Nusantara

Latest Program: Anggota DPRD TTU Tepis Tuduhan Intimidasi Picu Dokter Icha Bunuh Diri

Anggota DPRD TTU Tepis Tuduhan Intimidasi Picu Dokter Icha Bunuh Diri Latest Program - Kupang, Beritasatu.com – Dua anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

Desk Nusantara
Published Juli 5, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Anggota DPRD TTU Tepis Tuduhan Intimidasi Picu Dokter Icha Bunuh Diri

Latest Program – Kupang, Beritasatu.com – Dua anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Teres Lasaka dari Partai Golkar dan Nobertu Bani dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), membantah tuduhan bahwa mereka melakukan intimidasi terhadap Eliza Princila Utami Pakaenoni, seorang dokter yang meninggal dunia diduga akibat bunuh diri. Penyangkalan ini disampaikan oleh Bildad Thonak, ketua tim kuasa hukum kedua anggota DPRD tersebut, saat ditemui secara terpisah, Sabtu (4/7/2026). Bildad menegaskan bahwa kematian dokter Icha bukan disebabkan oleh tindakan intimidasi, melainkan oleh faktor-faktor lain yang belum terungkap.

Proses Penyelidikan yang Dilakukan

Bildad mengungkapkan bahwa tim kuasa hukum telah melakukan pengumpulan bukti serta data primer terkait kejadian di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Leona Kefamenanu pada 13 Juni 2026. Ia menjelaskan, kliennya telah diperiksa oleh Badan Kehormatan (BK) DPRD TTU dan Polres TTU sebagai bagian dari penyelidikan terhadap dugaan intimidasi. “Kami sudah cukup mengumpulkan bukti-bukti dan data yang relevan saat peristiwa terjadi,” kata Bildad dalam pernyataannya. Selain itu, ia menyatakan bahwa surat pengaduan dokter Icha juga telah diberikan kepada BK DPRD TTU, yang menjadi dasar investigasi ini.

“Tidak ada narasi-narasi yang sekian lama beredar ke publik,” tambah Bildad.

Bildad berjanji akan terus memperkuat bukti-bukti yang telah dikumpulkan, dengan tujuan membuka proses penyelidikan secara transparan. Ia menekankan bahwa ada upaya untuk menghindari pihak-pihak yang dikambing hitamkan agar kasus ini tidak dianggap sebagai bunuh diri yang disebabkan oleh tindakan hukum tertentu. “Kami akan mendorong penyelidikan ini berjalan luas, sehingga fakta-fakta bisa terang,” ujarnya. Menurut Bildad, kasus ini perlu dipertimbangkan secara menyeluruh untuk mengungkap sebab-sebab utama di balik keputusan dokter Icha mengakhiri hidupnya.

Peristiwa yang Memicu Kontroversi

Dokter Icha meninggal dunia pada Jumat (26/6/2026), yang menimbulkan perhatian publik karena sebelumnya ia diduga menjadi korban intimidasi saat bertugas di RS Leona. Kasus ini bermula ketika ia menangani pasien yang mengalami gigitan ular. Penanganan medis yang dilakukannya disebut-sebut menjadi sumber perdebatan, hingga muncul dugaan bahwa beberapa anggota DPRD TTU melakukan tindakan intimidasi terhadap korban.

Menurut informasi yang beredar, kejadian tersebut berdampak pada kondisi psikologis dokter Icha, yang akhirnya memicu pertimbangan serius dari aparat kepolisian. Polres TTU bersama Polda NTT intensif menginvestigasi dengan memeriksa saksi-saksi dan mengumpulkan alat bukti untuk memperjelas rangkaian peristiwa sebelum kematian Icha. Polisi menegaskan bahwa penanganan kasus dilakukan secara profesional, objektif, dan transparan, serta akan terus mengungkap fakta-fakta terkait.

Konteks dan Tanggapan Publik

Kematian dokter Icha menjadi sorotan masyarakat karena menimbulkan pertanyaan tentang hubungan antara kehidupan profesional dan tekanan dari pihak tertentu. Bildad Thonak menambahkan bahwa ia percaya ada faktor lain yang memengaruhi keputusan dokter Icha. “Dugaan intimidasi mungkin menjadi salah satu faktor, tetapi bukan penyebab utama,” jelasnya. Ia juga mengingatkan bahwa penyelesaian kasus ini tidak hanya berdampak pada kedua anggota DPRD, tetapi juga pada kepercayaan masyarakat terhadap proses hukum yang adil.

“Kami sudah mengumpulkan bukti-bukti dan kami akan mendorong proses ini terbuka luas, sehingga jangan ada pihak-pihak yang dikambing hitamkan hanya karena untuk menutupi perbuatan-perbuatan yang dilakukan atau pilihan hukum, yang mana pilihan hukum itu bunuh diri,” ungkap Bildad.

Dalam beberapa hari terakhir, publik terus memantau perkembangan kasus ini. Beberapa pihak menilai bahwa tuduhan intimidasi bisa menjadi alat untuk menutupi kesalahan yang sebenarnya terjadi di lingkungan rumah sakit atau dalam proses pelayanan medis. Bildad menegaskan bahwa tim kuasa hukum siap mengungkap fakta-fakta yang telah dikumpulkan dalam waktu dekat. “Teman-teman bersabar dan menunggu saja karena ada banyak kejutan dalam kasus ini,” pungkasnya.

Perspektif dan Harapan Masyarakat

Peristiwa kematian dokter Icha dianggap sebagai momentum untuk mengevaluasi sistem pengawasan di lembaga legislatif. Banyak warga mengharapkan klarifikasi yang jelas dari pihak-pihak terkait, agar tidak terjadi misinterpretasi atau persepsi negatif yang tidak berdasar. Sebagai anggota DPRD TTU, Teres Lasaka dan Nobertu Bani telah mendatangi kantor advokat Bildad Thonak di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk meminta pendampingan hukum. Langkah ini dilakukan karena keduanya merasa tidak mendapatkan dukungan dari partai masing-masing dalam menghadapi tuduhan yang dianggap tidak adil.

Kasus intimidasi terhadap dokter Icha juga memicu perdebatan mengenai tanggung jawab lembaga legislatif dalam memastikan keadilan bagi anggotanya. Beberapa aktivis menyatakan bahwa ada potensi konflik kepentingan yang tersembunyi dalam proses penegakan hukum. Meski demikian, Bildad menegaskan bahwa bukti-bukti yang telah dikumpulkan akan menjadi dasar untuk menjawab semua pertanyaan tersebut. “Kami akan memastikan fakta tidak disalahartikan atau dipolitisasi,” tutur Bildad.

Peluang dan Tantangan di Depan

Kemungkinan penyelesaian kasus ini akan menjadi bahan pertimbangan bagi masyarakat dalam menilai kinerja lembaga legislatif. Bildad menyatakan bahwa tim hukum siap menghadapi semua tantangan, termasuk tekanan dari berbagai pihak yang ingin mengarahkan fokus ke kejadian lain. Ia berharap bahwa proses ini bisa berjalan lancar, dan fakta-fakta yang mendasari akan terungkap secara utuh.

D

Leave a Comment