membanggakan, namun juga menyoroti keberhasilannya dalam pembangunan taman nasional, reformasi kesehatan, serta kebijakan Square Deal. Setelah sesi itu, Trump mengklaim telah berbicara langsung dengan Theodore Roosevelt, meski potongan pernyataannya sempat beredar luas di media sosial sebelum diketahui yang dimaksud adalah interaksi dengan teknologi AI.
Penggunaan AI dalam Berbagai Konten Politik
Bukan hanya video, Trump juga menggunakan AI dalam berbagai bentuk konten lainnya. Sebagai contoh, awal pekan ini ia mengunggah ilustrasi seekor elang emas raksasa yang menempel di Balkon Truman Gedung Putih, sebagai hadiah peringatan 250 tahun kemerdekaan AS. Gambar yang sama turut dibagikan oleh akun resmi, menunjukkan bagaimana teknologi AI digunakan untuk menciptakan visual yang menarik perhatian publik.
Penggunaan teknologi ini memicu diskusi tentang dampak AI terhadap kepercayaan masyarakat terhadap informasi politik. Meskipun Trump menegaskan bahwa video dan gambar tersebut dihasilkan oleh AI, tetapi tidak semua orang menyambut dengan tangan terbuka. Beberapa menyebutkan bahwa penggunaan AI bisa menjadi alat untuk memperkuat narasi politik atau mengganggu kredibilitas pihak lawan.
Perkembangan Regulasi AI di AS
Dalam konteks ini, perhatian terhadap regulasi AI di AS semakin meningkat. Pemerintahan Trump terus menguji kemampuan teknologi ini, baik dalam bentuk deepfake maupun karya lainnya. Meski begitu, penegakan aturan masih tergantung pada komitmen politik dan kecepatan respon pihak berwenang. Trump Derangement Syndrome menjadi salah satu contoh yang menarik, karena menggambarkan bagaimana kecemburuan terhadap Trump bisa dianalisis melalui lensa kesehatan mental.
Konten AI yang dibagikan oleh Trump tidak hanya menyoroti kekuatannya dalam memanipulasi informasi, tetapi juga menggambarkan perubahan dalam cara komunikasi politik. Dengan memanfaatkan teknologi, ia mencoba menciptakan narasi yang lebih menarik dan mengakses audiens dengan cara yang berbeda. Namun, keberhasilan ini juga menimbulkan pertanyaan: apakah AI bisa menjadi alat untuk membangun atau merusak kepercayaan publik?
Refleksi Terhadap Dinamika Politik Modern
Dengan adanya video dan konten AI lainnya, Trump mencerminkan adaptasi terhadap perubahan digital yang terus berlangsung. Pemimpin politik yang selama ini dikenal dengan gaya berbicara khasnya, kini memanfaatkan teknologi untuk menjangkau pendukung dan menghadapi kritikus. Namun, pertanyaan tentang transparansi dan etika penggunaan AI tetap menjadi isu utama. Apakah penggunaan teknologi ini bisa diterima selama tidak mengandung kebohongan yang jelas, ataukah ia akan menjadi bahan kontroversi baru?
Dalam perkembangan terakhir, perdebatan seputar AI tidak hanya terbatas pada konten Trump. Banyak pihak mulai menyoroti potensi teknologi ini dalam mengubah cara orang memproses informasi politik. Dengan kemampuan meniru wajah dan suara, AI bisa menciptakan realitas alternatif yang sulit dibedakan dari kehidupan nyata. Kehadiran Trump derangement syndrome dalam bentuk video AI menjadi contoh nyata bagaimana teknologi bisa digunakan untuk membangun atau merusak reputasi seseorang dalam ruang publik.
